
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Kaki Devan benar-benar lemas ketika mendengar ucapan bocah itu yang terdengar jelas olehnya. Dipikirannya sudah ada beribu macam pertanyaan tentang siapa bocah kecil itu? Mengapa ia memanggil Boy dengan panggilan Daddy? Mengapa seluruh keluarga Kesya terlihat biasa saja bahkan terlihat sangat dekat dengan bocah itu? Apa yang tidak ia ketahui selama ini?
Devan berjalan perlahan mendekati keluarga Kesya yang ternyata juga menyadari kehadirannya. Bagaimana dengan Raka dan Rey? Mereka benar-benar berbakat menjadi aktor karena akan bersikap biasa saja dengan Devan dihadapan seluruh keluarga mereka.
"Udah datang, Dev?" Melly membuka suara saat melihat Devan berjalan mendekati mereka.
Devan mencium tangan Melly dan Aldino lalu berdiri di dekat Asyera.
Sebenarnya, ia benar-benar canggung jika harus bertemu seluruh keluarga Kesya seperti ini. Ia tidak punya teman mengobrol kecuali Asyera sendiri. Ia bahkan bisa merasakan tatapan yang menusuk dari Rey, Steven, dan Dexter.
"Devan datang kemaren, Tante" jawab Devan seadanya.
"Gimana hubungannya dengan Kesya? Ada rencana mau lanjut ke tahap yang serius?"
Ah, pertanyaan Aldino membuat Raka, Rey, Steven, Dexter, bahkan Boy seketika melotot.
Devan tersenyum canggung. "Dalam Nama Yesus, Om. Devan pasti mau yang terbaik."
Ello yang mendengarnya pun berbisik dengan Boy. "Daddy, who is that?" (Daddy, siapa itu?)
Bisikan Ello ternyata masih bisa didengar oleh yang lainnya.
"Ello kok masih gendong aja sama Daddy nya? Kan udah gede masa nggak malu sama Yara." Dexter seolah mengalihkan topik pembicaraan.
"Ayo salim dulu sama Om Devan."
Setelah mendengar ucapan Aldino, Ello segera turun dan bersalaman dengan Devan. "My name is Excello. Nice to meet u, Om Devan." (Nama ku Excello. Senang berjumpa dengan mu, Om Devan.)
"Pintar banget. Kamu umur berapa?" Wajah ceria Ello membuat Devan tanpa sadar langsung mengagumi bocah itu.
__ADS_1
Ello mengangkat empat jari tangannya, tak lupa dengan senyum manis yang membuat Devan lagi-lagi mengagumi bocah ini.
"Anak lo, Boy?" tanya Devan tertawa.
Ello mengangguk cepat. "My Dad is Daddy Boy and my Mom is Mommy Sya." (Ayahku adalah Daddy Boy dan Ibuku adalah Mommy Sya.)
Deg.
"Hah?!"
"Why?" (Kenapa?) Ello mengerutkan keningnya heran ketika melihat Devan yang seolah tidak percaya dengan ucapannya.
"Do u want to have a snack with Daddy?" (Apakah kamu ingin makan camilan dengan Daddy?) Seolah tau bahwa mereka akan menjelaskan pada Devan, Boy segera mengambil alih Ello dan membawanya sedikit menjauh karena tidak ingin anaknya mendengarkan ucapan mereka.
Setelah kepergian Boy dan Ello, Devan menatap Melly dan Aldino secara bergantian seolah meminta mereka untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Sebelum membuka suara, Melly menghela nafas berat karena jujur saja, ia pun berat untuk mengingat fakta yang terjadi. "Ello adalah anak angkat Kesya selama empat tahun yang lalu. Saat libur kelulusan SMA, Kesya pergi ke Cambridge untuk bertemu denganmu namun ia malah melihat hal buruk yang membuatnya trauma sampai sekarang. Kecelakaan Nyonya Emeli yang sedang hamil besar terjadi begitu saja dihadapan Kesya hingga membuatnya segera membantu Nyonya Emeli agar bisa dirawat dengan baik di rumah sakit.
Setelah Ello lahir, Nyonya Emeli menghembuskan nafas terakhirnya akibat pendarahan yang sangat banyak sehingga membuatnya tidak bisa bertahan. Namun, sebelum itu ia meminta Kesya untuk membantunya mengasuh Ello karena ia tidak memiliki siapapun lagi. Keluarganya tidak ada dan suaminya sudah pergi saat kandungannya masih muda."
Devan terdiam mendengar cerita Melly. Hatinya merasa sangat bersalah ketika sempat berpikir negatif tentang bocah itu padahal ternyata hidup Ello benar-benar menyedihkan. Seorang anak yang bahkan tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Seorang anak yang tidak mengetahui bahwa dirinya sedang tumbuh dalam keluarga yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya.
