
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Malam ini, setelah berpikir cukup lama akhirnya jari tangan Devan bergerak menari di atas layar ponsel yang sedang menyala seolah sedang mengetik pesan untuk seseorang.
Si Cantik
Mau peluk..-Devan.
Lelaki itu benar-benar terkejut ketika melihat room chat Kesya yang sedang online bahkan chatnya sudah dibaca oleh penerima pesan. Bagaimana Devan tidak terkejut? Sudah satu tahun lebih sejak kejadian di Seoul, Kesya memblokir semua akun sosial media miliknya hingga ia bahkan tidak mempunyai celah untuk sekedar bertanya kabar dengan Kesya.
Loh?! Udah di unblock?!-Devan.
*****
Saat itu Kesya baru saja menidurkan Ello yang sempat merengek karena Boy pamit pulang. Alhasil, Boy berpura-pura untuk menginap dan tidur di kamar Kesya bersama bocah itu hingga Ello tertidur.
"Kak, lo beneran pulang?" tanya Kesya setelah melihat Boy yang bersiap untuk pulang.
"Kalau gue masih disini yang ada tar dikira kumpul kebo sama Pak RT" ucap Boy terkekeh pelan.
"Maaf ya, Kak. Gue juga nggak pernah kepikiran kalau Ello bisa nanya hal gitu."
"Santai aja, namanya juga anak kecil ada banyak hal random yang bakal ditanya. Mulai sekarang lo harus persiapkan diri aja sama semua pertanyaan Ello nantinya. Kalau ada yang nggak bisa lo jawab kek tadi, kabarin gue aja nanti gue bantu jelasin ke dia."
"Kak.. kalau gue bilang gue sangat amat kangen sama lo, gimana..?"
****. Kesya tidak bisa menahannya lagi. Ia benar-benar sangat merindukan lelaki ini.
Ucapan Kesya tentu saja membuat Boy terdiam seketika.
"Maaf.. gue nggak bisa tahan lagi.. gue udah capek dan topeng gue udah tebal banget.. tolong, sekali aja gue pengen peluk lo.. maaf.. maaf kar—"
Boy segera merengkuh tubuh mungil itu bahkan sebelum Kesya sempat menyelesaikan ucapannya.
Pelukan itu. Pelukan yang masih sama hangatnya. Pelukan yang ternyata masih membuat detak jantungnya berdebar kencang. Pelukan yang ternyata masih sangat ia butuhkan. Dan pelukan yang akan selalu dan selalu menenangkannya.
Hanya degan elusan lembut di punggung dan pucuk kepalanya, air mata Kesya mulai keluar mengalir membasahi wajah cantiknya. Semua hal yang ia pendam selama ini akhirnya ia lepaskan juga dihadapan lelaki yang sama. Lelaki yang selalu ia percayakan atas semuanya.
"Maaf.. maaf gue selalu jadi beban.. maaf.."
__ADS_1
"Udah, jangan ngomong dulu" ucap Boy pelan yang membuat Kesya semakin mengeratkan pelukannya.
Beberapa saat kemudian, setelah mendengar Kesya sedikit tenang, Boy pun akhirnya melepaskan pelukan tersebut.
"Mau ikut nyari angin bentar, nggak?" tawar Boy yang segera dibalas dengan anggukan gadis itu.
Mereka pun keluar dari kamar menuju ke kamar Citra untuk berpamitan dengan Mami Kesya karena mereka akan keluar rumah sebentar.
Tak lama kemudian, Boy pun segera melajukan mobilnya menyusuri jalanan malam kota tersebut. Mengendarai mobil dengan tanpa tujuan hanya untuk mendengarkan gadis itu bercerita lagi.
"Kak.. maaf.."
Kesya membuka suara membuat Boy menoleh kearahnya.
"Maaf karena gue masih jadi beban lo.."
"Lo udah ngomong maaf hampir sepuluh kali. Udah gue bilang nggak usah ngomong yang aneh-aneh."
"Gue capek.. gue nggak tau harus berbagi dengan siapa lagi setelah gue pergi secara tiba-tiba waktu itu. Gue langsung lepas tangan dengan lo yang nggak tau apa-apa. Gue bertekad kalau gue harus bisa mandiri biar nggak jadi beban pikiran orang-orang lagi. Gue kira gue bisa, tapi nyatanya gue nggak bisa. Gue selalu kangen lo, kangen sosok lo yang selalu hadir di pikiran gue.. gue kira gue bisa ngelepas lo tapi ternyata gue malah bikin lo terikat dengan cewek aneh kek gue.. maaf, Kak.. maaf karena lo terikat sama gue.."
