Tentang Kesya

Tentang Kesya
Kesya dan Perasaannya


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


"Pantes aja Kak Rey pernah ngomong gitu ke gue" ucap Kesya ketika mereka baru saja masuk ke dalam mobil.


Keduanya memang memutuskan untuk segera pulang karena hari semakin larut dan cafe sudah mau tutup.


"Ngomong apa?" tanya Boy seraya menghidupkan mesin dan mengemudikan mobilnya.


Kesya tersenyum tipis seraya menatap lelaki dihadapannya. "Kak Rey pernah bilang ke gue kalau Kak Boy tuh ribet, jadi gue harus mempersiapkan diri kalau mau masuk ke kehidupannya Kak Boy. Dulu gue pernah nanya ribet gimana tapi Kak Rey bilang dia nggak mau kasih tau apapun sebelum Kak Boy sendiri yang bilang."


Ucapan Kesya sedikit membuat Boy terkejut. Bukan tanpa alasan, lelaki itu bahkan tidak menyangka bahwa sahabatnya juga menyadari hal tersebut.


"Kan gue udah bilang, Kak. Sadar atau nggak, banyak banget orang yang berkenan jadi pendengar cerita lo."


Boy tersenyum tipis. "Ternyata selama ini gue yang terlalu menutup diri."


Kesya mengangguk pelan seolah setuju dengan ucapan Boy. "Maka dari itu, kalau gue nggak inisiatif duluan keknya nggak bakal maju-maju."


Ucapan Kesya membuat Boy terdiam seketika. Lelaki itu tau betul apa maksud dari kalimat yang baru saja ia dengar.


*****


Kesya terbangun dari tidurnya ketika mendengar ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari seseorang.


Tangannya bergerak untuk mengambil ponsel yang ada di atas nakas. "Halo?" gumam Kesya pelan tanpa melihat siapa yang menghubunginya pagi-pagi.


"Buset! Lo baru bangun?!" teriak Rey di seberang sana yang membuat Kesya harus menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Lo abis ngapain sama Boy semalem sampai baru bangun?!"


Kesya baru sadar bahwa dirinya memang tidur bersama Boy malam tadi. Setelah puas berjalan-jalan bersama, keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah Om Heru dengan alasan sekalian menjenguk Papa kandung Boy tersebut.


Flashback on

__ADS_1


"Malem, Om" ucap Kesya seraya mencium punggung tangan Om Heru.


Om Heru pun meyambut kedatangan mereka dengan sangat senang terlebih ketika Boy mengabari bahwa mereka akan menginap.


"Om Heru, gimana kabarnya? Maaf, Kesya baru bisa mampir."


Om Heru terkekeh pelan mendengar ucapan gadis yang sejak dulu sangat sopan padanya. "Kabar Om baik. Kesya gimana kabarnya? Kapan-kapan mampir lagi bawa Ello."


"Kabar Kesya baik, Om. Nanti Kesya sering-sering mampir bawa Ello, ya."


"Gini nih, anak sendiri dilupain" celetuk Boy karena Om Heru seolah tidak menanggapi kehadirannya.


Om Heru pun tertawa. "Anak sendiri tapi jarang banget mampir."


"Om Heru serius?! Ih Kak Boy jahat banget sih?! Harusnya sering-sering pulang ke rumah, kasian Om Heru sendirian" ucap Kesya seraya menatap Boy dengan tatapan tajam.


"Wah, Papa bohong banget, kan kemaren Boy abis pulang."


"Iya, pulang setelah hampir satu bulan nggak pernah jenguk Papa sendiri" celetuk Om Heru yang membuat Kesya langsung menatap Boy dengan tatapan tajam.


"Jahat banget sih!"


Karena melihat Boy yang tak bisa berkutik, Om Heru pun tertawa. Sudah lama sekali rasanya ia tak pernah melihat pemandangan seperti ini lagi.


"Yasudah kalian lanjut aja, Papa udah ngantuk banget. Key, Om duluan ya." Om Heru pun pamit untuk segera kembali ke kamarnya.


"Boy, minimal halal-in dulu lah."


Ucapan Om Heru membuat Kesya dan Boy saling tatap dan entah kenapa rasanya suasana tiba-tiba sangat canggung.


Waduh, Papa nih nggak bisa diem juga ternyata.-Boy.


