
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Malam harinya, ketika sehari sebelum jenazah Kiara dimakamkan dan tepat tiga minggu Kesya sudah tak sadarkan diri, Boy dan Rey yang dengan setia menemani dan menungu Kesya ditemani juga Steven, Dio, dan Gabriel yang juga akan berkunjung sesekali karena juga harus menuju rumah Franklin untuk membantu orang-orang mengibadahkan Kiara. Sedangkan Asyera memang setelah malam itu sudah beberapa hari ini tak pernah berkunjung ke rumah sakit karena Gabriel melarangnya untuk bolak balik.
“Gimana lo jelasin ke Kesya?” tanya Boy memecahkan keheningan
Rey menghela nafas berat sebelum membuka suara. “Gue bingung, Boy. Gue nggak tau harus gimana”
“Gapapa, santai. Tenangin aja diri lo dulu, kalo butuh sesuatu lo selalu bisa andalin gue”
Setelah beberapa waktu diam, akhirnya Rey kembali membuka suara untuk mengutarakan sesuatu yang sejak lama ia pikirkan.
“Gue takut Kesya bakal nyalahin dirinya sendiri”
“Ternyata, pikiran kita sama”. Perlahan, tatapan Boy berpaling kepada gadis yang masih enggan untuk sekedar membuka mata
Klek
Pintu ruangan terbuka dan masuklah dua sahabat Kesya membawa beberapa camilan dan makanan.
“Masuk ya, kak”
“Masuk aja”
Mereka pun masuk dan duduk bersama di sofa seraya mengeluarkan makanan untuk Boy dan juga Rey karena mereka tau yang menunggu Kesya pasti tidak mempunyai waktu sekedar memikirkan isi perut mereka.
“Makan dulu, kak” ucap Dhea menyodorkan sendok dan garpu kepada Rey dan Boy
“Gapapa, Dhe”
“Jaga Kesya juga butuh tenaga. Masa mau kalau Kesya bangun liat dua orang tiba-tiba jadi kurus gini?”
Akhirnya, setelah mendengar ocehan Rere, mereka pun mulai makan.
“Nggak ada perkembangan?”. Hanya gelengan lemah dari Rey yang terlihat seolah merespon pertanyaan yang keluar dari mulut Dhea.
“Besok ya pemakaman nya? Jadi gimana, kak?”
“Gue nggak tau.. Gue nggak tau harus gimana”
“Kalau pun kita tutupin juga mau sampai kapan?”
“Kak Rey sama kak Boy kalau mau balik kerumah gapapa balik aja nanti biar kita yang jagain Kesya”
“Lo aja, Boy. Lo udah disini tiga minggu juga dan nggak pernah absen”
__ADS_1
“Lo nggak mau ikut pemakaman? Biar gue yang jagain Kesya”
Rey hanya diam tanpa tau harus merespon bagaimana lagi hingga tiba-tiba
“Gue berharap ada keajaiban malam ini biar Kesya bisa liat Kiara yang terakhir kali”
“Dan gue juga berdoa, karena takut bakal jadi penyesalan yang nggak ada ujungnya ketika dia sadar dan orang yang dia sayang pergi duluan tanpa pamit.”
“Tuhan itu baik, gue yakin Dia bakal denger doa kita semua”
“Semoga.”
*****
Setelah beberapa kali berdebat, akhirnya ditetapkan bahwa mereka tidak ada yang ingin pulang dan berakhir dengan sama-sama menunggu Kesya.
“Kak, kalo gue boleh nanya, gimana sama kak Devan?”. Dhea memberanikan diri untuk bertanya walaupun ia bisa melihat raut wajah Rey seolah tidak suka jika topik yang akan dibahas menyangkut salah satu sahabatnya yang sudah menyakiti adik kesayangannya.
“Lo mau tau jawaban tentang apa?”. Semua orang benar-benar terkejut apalagi mendengar kalimat itu keluar dari mulut Rey.
“Eh—ya cuman mau tau kenapa dia nggak ada disini? Bukannya dia tau kalau Kesya bakal rapuh ketika denger kembarannya udah pergi?”
“Dia nggak kesini karena dia tau gue bakal marah ke dia.”
Semuanya hanya diam tanpa tau harus mengatakan apa.
“Gue lagi emosi jadi keknya kurang pas kalo gue harus ketemu dia”
*****
Jam menunjukkan pukul 02:09 WIB ketika Boy membuka mata dan kembali menatap gadis yang sedang tertidur di ranjang rumah sakit.
