Tentang Kesya

Tentang Kesya
Menguji Iman


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Ada perasaan lega di dalam hati Kesya setelah ia mengucapkan ucapan selamat kepada lelaki yang pernah menjadi alasannya bahagia.


Kesya tidak tau apa keputusannya sudah benar namun tidak ada cara lain selain belajar menerima semuanya. Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang? Ia tidak mungkin merusak perjodohan itu.


Kesya meneguk segelas vodka yang ada di hadapannya. Tidak ada yang tau bahwa dirinya sedang berada di bar untuk yang kedua kalinya. Berkali-kali Kesya meracau, terkadang menangis dan tertawa meratapi nasibnya. Ia seolah bertanya kepada semesta tentang hadiah luar biasa apa yang akan ia dapatkan. Mengapa prosesnya begitu sulit dan menyakitkan?


Saat Kesya sedang menundukkan kepala, tiba-tiba ia merasakan bahunya ditepuk oleh seseorang hingga membuatnya berbalik.


"Sendirian aja nih, mau gue temenin?" tawar lelaki itu.


Kesya memicingkan matanya seolah memperhatikan lelaki yang ada dihadapannya. Ia kira ia mengenal lelaki itu namun tidak.


Kesya menggeleng pelan. "Maaf, gue perlu waktu sendiri."


"Jangan sok jual mahal, gue bawa check in aja lo bakal ketagihan." Tangan lelaki itu perlahan mengelus wajah Kesya yang sudah memerah akibat minuman keras.


Bughh


Saat tangannya hendak turun untuk meraba bagian tubuh Kesya, lelaki itu tiba-tiba terjatuh akibat pukulan keras yang ia dapatkan.

__ADS_1


"Anjing! Nggak usah macem-macem sama cewek gue."


Karena melihat ada keributan, banyak orang yang mengunjungi bar mulai mengerumuni mereka. Ada yang berbisik-bisik bertanya apa yang terjadi, ada juga yang diam-diam mengagumi sosok lelaki yang sedang menahan amarah tersebut karena miliknya sedang diganggu oleh orang.


"Kalau milik lo, lo nggak akan biarin cewek secantik ini keluyuran di bar" ucap lelaki itu tertawa.


Boy mengepalkan tangannya dengan penuh emosi. Jika tidak berpikir lelaki dihadapannya sedang mabuk, bisa dipastikan bahwa lelaki tersebut akan babak belur olehnya.


Setelah memasangkan jaket pada tubuh Kesya, Boy segera menggendong gadis yang sudah mabuk berat tersebut dan membawanya keluar dari bar.


"Lo kenapa lagi sih?" gerutu Boy dengan wajah kesal.


Boy segera melajukan mobilnya menyusuri jalanan malam. Ia sangat penasaran mengapa Kesya bisa berani ke bar lagi dan apa alasan gadis itu mabuk. Untung saja Citra langsung mengabarinya saat itu, jika tidak Boy tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika Kesya sempat dilecehkan oleh orang lain.


Ponsel Boy berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Gabriel. Perlahan, tangannya bergerak untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Udah, Kak. Tapi, kalau gue minta izin buat temenin dia malam ini, boleh..?"


Boy merutuki dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia menanyakan hal itu. Tentu saja Gabriel pasti tidak akan menyetujuinya terlebih Kesya sejak sore sudah keluar dari rumah.


"Nginep aja gapapa, nanti gue kabarin yang lain. Tapi inget, gue percayakan dia sama lo."


Seolah diberikan hadiah satu unit mobil keluaran terbaru, wajah Boy berseri-seri ketika mendengar Gabriel mengizinkannya. Sebenarnya, Boy tidak mempunyai maksud lain, Kesya saat ini sedang mabuk berat yang bisa dipastikan semua keluarganya tidak pernah tau bahwa gadis itu berani ke bar. Jika Boy membawanya dalam keadaan seperti itu, semua orang akan heboh dan Kesya bisa saja diberikan ceramah berjam-jam oleh kakak-kakaknya.


