Tentang Kesya

Tentang Kesya
Belum Sadar


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Steven dengan cepat berlari menyusuri koridor rumah sakit untuk menemui Kesya yang ternyata masih belum keluar dari ruang UGD


"Key..Kesya..Lo dimana?" teriak Steven meronta-ronta saat melihat raut wajah semua orang yang terlihat sangat cemas


"Stev, sabar..Kesya masih di dalam". Gabriel mendekati Steven seraya mengajaknya untuk duduk bersama


"Ceritain dengan detail" ucap Steven dengan raut wajah dingin membuat Asyera bergidik ngeri karena ia tau Steven sedang menahan emosi


"Devan dijodohin sama Kiara-"


"Anjing"


"Steven" tegur Papa Aldino karena disana masih ada Asyera dan Kirana yang dibawah umur


"Bokap lo minta digebukin atau gimana sih? Gak punya otak banget jadi orang tua"


"Lanjutin, kak" ucap Rey yang juga menahan amarah


"Setelah Papi minta Devan dan Kiara dijodohin, Kesya pamit pergi ninggalin gue dan yang lain karena gue dan Yera debat dulu sama Papi. Nggak lama adeknya Devan yang nyusul Kesya balik ke restoran kasih kabar kalau Kesya kecelakaan"


"Kecelakaan sengaja?"


"Gue belum nyari tau, fokus gue ke Kesya dulu"


"Papa yang akan mengurusnya". Papa Aldino segera ambil alih lalu menelpon seseorang untuk menyelidiki kasus kecelakaan ini


"Gue nggak akan maafin bokap lo kalau terjadi sesuatu sama Kesya"


"Gue sendiri yang akan keluar kartu keluarga kalau Kesya kenapa-kenapa, Stev"


"Gab, tidak boleh seperti itu, nak" ucap Mama Melly memberikan pengertian karena semua orang sedang tersulut emosi


"Nggak, Ma. Kurang ajar banget dia sampai nggak mikirin perasaan Kesya. Toh Kesya bukan anak angkat mereka"


"Nak, sekarang kita fokus pada Kesya saja ya, untuk urusan lainnya Mama dan Papa yang akan bertanggung jawab"


Devan hanya bisa diam mendengar bagaimana khawatirnya orang-orang kepada Kesya


Key, maaf.-Devan


*****

__ADS_1


Tak berapa lama, keluarlah Raka dengan raut wajah yang tak dapat diartikan membuat semua orang menatapnya penuh harap


"Bang". Seketika Steven berdiri mendekati Raka karena tau bahwa ia yang dicari oleh kakaknya


"Donor darah, Mas?"


"Abang bisa sekarang? Kesya kekurangan darah"


"Bisa" ucap Steven mantap


"Tapi, kau sedang kelelahan, bang"


"Sekarang, Mas."


Steven berjalan terlebih dahulu meninggalkan semua orang yang ada di depan ruang UGD menuju ruangan tempat donor darah. Setelah sampai, ia duduk menunggu perawat yang akan mengambil darahnya


"Key..Setelah ini gue janji akan lebih deket sama lo" lirih Steven pelan tanpa sadar air mata kembali mengalir diwajahnya


Ada rasa penyesalan dalam diri Steven karena akhir-akhir ini ia sangat sibuk sehingga hampir tak pernah lagi berjumpa dengan sang adik


Steven memang sedikit menyesal jika harus terbang ke luar negeri duluan meninggalkan Kesya sendirian di Indonesia. Namun, jika ia tak pergi maka Kesya akan semakin memarahinya


"Tuhan, kali ini aja tolong.."


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuklah Boy yang juga duduk disebelah Steven


"Loh? Lo ngapain Boy?"


"Boy, darah gue dan Kesya langka" ucap Steven pelan


"Dan gue salah satunya" jawab Boy tersenyum


"Boy.."


