
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Steven mempersilahkan Dexter untuk masuk ke dalam apartemennya. Lelaki itu benar-benar sudah berada di Seoul sekarang dengan sebuah koper besar yang didorongnya.
"Emang gila" ucap Steven untuk kesekian kalinya.
Steven benar-benar tidak menyangka jika Dexter menepati ucapannya dan sudah berada dihadapannya sekarang.
Melihat Steven yang masih memakinya, Dexter hanya bisa tertawa.
"Gue abis perjalanan jauh, dikasih minum kek ini malah dikasih ceramah."
Steven mendengus kesal. "Gue nggak heran lagi kalau lo ngelakuin hal yang diluar akal sehat manusia."
Mendengar hal itu Dexter pun tertawa. "Kesya udah tidur?" tanya nya mengalihkan pembicaraan.
Steven terdiam sebentar lalu menatap Dexter dengan wajah serius. "Ada yang perlu gue kasih tau ke lo, hal yang cukup penting. Lo diminta jangan teriak apapun alesannya."
"Sepenting itu?" tanya Dexter seraya terkekeh pelan.
Saat baru saja Steven hendak membuka suara, tiba-tiba terdengar tangisan baby Ello yang membuat semuanya terdiam.
Deg.
"Anjing! Anak siapa?!" teriak Dexter dengan raut wajah terkejutnya seraya berlari ke sumber suara.
Dengan perasaan campur aduk entah itu terkejut, marah, dan kesal, Dexter pun berlari dan membuka ruangan-ruangan yang ada di apartemen Steven sehingga ia menemukan kamar Kesya.
Siapa yang tidak terkejut melihat Kesya dengan wajah yang masih setengah sadar sedang menggendong bayi berusia kurang lebih dua bulan. Dexter terdiam namun kakinya seketika lemas ketika melihat momen itu.
Kesya pun yang melihat keadaan seolah dipergoki melakukan hal aneh hanya bisa tersenyum canggung. Ia tau lelaki dihadapannya ini bisa saja memukul siapapun ketika pikiran negatif muncul memenuhi otaknya.
"Ke—"
"Ssttt, Ello tidur dulu ya" ucap Kesya pelan seraya kembali menepuk-nepuk pantat sang anak membuat Dexter terdiam seketika.
Kesya tau jika Dexter mempunyai banyak pertanyaan, namun Kesya lebih mementingkan baby Ello yang sudah hampir tertidur nyenyak. Maka dari itu, ia akan menidurkan anaknya terlebih dahulu sebelum menjelaskan semuanya kepada Dexter.
Bayi mungil itu pun juga seolah mengerti keadaan hingga tak butuh lama baginya kembali tertidur nyenyak. Kesya pun segera menidurkannya di tempat tidur.
"Udah, mau ngobrol dimana?" tanya Kesya setelah ia berada dihadapan Dexter yang masih terdiam.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat dan bisa dipastikan bahwa itu adalah Boy.
"Kenapa?" tanyanya seraya menggosok sebelah matanya membuat semua orang tau bahwa dirinya terbangun dari tidur.
Steven yang melihat keberadaan Boy pun langsung mendorongnya untuk mendekati tempat tidur baby Ello. "Pas banget ada bapaknya. Lo temenin Ello dulu soalnya gue dan Kesya mau jelasin semuanya ke Dexter."
"Anjing?! Lo ngehamilin adek gue?!"
Ucapan Dexter seolah tertahan karena ia tidak ingin baby Ello kembali terbangun. Namun, bisa dilihat dari tatapannya ketika melihat Boy, benar-benar menyeramkan.
__ADS_1
Plak
Setelah memukul punggung Dexter, Kesya segera menariknya keluar dari kamar. "Makanya gue mau jelasin."
"Harusnya Boy gentle dong, dia yang jelasin disini."
"Bukan Boy, anjing! Aelah lo mah emosi duluan bikin gue pengen gebukin lo."
Steven menghela nafas berat ketika melihat sifat Dexter yang benar-benar tidak jauh dari Rey.
"Gue yang jelasin semuanya. Lo diminta untuk tetap diam, jangan sampai Ello bangun lagi."
Seolah dihipnotis, Dexter benar-benar terdiam seketika.
"Ello adalah titipan Tuhan yang paling berharga buat gue.."
Ada jeda sebentar sebelum Kesya kembali melanjutkan ucapannya.