Boy benar-benar terkejut ketika Kesya tiba-tiba duduk di pangkuannya. Gadis itu memeluk Boy dengan sangat erat bahkan menyembunyikan kepalanya di leher Boy.


Untung saja jalanan malam tidak terlalu ramai hingga Boy bisa segera menepikan mobilnya karena dengan posisi seperti ini, ia cukup kesusahan untuk menyetir.

__ADS_1


Tangan Boy bergerak mengelus punggung gadis yang sedang memeluknya dengan sangat erat tersebut. Tiba-tiba Kesya menggoyangkan pinggulnya seolah mencari tempat yang nyaman untuk duduk tanpa memikirkan Boy yang hanya bisa pasrah.


Sialan, jangan pernah lo macem-macem mabuk tanpa ada gue.-Boy.


Cukup lama iman Boy di uji dengan gadis yang sedang mabuk berat itu hingga akhirnya Kesya tertidur dengan posisi masih memeluk lelaki itu. Pelukan yang juga membuat jantung Boy hampir keluar dari tempatnya.


"Anjing anjing anjing!" ucap Boy berkali-kali.


Tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya hanya manusia normal biasa yang tentu saja akan tergoda melihat Kesya sekarang. Untung saja Boy masih bisa menahannya jika tidak, ia sendiri tidak akan tau bagaimana kelanjutan malam ini.


*****


Devan terdiam dengan ponsel yang masih menyala ditangannya. Pikirannya sudah benar-benar kacau sekarang dan ketika membaca pesan itu, Devan semakin menyalahkan dirinya. Andai saja ia tidak pernah masuk ke dalam hidup Kesya maka gadis itu akan baik-baik saja, andai saja ia tidak pernah mengetuk pintu hati Kesya maka gadis itu tidak akan tersakiti olehnya, dan andai saja mereka tidak pernah bertemu maka mungkin Kesya akan bahagia sekarang.


Kak Gabriel


Malam, Dev. Sorry kalau gue ganggu lo malam-malam gini. Sebenarnya gue nggak berhak buat ikut campur sama hubungan lo dan Kesya tapi mengingat yang deket sama lo itu adalah adik gue, nggak salah kan gue kirim pesan ini ke lo? Dev, gue nggak akan ngelawan karena emang faktanya lo pernah jadi orang yang gue percaya buat jagain adik gue, lo pernah jadi alasan adik gue bahagia, dan lo pernah jadi sosok yang sangat amat dicintai sama adik gue, gue akui semua itu. Gue sebagai kakak cuman mau minta tolong, kalau emang dari awal banyak peluang buat adik gue sakit, tolong banget jangan lakuin itu.. setiap adik gue sakit, hati gue lebih sakit ngeliatnya, Dev. Gue udah berusaha semaksimal mungkin buat bikin adik gue bahagia tapi adik gue malah disakitin segitunya. Malam ini, gue sangat amat minta tolong sama lo, tolong pikir semuanya, gue nggak akan bisa ngelepas Kesya ke lo kalau lo adalah alasan hilangnya senyum Kesya. Thanks, Dev. Safe healthy.-Gabriel.


Mengapa semesta sangat jahat sekarang? Devan hanyalah sosok lelaki yang mencintai gadisnya walaupun sempat hadir di benaknya kenyamanan dengan gadis lain, namun lagi-lagi Devan berusaha untuk memperbaiki diri. Ia hanyalah lelaki yang kadang bisa goyah karena pondasi yang kurang kuat, dan sekarang disaat dirinya sedang memantapkan diri, orang tuanya malah memberikan beban yang sangat amat berat untuk ditanggung olehnya.


"Apa emang dari awal gue dan Kesya nggak dikasih kesempatan buat bersama..?" lirih Devan pelan.


Bughh


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2