Flashback off.


*****


"Abis Netflix-an maraton drakor terus ngobrol bentar terus tidur."


"Netflix-an doang, kan?! Lo kalau sampai berani gituan duluan, nggak tanggung-tanggung Boy nya bakal gue sembelih."

__ADS_1


"Otak Kak Rey isinya emang kebanyakan yang kotor doang?!"


Rey tertawa. "Oh iya, bukan ini topik yang bikin gue harus nelpon lo pagi-pagi."


"Apa?" tanya Kesya malas.


"Ini gue mode serius banget, harusnya gue tanya ini langsung tapi karena gue udah nggak sabaran nunggu lo pulang jadi gue tanya ini lewat telpon aja dul—"


"Buset harus banget basa-basi?!" gerutu Kesya dengan kesalnya karena ia sendiri sudah tidak sabar ingin mendengar topik yang mengharuskan Rey untuk menghubunginya pagi-pagi.


Rey terkekeh pelan. "Anggap aja persiapan soalnya gue emang beneran serius banget. Oke serius, ini tentang perasaan lo ke Devan, jujur aja sama gue tentang perasaan lo ke dia. Gue bukannya nggak percaya kalau perasaan lo emang udah habis, tapi setelah gue baca berita tadi, gue harus kembali memastikan itu ke lo."


Kesya terdiam sebentar ketika ucapan Rey mulai membuatnya berpikir keras. Apakah sampai saat ini semua perjuangan yang ia lakukan memang belum bisa membuktikan bahwa perasaannya benar-benar sudah habis? Atau apakah memang sampai saat ini semua orang masih memikirkan hal yang sama seperti yang Rey pikirkan? Bukan tanpa alasan, namun yang menanyakan ini adalah Rey, orang yang sangat Kesya percaya dalam hal apapun.


Mendengar Rey bertanya tentang perasaannya membuat Kesya kembali berpikir apakah selama ini semua yang ia lakukan masih belum bisa menjawab pertanyaan Rey dengan jelas? Bukankah Rey sangat mengerti dan paham tentang siapa gadis dihadapannya ini? Rey sendiri harusnya lebih mempercayai Kesya ketika gadis itu dengan lantang mengatakan bahwa ia sudah selesai dengan Devan.


"Kak.." Kesya perlahan membuka suara.


"Key? Kok suara lo jadi serak gitu? Lo nangis?" Rey yang diseberang sana sedikit terkejut mendengar suara Kesya yang berubah.


"Kalau pertanyaan itu sampai muncul di pikiran lo, berarti semua perjuangan gue selama ini sia-sia dong..? Semua yang gue lakuin selama ini belum bisa membuktikan kalau gue emang udah selesai sama Devan.. jujur, gue nggak nyangka banget kalau pertanyaan itu keluar dari mulut lo. Tapi, setelah ini nanya ini, gue jadi berpikir bahwa lo yang orang terdekat gue aja masih ragu, apalagi orang lain, kan?" Kesya terkekeh pelan.


"Key, bukan maksud gue bikin lo jadi mikir gitu, gue ngga—"


"Gue belum selesai, Kak."


Ada jeda sebentar sebelum Kesya kembali membuka suara. "Apa tanpa gue harus menjelaskan lebih lanjut, nggak bisa membuktikan semuanya? Haruskah gue koar-koar bilang ke semua orang kalau perasaan gue beneran udah hilang?"


Rey menggeleng pelan walaupun Kesya tidak bisa melihatnya.


"Gue dan Devan udah bener-bener selesai, Kak. Semua perasaan gue ke dia udah bener-bener habis ditutup dengan perasaan ikhlas ketika gue harus ngerelain dia sama orang lain. Gue rasa, bahkan jauh sebelum Devan dan Dhea dijodohkan, perasaan gue udah mulai perlahan hilang. Nggak ada ruang yang sengaja gue sisain buat Devan karena semuanya bener-bener hilang dan habis dimakan waktu."


"Key.. sorry banget kalau lo nggak nyaman dengan pertanyaan gue, tapi jujur gue nggak ada niatan sedikit pun buat bikin lo jadi mikir kek gitu" ucap Rey merasa bersalah.


Kesya mengangguk pelan. "Gapapa, gue juga paham kalau nggak cuman lo yang pasti masih mikir gitu."


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2