Tentang Kesya

Tentang Kesya
Kiara Pergi


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanyađŸ„°.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membacađŸ„°đŸ˜˜.


*****


Malam berikutnya setelah Gabriel menjenguk Kiara, entah kenapa dan ada alasan apa Kiara tiba-tiba memaksakan diri untuk menjenguk keadaan Kesya hingga memaksakan kedua orang tuanya untuk mengantarkannya.


Saat pintu ruangan terbuka, semua orang yang ada di ruangan tersebut benar-benar terkejut melihat siapa yang hendak berkunjung.


“Loh? Kak Kiara?” panggil Asyera yang melihat kakak keduanya berjalan mendekati ranjang rumah sakit tempat dimana Kesya berbaring dengan wajah teduhnya


“Key, apa kabar?” gumam Kiara pelan seraya mengelus wajah adik yang benar-benar mirip dengannya


“Dia ngapain?”. Terdengar bisikan Rey yang seakan tidak suka dengan keberadaan Kiara


Boy langsung menginjak kaki Rey seolah memintanya untuk berhenti berbicara karena akan membuat Kiara salah paham nantinya.


“Key, aneh ya rasanya saat gue yang emang nggak pernah dekat sama lo tiba-tiba nggak tau malu gini megang lo?”. Kiara terkekeh pelan sebelum melanjutkan ucapannya


“Gue bener-bener minta maaf karena gue selalu rebut apapun yang jadi alasan kebahagiaan lo. Ketika gue liat lo dengan mudah dekat sama siapapun, itu bikin gue iri dan marah kenapa gue harus jadi anak yang nggak mudah beradaptasi hingga gue nggak punya siapa-siapa selain Mami dan Papi. Dan ketika gue liat lo dapat semua kasih sayang dari yang lain, disitu puncak kebencian gue ke lo.”


Kiara menghela nafas berat seolah menahan rasa sakit namun ia tetap memaksakan dirinya untuk mengungkapkan semua yang ia rasakan.


“Sebenarnya gue terlalu malu saat liat lo yang masih tetap baik ke gue padahal gue udah jadi orang yang jahat banget buat lo. Harusnya, lo nggak usah baik ke gue karena itu bikin gue semakin terlihat jadi orang brengsek”


“Key, ayo bangun. Gue janji setelah lo sadar, gue nggak akan pernah rebut semua kebahagiaan lo lagi”


“Kak..” ucap Kiara menatap Gabriel yang diam mematung


“Kiara mau titip pesan ke Devan, tolong bilang Kiara minta maaf karena udah dengan bodohnya suka pacar adek Kiara sendiri dan tolong Devan jaga Kesya”


Kiara perlahan menatap satu per satu orang-orang yang ada di ruangan tersebut


“Kak Dio, aku minta maaf untuk semuanya. Kak Steven, maaf karena selalu bikin Kesya nangis. Rey, sorry karena gue selalu rebut kebahagiaan Kesya. Dek, maaf karena gue nggak pernah perhatiin lo. Dan Boy, senang kenal sama lo.”


Kiara berbalik menatap Mami Papi nya yang hanya diam. “Mami, Papi, jangan pernah salahin Kesya lagi. Jangan pernah nyakitin Kesya lagi. Dan tolong.. anggap Kesya ada..”


“Key, gue selalu mendoakan semoga lo bahagia dengan cara lo sendiri. Gue pamit ya, Key..


Dan semuanya.. Kiara pamit..”

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu, Kiara tiba-tiba merasakan sakit yang sangat luar biasa di perutnya dan detik kemudian ia merasakan badannya langsung ambruk


“Kiaraaa!!!” teriak Franklin yang terkejut melihat anak kesayangannya pingsan


Dengan cepat Franklin menggendong tubuh Kiara lalu berlari membawanya menuju UGD diikuti oleh Citra dan Gabriel.


Dio yang melihat hal itu, langsung mengabari orang rumah lalu meminta semuanya untuk tetap di ruangan Kesya sedangkan dirinya akan menyusul Gabriel.


“Telpon Mas” ucap Rey memerintahkan Steven dan tidak menunggu waktu lama, Steven langsung menelpon Raka


“Halo, ada apa bang?”