"Seorang anak yang bahkan nggak pernah liat muka orang tuanya.."
Raut wajah Dexter berubah seketika ketika mendengar ucapan Kesya.
"Key.. dia anak an—"
"Ello anak gue. Sampai kapanpun akan tetap jadi anak gue. Gue nggak peduli omongan orang yang mungkin bakal mikir gue ngelahirin anak haram, gue nggak peduli orang mikir gue hamil duluan, sampai kapanpun dia tetap anak gue."
"Bokap Ello pergi duluan sebelum liat muka anaknya yang ganteng. Nyokap nya pergi setelah minta Kesya jadi wali Ello."
Steven pun mencoba untuk membantu menjelaskan agar Dexter mengerti.
Steven mengangguk. "Dua bulan yang lalu, Kesya pernah liburan ke Cambridge nyusul Devan. Tapi, baru banget dia injak tuh kota, nyokap Ello kecelakaan tepat di depan Kesya. Beruntung banget disana ada Boy yang tau-taunya lagi liburan juga, jadi Boy deh yang selama ini bantuin Kesya."
"Kenapa lo nggak minta tolong ke gue?" tanya Dexter menatap Kesya yang juga sedang menatapnya.
Kesya menggeleng pelan. "Gue tau lo sangat sibuk dengan tugas akhir. Kalau pun gue nggak bisa, gue pasti cari lo."
"Sampai sekarang gue masih dibikin speechless sama kelakuan lo. Hampir sempurna" ucap Dexter bangga.
"Gue cuman ngelakuin apa yang bisa gue lakuin aja."
"Semua keluarga udah tau?" tanya Dexter yang membuat Steven mengangguk pelan.
"Gue mau marah karena mungkin gue orang terakhir yang tau. Tapi, gue nggak bisa marah karena gue tau lo pasti punya alesan. Gue bangga, Key!"
"Lo kebagian jatah nama Eyang, Dex.."
"****! Yakali gue cakep gini dipanggil Eyang?! Pokoknya gue harus yang paling keren!"
"Udah abis diborong semua."
"Boy dipanggil apa?"
"Uncle atau Om aja katanya."
"Yang lain?"
"Mas Raka dan Kak Gab dipanggil Ayah, gue dan Brother dipanggil Papa, Rey dan Yera dipanggil Papi."
__ADS_1
"Nah, gue Da—"
"Daddy nggak termasuk" ucap Kesya tiba-tiba.
"Emang kenapa?"
"Khusus buat lakinya" bisik Steven pelan.
Dexter mengerutkan keningnya heran. "Loh? Emang Kesya udah punya cowok? Kan jomblo."
Mendengar hal itu, tentu saja Kesya langsung naik darah.
"Apa lo butuh cermin segede cintaku padamu, Tuan Ravindra?! Ngaca dikit kek, ngatain jomblo padahal sendirinya juga karatan!"
Klek
"Jangan ribut tar Ello bangun."
Tiba-tiba terlihat kepala Boy yang keluar dari balik pintu kamar membuat Kesya seketika terdiam karena sadar bahwa suaranya cukup nyaring.
"Mampus noh laki lo marah" ucap Steven mengejek.
Dexter kembali mengerutkan kening. "Kesya dan Boy?!"
"Gue aja yang ngejodohin keduanya. Lagian, mesra mulu di depan gue."
"Oh bagus deh, gue setuju aja kalau sama Boy."
Kesya mendengus kesal mendengar keduanya. "Enak banget ngejodohin orang, nyari cewek sana" gerutu Kesya dengan kesalnya.
"Cari buat gue."
"Nitip."
"Heh dikira nyari pasangan itu gampang?!"
Klek
Kesya seketika terdiam ketika mendengar pintu kamar yang terbuka karena dipastikan Boy akan kembali menegurnya.
"Hehehe maaf Kak Boy. Bang Stev dan Dexter ngeselin" ucap Kesya pelan.
Melihat Kesya yang sampai menunduk karena takut dimarahi, Bot hanya bisa menghela nafas.
"Mampus."
"Makanya punya mulut tuh nggak usah dijadiin toa."
Karena tidak ingin Boy keluar lagi, Kesya hanya menatap kedua kakaknya dengan tatapan mematikan.
"Run bestie ada singa."
*
*
*
__ADS_1