
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Tak lama kemudian, Kesya pun kembali bersamaan dengan dokter yang memintanya untuk masuk ke dalam ruangan karena permintaan dari Nyonya Emeli.
Dengan segera, Kesya masuk ke dalam dan melihat Nyonya Emeli sedang menatap anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Apakah kau yang membawa ku kemari?" tanya Nyonya Emeli pelan yang membuat Kesya mengangguk.
"Terima kasih banyak, Nak. Aku tidak tau bagaimana harus membalas apa yang kau lakukan terhadapku."
"Hei, tidak perlu seperti itu, Nyonya. Cepatlah sehat agar bisa merawat baby boy" ucap Kesya tersenyum tipis.
Nyonya Emeli pun segera menggenggam tangan Kesya dengan erat. "Excello, nama yang diberikan oleh Ayah nya."
"Baby Ello?" Nyonya Emeli mengangguk pelan.
"Nak, kemari lah."
Seketika Kesya mendekati Nyonya Emeli yang terlihat sedang menahan sakit.
"Ada apa, Nyonya?! Sebentar, saya panggilkan dokter."
Langkah Kesya terhenti ketika Nyonya Emeli menahan lengannya untuk tidak pergi.
"Apa aku boleh tau siapa nama mu?"
"Kesya, Nyonya."
"Nak Kesya, aku meminta tolong untuk menjaga bayi ku. Tolong rawat seperti anak mu sendiri. Aku tidak bisa meninggalkan bayi ku bersama orang lain karena aku hanya mempercayai mu."
Kesya benar-benar terkejut ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Nyonya Emeli.
"Hei, apa yang Nyonya katakan? Jangan seperti itu."
"Aku percaya pada mu. Tolong rawat Ello."
Deg.
Seketika, tangan Nyonya Emeli terjatuh membuat Kesya benar-benar panik apalagi melihat Nyonya Emeli menutup matanya.
"Tidak, tolong astaga, Nyonya."
Boy yang mendengar teriakan Kesya pun segera masuk.
"Key, kenapa?!"
"Kak, Nyonya Emeli.."
__ADS_1
Tak lama kemudian dokter dan beberapa perawat pun masuk untuk memeriksa keadaan Nyonya Emeli.
"How is the condition?"
"The current time is 17:29, the patient on behalf of Mrs.Emeli was declared dead."
Deg.
Kesya kehilangan keseimbangan membuat Boy segera merengkuh tubuhnya. Tangisan Kesya semakin menjadi terlebih mendengar baby Ello yang juga tiba-tiba ikut menangis membuat hati Kesya sangat sakit.
Kesya berjalan dengan lemah mendekati box bayi. "Sayang, kenapa menangis?" ucap Kesya pelan seraya menatap wajah baby Ello.
Kasihan sekali dirimu karena harus kehilangan orang tua.-Kesya.
*****
Boy dengan koneksi yang ia miliki segera mencari keluarga dan kediaman rumah Nyonya Emeli dan tak lama kemudian, ia pun menemukan alamat tempat tinggal Nyonya Emeli.
"Kak, gue ikut" ucap Kesya ketika melihat Boy yang hendak pergi.
"Ello gimana?"
"Ada perawat."
Akhirnya Boy dan Kesya pun pergi menuju ke alamat rumah Nyonya Emeli.
Baru saja mereka keluar dari mobil, tiba-tiba ada tetangga yang keluar dari rumah.
"Permisi, apakah ini benar rumah Nyonya Emeli?" tanya Kesya dengan sopan.
"Jika aku boleh bertanya, apa Nyonya Emeli memiliki keluarga?"
Tetangga tersebut menggeleng pelan. "Emeli hidup sebatang kara. Suami nya meninggal beberapa bulan yang lalu akibat kecelakaan kerja. Ada apa dengan Emeli?"
Kesya terdiam membuat Boy segera mendekat dan menggenggam tangannya erat seolah memberi kekuatan.
"Nyonya Emeli baru saja meninggal dunia."
Tetangga tersebut benar-benar terkejut mendengarnya. "Ya Tuhan, Mel. Bagaimana bisa ini terjadi pada mu?! Dimana?! Dimana aku harus bertemu Emeli?!"
Setelah menceritakan semua yang terjadi, akhirnya tetangga yang diketahui namanya sebagai Nyonya Merlin pun membantu mereka untuk mengemas barang-barang milik baby Ello yang sudah dipersiapkan oleh Nyonya Emeli.
Tak lama kemudian, Boy pun meminta Nyonya Merlin untuk ikut kembali ke rumah sakit.
"Bagaimana dengan anaknya?" tanya Nyonya Merlin saat mereka sedang berada dalam perjalanan.