"Gue udah bilang ke Mas Raka, awalnya dia nggak mau tapi gue paksa sampai akhirnya dia setuju. Mending lo tunggu Kesya aja, biar gue yang donor darah gue buat dia. Kalau ada apa-apa gue pasti kabarin lo"


Setelah memastikan semuanya akan baik-baik saja, akhirnya Steven mengalah lalu keluar dari ruangan kembali ke depan UGD untuk menemani yang lain menunggu Kesya


Ruang Pengambilan Darah


Raka tiba-tiba masuk ke dalam ruangan menatap Boy yang sudah mempersiapkan diri menyumbangkan darahnya untuk Kesya


"Boy siap?" tanya Raka karena ia mendengar bahwa ini pertama kalinya Boy melakukan donor darah


"Sekarang aja, Mas. Biar Kesya nggak lama nunggu"


Astaga, anak ini benar-benar tulus mencintai Kesya.-Raka


*****

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, semuanya sudah selesai dengan Raka yang sudah menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter membantu sang adik yang menjadi korban kecelakaan hingga mengantar Kesya menuju ruang pemulihan dimana Kesya akan dijaga ketat oleh para tim medis untuk memantau perkembangannya setelah operasi


"Mas izin sebentar, ada pasien yang harus ditangani dengan segera". Raka meminta izin kepada kedua orang tuanya karena memang ia harus menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter juga kepala rumah sakit


"Pergilah, Mas. Ada yang lain disini yang akan menjaga Kesya"


Raka pun pergi setelah berpamitan kepada semuanya.


*****


Pesawat mendarat di bandar udara, membuat para penumpang segera keluar dari dalam pesawat untuk segera bertemu dengan orang-orang yang sudah menunggu kehadiran mereka


Termasuk seorang lelaki yang berjalan dengan tergesa-gesa lalu melihat sekeliling dan mencari-cari orang yang datang menjemputnya


"Bang"


Akhirnya, lelaki itu menemukan orang yang ia cari


"Gimana, Boy?"


"Operasinya kemaren lancar tapi sampai hari ini belum ada perkembangan". Boy melaporkan perkembangan Kesya pada Dio, anak kedua Papa Aldino yang baru saja mendarat di Indonesia karena juga sedang menempuh pendidikan di luar negeri


"Kesya jadian dengan si Devan?"


"Nggak tau, katanya sih nggak, bang"


"Gue kaget awalnya denger mereka deket karena Kesya emang susah banget buat deket sama orang lain terutama cowok". Karena tak tau harus menanggapi seperti apa, Boy hanya tertawa canggung


"Kita langsung ke rumah sakit, bang?". Seketika, Boy mengalihkan pembicaraan


Dio memang sangat lelah karena penerbangan yang memakan waktu berjam-jam sejak kemarin malam hingga sore ini baru tiba di Indonesia namun rasa takutnya lebih besar


"Ke rumah sakit aja"


"Tapi, bang Dio bisa istirahat kok. Kesya gapapa, bang"


"Jujur, gue takut banget Boy.." lirih Dio pelan yang membuat Boy hanya diam namun tak memalingkan tatapannya dari Dio


"Gue takut banget pas denger kabar adek gue kecelakaan.. Gue takut karena gue jauh nggak bisa selalu ada buat Kesya.. Gue takut kalau bakal denger kabar yang buruk selama gue di perjalanan.. Gue takut kehilangan Kesya". Berkali-kali Dio menghela nafas berat dengan air mata yang berusaha ia tahan namun bahu yang bergetar hebat


Boy yang melihat itu pun hanya bisa menepuk pelan bahu Dio. "Bang, Kesya pasti baik-baik aja, gue yakin itu"


Sejak kemarin, tugas Boy hanya memberikan dukungan dan semangat kepada orang-orang agar tak ada yang khawatir dengan keadaan Kesya, bahkan ia lupa untuk memberikan dukungan kepada dirinya sendiri yang sangat khawatir terhadap Kesya


Boy seolah ingin memikul semua rasa khawatir dan takut orang-orang diganti dengan dukungan dan semangat menunggu Kesya sadar. Namun, ia lupa bahwa dirinya sudah menanggung begitu banyak rasa takut orang lain


Gue kangen lo, Key.-Boy


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2