
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
"Kak, definisi move on menurut lo tuh apa sih?" tanya Kesya yang membuat Rey mengerutkan keningnya heran.
"Key, kok tumben nanya gini?"
"Pasti definisi nya beda-beda tergantung pemikiran orang-orang, kan? Menurut gue juga beda, Kak. Ketika gue udah terbiasa dan nggak ada sedikit pun air mata yang keluar ketika gue ngeliat orang itu, maka gue berhasil berdamai dengan diri gue dan masa lalu gue. Begitu pun gue dan Devan, gue udah bener-bener biasa aja ketemu dia."
"Sorry kalau gue ungkit masalah ini lagi" ucap Rey yang masih merasa bersalah.
"Berita apa, Kak? Keknya berita yang cukup penting sampai-sampai nama Devan di ungkit lagi sama lo" ucap Kesya terkekeh pelan.
Rey terdiam. Ia belum berani mengatakan langsung tentang berita yang membuatnya tiba-tiba berpikir bahwa Kesya mungkin saja masih memiliki rasa kepada Devan.
"Atau gue sendiri aja yang liat?" tanya Kesya lagi ketika tidak mendengar jawaban dari Rey.
Tanpa Kesya sadari bahwa Boy sedari tadi sudah bangun dan mendengar jelas semua yang ia bicarakan walaupun Boy tidak mendengar suara Rey.
"Eh—udah bangun, Kak?!"
Kesya sedikit terkejut ketika melihat Boy yang juga sedang menatapnya.
"Suara gue keras banget, ya?" tanya Kesya sedikit merasa bersalah.
Boy menggeleng pelan. "Masih belum 24 jam, kan?" tanya Boy seraya merentangkan tangannya.
Kesya terkekeh pelan. "Kak Rey, gue tutup nih."
Setelah mengatakan itu, Kesya pun segera memutuskan panggilan dan memeluk tubuh kekar milik Boy.
"Pagi-pagi udah emosi aja" gumam Boy seraya mengelus pucuk kepala Kesya.
Kesya terkekeh pelan. "Berarti tadi Kak Boy nguping dong?"
"Emangnya ada berita apa tentang Devan?" tanya Boy yang membuat Kesya menggeleng pelan.
"Gue juga penasaran karena Kak Rey nggak mau ngasih tau. Bentar." Gadis itu segera melepaskan pelukannya dan mengambil kembali ponselnya.
Deg.
__ADS_1
Berita yang cukup membuat Kesya terkejut sehingga membuat Boy segera mengambil alih ponsel gadis itu.
Terlihat raut wajah Boy pun sama terkejutnya dengan Kesya. "Lo gapapa?"
Plak.
"Sumpah, gue bakal marah banget kalau sampai Kak Boy juga ikutan ragu sama perasaan gue ke Devan!"
Kesya benar-benar emosi ketika mendengar Boy yang malah menanyakan keadaannya setelah melihat berita tentang kehamilan Dhea yang baru saja dipublikasikan pagi ini.
"Gue cuman sedikit kaget karena nggak nyangka aja kalau beritanya tentang kehamilan Dhea, gue bersyukur banget dan berdoa yang terbaik buat mereka berdua. Ini kalau sampai lo ikutan kasian sama gue, sumpah sih gue nggak bakal mau ngomong sama lo lagi!"
Kesya segera menjauhkan dirinya bahkan membelakangi Boy seolah memastikan bahwa ucapannya memang tidak main-main.
Boy yang melihat itu pun sedikit merasa bersalah karena entah kenapa dirinya pun refleks menanyakan keadaan Kesya.
"Udah sini, jangan marah-marah dong" gumam Boy pelan seraya memeluk tubuh Kesya dari belakang.
"Gue beneran marah banget sampai nggak mau ngomong sama lo lagi!"
"Maafin ya?"
Kesya hanya diam membuat Boy kembali membuka suara.
"Diem! Gue mau pulang aja!"
Kesya segera berdiri membuat Boy pun ikut beranjak dari tempat tidur. "Beneran marah?"
Tanpa menjawab ucapan Boy, Kesya pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan segera turun.