Perlahan, Boy berdiri dan berjalan mendekati Kesya lalu mengelus pucuk kepalanya dengan kasih sayang.
“Lo mau bangun kapan? Masa nggak kangen debat sama gue? Padahal gue kangen..” ucap Boy terkekeh pelan
Akhir-akhir ini memang insomnia Boy sangat parah sehingga ia akan selalu terbangun beberapa saat setelah tidur dan akan kembali susah tidur bahkan saat tidur pun dirinya benar-benar tidak nyenyak.
Entah apa yang sedang dipikirkan atau mungkin masih berhubungan dengan Kesya yang belum juga sadar, Boy sendiri tidak tau mengapa ia seperti ini.
“Key, lo tau? Ternyata selama ini, lo jadi pemilik hati gue. Ketika lo ngetuk, gue kira cuman sebatas tamu, ternyata lo masuk lebih dalam sampai akhirnya lo yang jadi pemiliknya. Ruang buat lo sangat besar sehingga gue harus siap dengan segala resiko yang akan datang nantinya. Gue mencintai lo tanpa syarat..”
“Jadi kapan? Kapan lo sadar dan dengar pengakuan gue?”
Saat tangan tersebut menggengam tangan yang sedang di infus. Betapa terkejutnya Boy ketika merasakan bahwa ada pergerakan tangan Kesya.
“Key.. Kesya.. Lo bisa dengar gue?!”
Karena panik, Boy langsung menekan tombol yang ada dibawah ranjang rumah sakit yang terhubung dengan tim medis agar para dokter dan perawat segera datang dan memeriksa keadaan Kesya.
“Key.. Lo bisa dengar gue?!”. Lagi. Boy bertanya dan berharap jika Kesya akan membuka mata dan menatapnya
__ADS_1
Benar saja, perlahan mata itu terbuka dan menatap lekat manik mata milik Boy.
“Lo bisa liat gue?!”. Kesya perlahan menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan Boy lebih erat.
Melihat hal itu, Boy benar-benar senang karena Kesya sepenuhnya sadar dan bisa mengenalinya.
“Kesya udah sadar” teriak Boy membangunkan Rey dan yang lainnya.
Tak lama, Raka dengan beberapa perawat masuk ke ruangan dan memeriksa keadaan Kesya.
“Key?! Lo kenal gue?!”. Rey segera berlari mendekat dan mengelus pucuk kepala sang adik beberapa kali.
“Kak, sabar dulu” tegur Raka karena Rey menganggunya memeriksa keadaan Kesya.
Rey terkekeh pelan. “Ya maaf, Mas. Namanya juga panik”
Ada senyum tipis terukir di wajah Kesya ketika ia mendengar kedua kakaknya berbicara
“Ah, ini sudah sembuh. Buktinya masih bisa senyum-senyum melihat kakak panik” ucap Raka tersenyum.
“Kesya nggak amnesia kan, Mas?”
“Sepertinya dia hanya melupakanmu, kak”
“Loh kok gitu?” gerutu Rey tidak terima membuat Kesya benar-benar tertawa walaupun sedikit susah
“Ini keadaan Kesya gimana, Mas?” tanya Boy mengalihkan pembicaraan karena jujur saja dirinya yang sangat panik sekarang
“Keadaan Kesya membaik. Hanya saja masih membutuhkan perawatan penuh dan jika ingin keluar ruangan sebaiknya menggunakan kursi roda saja karena sudah tiga minggu otot kaki nya belum bergerak”
“Tiga minggu?” ucap Kesya terkejut.
Dhea mengelus pucuk kepala sahabatnya. “Lo udah tiga minggu disini, Key. Dan liat sekarang dua cowok didepan lo hilang roti sobek karena nggak makan jagain lo”
“Loh kak Rey?! Kok roti Kesya hilang?!” gerutu Kesya dengan kesalnya
Pletak
“Ini anak, orang panik lo malah mikirin roti”
“Hehehehe”
Dan, malam itu keajaiban pun mengeluarkan dirinya. Doa yang selalu dipanjatkan setiap orang selama tiga minggu terakhir akhirnya membuahkan hasil. Kesya pun sadar.
Ternyata, Tuhan masih baik sama gue. Selamat datang kembali setelah tiga minggu di alam bawah sadar, Key..-Boy
*
*
*
__ADS_1