"Nyonya Emeli meminta ku untuk merawatnya. Aku rasa itu terlalu berlebihan mengingat aku hanya orang asing. Jadi aku mencari tau jika ada keluarga dari Nyonya Emeli mau pun suaminya yang ingin merawat baby Ello."
"Nak, tolong rawat saja seperti pesan terakhir Emeli. Keluarga suami nya sudah benar-benar lepas tangan terhadap mereka dan aku yakin keputusan Nyonya Emeli sudah benar."
"Nyonya, aku bukan berasal dari sini. Aku orang Indonesia asli dan hanya berlibur disini" ucap Kesya pelan.
Nyonya Merlin menggenggam tangan Kesya dengan erat. "Siapa pun dirimu, aku yakin bahwa takdir memang mempertemukan mu dengan Emeli. Kau orang baik, Nak. Tolong jaga Ello bersama suami mu" ucapnya seraya menatap Kesya dan Boy bergantian.
__ADS_1
"S-suami?!" ulang Kesya yang semakin salah tingkah.
Nyonya Merlin pun segera memberikan kunci rumah Nyonya Emeli kepada Kesya. "Ini, tinggallah di rumah Emeli sementara kau libur. Kau lihat kan rumah ku seperti apa? Aku tidak ingin membuat anak sahabatku menderita jika aku yang mengurus anaknya. Aku tidak bisa menjamin masa depan Ello."
Setelah berpikir keras dan memantapkan hatinya, Kesya menerima Ello sebagai anaknya walaupun ia masih berumur belasan dan bahkan belum menikah.
Sebenarnya, ia bisa saja memberikan Ello kepada Citra dan akan menganggapnya seperti adik sendiri namun karena Nyonya Emeli sudah memberikan amanah kepadanya, Kesya bertekad untuk membesarkan Ello sendiri seperti anak kandungnya.
Kesya segera menghubungi keluarganya yang di Indonesia lalu menceritakan semua hal yang terjadi. Awalnya, mereka meminta agar Kesya memberikannya kepada Citra saja lalu dianggap seperti adik sendiri atau memberikan kepada Raka dan Claudia yang masih belum memiliki anak. Namun, karena Kesya kekeh untuk menuruti amanah terakhir dari Nyonya Emeli, akhirnya semua orang setuju.
Ponsel Kesya berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Gabriel.
"Shareloc. Kak Gab kesana besok" ucap Gabriel saat panggilan baru saja terhubung.
"Hei, Kak Gab jangan buang-buang duit, kan bulan depan mau nikah. Kesya aman kok disini ada Nyonya Merlin juga yang bantuin. Dan Kak Gab tau? Ada anak sultan juga" ucap Kesya yang membuat Boy tersenyum tipis.
"Loh? Boy ngapain disana?" tanya Gabriel heran.
"Namanya juga anak sultan, punya keluarga dari luar juga ternyata, Kak."
"Bagus deh kalau ada Boy. Ini gapapa Kak Gab nggak jadi kesana?"
"Nggak, jangan kesini. Kak Gab fokus aja sama pernikahannya."
"Jaga diri ya, Cantik."
Panggilan pun terputus.
"Apa itu kakak kandung mu?" tanya Nyonya Merlin ketika Kesya baru saja mengembalikan ponselnya ke dalam tas.
Kesya tersenyum tipis seraya mengangguk pelan. "Dia sedang berkuliah di New York dan berencana akan kemari. Aku melarangnya karena tidak ingin dia membuang uang karena bulan depan akan menikah."
"Wow, menikah disana?"
"Tidak, kekasihnya orang Indonesia tapi menjadi model ternama disana. Ah, Nyonya, jika aku boleh tau apa kau memiliki anak?"
Nyonya Merlin tersenyum tipis. "Aku mempunyai satu anak perempuan berumur lima tahun."
"Astaga, mengapa tidak membawanya saja tadi?"
"Dia sedang sakit."
"Ya Tuhan, maafkan aku, Nyonya."
"Hei, tidak apa-apa. Arsya menderita penyakit leukimia dan sedang ada di rumah sakit. Aku baru saja kembali untuk mengambil beberapa keperluan di rumah dan bertemu dengan mu di halaman rumah Emeli."
"Apa penyakitnya sangat serius?" tanya Kesya pelan seraya mengelus tangan Nyonya Merlin.
Nyonya Merlin mengangguk pelan. "Aku tidak mempunyai uang untuk mengobatinya sampai sekarang. Apa yang bisa ku lakukan dengan hidup sebagai janda seperti ini?"
Astaga, kasihan sekali Nyonya Merlin.-Kesya.
*
__ADS_1
*
*