Boy hanya diam menatap punggung Kesya yang semakin lama semakin tidak terlihat. Ia merutuki dirinya karena membuat Kesya pagi-pagi sudah marah besar.
*****
"Eh, Kesya udah bangun? Ayo sini ikut sarapan dulu" ucap Om Heru ketika melihat Kesya yang turun dari kamar Boy.
Kesya tersenyum canggung. "Om, maaf ya Kesya mau izin pulang duluan soalnya ada urusan mendadak. Nanti Kesya bakal sering-sering mampir ke—Kak Boy?!"
Kesya yang saat itu masih mengajak Om Heru mengobrol pun benar-benar terkejut ketika merasakan tubuhnya tiba-tiba digendong paksa oleh Boy.
"Boy?! Anak orang mau diapain?!" Om Heru saja terkejut melihat kelakuan Boy pagi ini.
Boy terkekeh pelan. "Anaknya ngambek, Pa. Ke atas dulu ya" jawab Boy santai seraya berpamitan kepada Om Heru dengan Kesya yang masih memberontak.
Kamar Boy
__ADS_1
Boy mendudukkan Kesya dengan sangat pelan di atas tempat tidur lalu dengan segera lelaki itu berjongkok dan menggenggam erat kedua tangan mungil milik Kesya.
"Lo gila?! Gimana gue ketemu Om Heru nantinya?! Wah parah banget sih malu-maluin aja." Kesya benar-benar menatap lelaki dihadapannya dengan penuh emosi.
Bagaimana bisa Boy berpikir akan menggendongnya dihadapan Om Heru?! Terlebih Kesya yakin bukan hanya Om Heru saja yang melihat kejadian itu, tapi beberapa pelayan yang ada di dapur. Kesya benar-benar tidak mengerti jalan pikiran lelaki itu.
Boy terkekeh pelan. "Maaf.. maafin ya? Tadi beneran nggak pikir panjang, gue cukup kaget liat berita itu jadi entah kenapa refleks banget nanya gitu ke lo.. maafin ya?"
"Emangnya gue keliatan banget nggak bisa move on?" tanya Kesya yang membuat Boy menggeleng.
"Kalau nggak, kenapa bisa alam bawah sadar Kak Boy tiba-tiba mikir gitu? Gue rasa Kak Boy udah denger semua penjelasan gue ke Kak Rey dan semua itu yang bisa gue omongin lagi ke Kak Boy. Gue udah bener-bener selesai dengan Devan dan nggak ada sedikit pun rasa yang tertinggal."
Boy mengangguk pelan. Ia pun sebenarnya sangat percaya pada gadis itu, namun tak bisa dipungkiri bahwa memang gadisnya pernah memiliki hubungan yang cukup lama dengan sahabatnya.
"Maaf.. gue beneran percaya sama lo, tapi nggak bisa dipungkiri kalau emang hubungan lo sama dia cukup lama.."
"Udah cukup buat gue sedih bahkan nangis berhari-hari dulunya ketika gue mulai hidup sendiri di London. Prinsip gue, gapapa kalau gue menikmati sakitnya sekarang dan gue percaya kalau nantinya gue bakal terbiasa dengan semuanya. Percaya atau nggak, semua kenangan tentang gue daan Devan baru gue buang beberapa bulan sebelum gue balik ke Indo."
*****
"Jadi, gue dimaafin nggak?" tanya Boy ketika ia sudah duduk disebelah gadis itu.
Kesya baru saja menceritakan semua yang mungkin ingin Boy dengan dari mulutnya sendiri tentang hubungannya dan Devan, atau bahkan tentang perasaannya yang benar-benar sudah habis.
"Nggak, lo nyebelin banget soalnya."
"Key! Masa nggak dimaafin? Maafin ya?"
Kesya tertawa ketika Boy benar-benar sudah bertingkah seperti anak kecil. Buset bayi besar."
*****
Hari ini, rencana mereka akan menghabiskan waktu bersama Ello seraya menyelesaikan tiket 24 jam bersama Kesya.
Ting.
Endru Sekretaris
Selamat pagi, Pak Boy. Saya ingin mengingatkan bahwa pagi ini ada pesta pernikahan Pak Charles yang harus dihadiri.-Endru.
*
*
*
__ADS_1