“Mas dimana?”


“Kesya kenapa?”


“Nggak, Kesya aman. Kiara yang tiba-tiba pingsan setelah menjenguk Kesya”


“Mas segera ke UGD”


Panggilan pun terputus.


*****


“Bagaimana?” tanya Mama Melly saat dirinya dan Papa Aldino baru saja tiba di rumah sakit setelah mendengar kabar bahwa Kiara tiba-tiba pingsan


“Mas Raka belum keluar, Ma” ucap Dio memberitahu


Sedangkan Franklin dan Citra hanya bisa diam dengan Citra yang sudah menangis di pelukan suaminya


“Kak, semuanya baik-baik aja, percaya sama gue”. Dio mendekati Gabriel dan menepuk bahu kakak sepupunya tersebut


Tak lama kemudian, Mas Raka dan beberapa dokter juga perawat keluar dengan raut wajah yang sangat tak ingin keluarga pasien lihat


“Bagaimana dengan putri saya?” tanya Franklin dengan cepat saat melihat tim medis sudah keluar setelah beberapa saat berada di dalam ruangan UGD


“Maaf, kami tidak bisa berbuat banyak, Pak. Pasien atas nama Kiara dinyatakan meninggal dunia”


Bak di sambar petir di siang bolong, semuanya benar-benar terkejut mendengar kabar buruk yang benar-benar tak ingin mereka dengar.


“Tidak, bagaimana mungkin?! Tolong lakukan sesuatu untuk putri saya”


“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi karena ginjal yang sudah hilang fungsi secara keseluruhan, maka pasien tidak bisa bertahan”

__ADS_1


“Pi.. Kiara, Pi.. Nggak mungkin.. Ini nggak mungkin, kan?”. Citra yang histeris saat mendengar anaknya sudah pergi langsung menangis dan tak lama kemudian dirinya ambruk


“Gab akan bawa Mami ke ruangan Kesya, setelah mengantar Mami, Gab akan menyusul” ucap Gabriel yang langsung menggendong Citra dan mengantarnya menuju ruangan Kesya diikuti dengan Mama Melly


Sedangkan Papa Aldino dan Dio juga Raka langsung membantu Franklin untuk mengurus semuanya. Karena mereka mengerti jika Franklin tidak bisa mengurus semuanya sendirian terlebih saat ini dirinya mengalami dukacita yang amat mendalam.


Klek


Rey terkejut melihat Citra yang sudah pingsan didalam pelukan Gabriel sehingga ia dengan cepat membantu membereskan sofa agar bisa membaringkan Citra disana


“Ada apa, Ma?” tanya Rey terkejut apalagi melihat Mama nya sudah menangis


“Kiara.. Kiara sudah pergi..”


“Ya Tuhan..”


“Gab kesana lagi ya, Ma. Tolong jaga Mami”. Gabriel langsung berlari keluar agar membantu semuanya disana


“Jangan semuanya kesana, ada juga yang disini temenin Mama dan Tante Citra”


“Gue aja disini, bang.. Kesya juga belum sadar, kan? Masa kita tinggal” ucap Boy yang ingin tetap tinggal menemani Mama Melly menunggu Citra yang masih pingsan


“Gue juga disini aja, lo bisa ikut brother nyusul yang lain” ucap Rey yang meminta Steven untuk ikut pergi dan membantu yang lain disana.


Kembali ke depan ruangan UGD, terlihat semuanya sudah siap dengan Franklin yang masih tidak terima dengan semua yang terjadi. Ia masih menatap tubuh putrinya yang sudah terbujur kaku dengan tatapan sendu.


Selamat jalan, Sayang. Terima kasih sudah menjadi anak Papi.-Franklin


“Semuanya sudah siap, kita kembali ke rumah sekarang” ucap Papa Aldino memberitahu


Semuanya berjalan menuju halaman rumah sakit dimana ambulance sudah menunggu agar mengantarkan Kiara untuk kembali kerumah bersama dengan seluruh keluarga yang hadir untuk diibadahkan.


*


*


*


Selamat jalan, Kiara. Terima kasih sudah menjadi bagian dari cerita ini..


Kami menyayangimu..


*

__ADS_1


*


__ADS_2