Boy hanya diam karena tau Kesya masih belum selesai dengan ucapannya.
"Ada satu masa dimana gue sangat amat kangen sama lo sampai gue nangis-nangis nggak jelas. Disaat gue yang disibukkan dengan tugas kuliah bahkan kadang lupa bersihin rumah dan akhienya bikin badan gue drop seketika, gue nggak pernah lupa nyebut nama lo. Gue selalu bilang ke Ello kalau gue kangen lo.. gue kangen sama rumah asli gue.."
Rumah..?-Boy.
Ucapan Kesya membuat Boy tertawa seketika. Bagaimana bisa gadis kecil itu begitu menggemaskan? Ah, tidak salah jika Boy selalu jatuh cinta dengan sosoknya.
"Maaf karena gue, lo akhirnya jadi kek gini sekarang. Harusnya waktu itu gue perjuangin lo dan berusaha buat selalu ada tapi gue terlalu takut. Gue sadar kalau lo sengaja menjauh dari gue, maka dari itu gue kea kalau peran gue udah nggak penting."
Ucapan Boy benar. Ia terlalu takut mengambil keputusan untuk memperjuangkan Kesya saat itu karena ia sadar bahwa Kesya memang sengaja dan dengan keadaan sadar diri menjauhinya sehingga Boy mau tidak mau harus menerima itu semua.
"Menjauh dari lo adalah hal yang paling bodoh yang pernah gue lakuin."
"Dan nggak berusaha untuk nahan lo waktu itu adalah hal yang paling bodoh buat gue."
*****
Setelah cukup lama mengelilingi kota tanpa tujuan, akhirnya Boy membawa Kesya untuk kembali pulang ke rumah karena hari pun sudah sangat larut dan ia takut jika Ello terbangun dari tidurnya dan Kesya tidak ada disebelahnya.
"Gimana? Udah lega?" tanya Boy pelan.
Kesya mengangguk seraya tersenyum tipis. "Kak.. maaf.. ma—"
"Lo bisa nggak sih ganti kata maaf dengan kata yang lain?!"
__ADS_1
"Ih kasar, marah-marah mulu."
Ting.
Ponsel Kesya berdering menandakan sebuah notifikasi pesan dari Jojo.
"Kak Jojo udah di Indo, Kak? Tumben kok tiba-tiba banget ngechat gue" gumam Kesya seraya memperlihatkan isi pesan dari Jojo.
Kak Jojo
Key.. ayo sini nangis bareng..-Jojo.
"Hah?! Maksudnya apaan?"
Baik Kesya bahkan Boy saja tidak mengerti mengapa dengan Jojo dan apa maksud dari isi pesannya tersebut.
"Dia nggak mabuk kan, Kak?" tanya Kesya yang membuat Boy menatapnya heran.
"Masa iya mabuk tapi ngechat nggak ada typo sama sekali?! Coba lo telpon aja siapa tau dia salah kirim atau gimana."
"Tapi ini nggak ganggu dia kalau gue telpon?"
"Coba aja dulu sekali atau dua kali, takutnya ada hal penting."
Kesya pun menuruti ucapan Boy untuk melakukan panggilan suara dengan Jojo. Namun, sudah panggilan kedua lelaki tersebut tidak mengangkatnya padahal di room chat, akunnya sedang online.
Kesya mengerutkan keningnya heran. "Kok nggak diangkat padahal dia online masih? Loh?! Ini dia kenapa mengetik ya, Kak?! Kok gue takut, Kak?! Apa jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi sama Kak Jojo?"
Kak Jojo
Key, gue nggak sanggup buat ngomong langsung ke lo. Gue tau kalau lo juga sama sakitnya dengan gue. Gue boleh ketemu lo? Kita nangis bareng..-Jojo.
Kak? Ini ada apa?! Kak Jojo gapapa, kan?-Kesya.
Nggak. Hati gue hancur banget dan keadaan gue sekarang sama dengan keadaan lo.-Jojo.
Sebentar, gue nggak ngerti lo ngomong apa, Kak.-Kesya.
Key.. mereka mau nikah.. Devan dan Dhea..-Jojo.
Deg.
*
*
__ADS_1
*