Ucapan Aldino kembali membuat Devan terdiam. Pikirannya kembali pada beberapa tahun yang lalu dimana ia pernah menelepon ke ponsel Kesya dan yang mengangkat panggilannya adalah Boy. Devan masih ingat sekali bahwa saat itu dirinya memarahi Boy dan mengira mereka berselingkuh. Ah, Devan kembali merasa bersalah pada Boy.
"Maaf, Devan nggak tau" ucapnya pelan.
*****
Beberapa saat kemudian, terlihat semua orang yang berada di dalam aula mulai keluar bersama keluarga mereka. Ternyata, acara wisuda telah selesai dan akan dilanjutkan dengan sesi foto-foto dengan keluarga masing-masing.
Kesya, Citra, dan Gabriel segera menghampiri seluruh keluarga yang sedang menunggu mereka karena hanya diperbolehkan dua wali saja yang bisa menemani mereka di dalam.
Deg.
Devan melihat jelas warna kebaya Kesya yang ternyata sangat mirip warnanya dengan pakaian milik Boy dan Ello sehingga orang-orang bisa saja salah paham dengan mereka.
Bagaimanapun juga, Devan hanya seorang lelaki yang sudah menempatkan hatinya sepenuhnya pada gadis kecil itu. Tentu saja ia merasa sangat cemburu ketika melihat Kesya terlihat lebih akrab dengan lelaki lain.
__ADS_1
"Mama tau nggak? Ternyata Bang Stev itu diem-diem jadian sama Widya" ucap Kesya heboh saat mereka baru saja berkumpul bersama.
"Loh? Kan udah jalan satu tahun, Nak."
"What?! Kok Kesya nggak tau?! Apa cuman Kesya sendiri yang nggak tau?! Ih jahat banget."
Kesya benar-benar kesal ketika melihat respon keluarganya yang biasa saja saat ia membawa berita heboh. Bagaimana tidak? Hanya dirinya sendiri yang ternyata baru mengetahui tentang Steven yang mempunyai hubungan dengan sahabat dekatnya, Widya. Itu pun jika Kesya tidak memperhatikan lock screen Widya yang ternyata selama ini adalah foto punggung Steven, sepertinya Kesya tidak akan pernah mengetahui hal itu.
"Papa kira kamu udah tau karena kan kata Abang itu sahabat mu" ucap Aldino yang membuat Kesya menggeleng.
"Widya kan sama gila nya dengan Kesya kalau ngehalu, jadi Kesya kira tuh lock screen nya foto punggung idol taunya pas diperhatiin secara detail eh fotonya Bang Stev."
"Dia heboh sendiri pasti kan, Kak" bisik Rey dengan Gabriel yang berdiri disebelahnya.
Gabriel mengangguk pelan. "Untung nggak sampai dikeluarin aja sih."
"Oh iya astaga maaf, Kak. Jadi nggak nyapa Kak Devan gara-gara berita Bang Stev." Seolah sadar dengan kehadiran Devan, Kesya pun segera berjalan dan mendekati Devan.
"Mau foto sekarang? Mumpung Wila masih anteng."
"Ayo. Kita foto-foto dulu, sayang banget ini udah cakep malah nggak ada yang ngajak foto" ucap Kesya yang mengundang gelak tawa semuanya.
Saat semuanya selesai berfoto bersama dan menghabiskan waktu cukup lama, mereka pun hendak meninggalkan area kampus dan berpindah tempat ke sebuah restoran ternama untuk merayakan kelulusan Kesya.
"Why don't Mommy and Daddy take a picture together? Ello wants a family photo." (Mengapa Mommy dan Daddy tidak berfoto bersama? Ello mau foto keluarga.)
Ucapan Ello membuat langkah kaki semuanya terhenti. Boy yang juga mendengarnya merasa tidak enak dengan Devan. Tidak ada yang mengajari bocah itu berbicara seperti itu. Kalimat itu keluar sendiri dari mulut Ello.
"Because Mommy is looking really pretty right now, let's take a photo with Ello and Daddy." (Karena Mommy terlihat sangat cantik sekarang, ayo berfoto bersama Ello dan Daddy.)
Akhirnya, mau tak mau Kesya dan Boy menuruti ucapan sang anak dengan perasaan tidak enak karena diawasi oleh Devan.
Rey mengambil beberapa foto dengan kamera miliknya dan ada satu foto yang membuatnya terdiam seketika dimana Ello meminta Boy dan Kesya mencium pipinya. Foto itu benar-benar terlihat seperti keluarga kecil yang sangat bahagia.
*
*
__ADS_1
*