Tentang Kesya

Tentang Kesya
Rintihan Asyera


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Private jet berhasil mendarat di tanah Indonesia yang membuat penumpang segera keluar karena memang beberapa orang suruhan Papa Aldino sudah siap menjemput mereka.


Steven dibantu oleh beberapa orang mengeluarkan barang-barang mereka sedangkan Boy sigap menggendong baby Ello dan menggenggam tangan Kesya. Gadis itu? Ah, dia terlihat sangat menyedihkan dengan kantung mata yang sudah bengkak dan wajah yang sangat berantakan.


Setelah tangisan keras dan rintihan di hadapan Boy, Kesya tidak pernah menangis lagi. Seolah air matanya tidak ingin keluar padahal hatinya benar-benar sakit sekarang.


Mobil membawa mereka mengarah ke kediaman Franklin yang sudah berdiri bendera hitam dan ada begit banyak orang yang ikut melayat karena sekarang sudah menunjukkan pukul 08:58 WIB.


Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah tersebut hingga membuat Kesya segera keluar dari mobil. Boy yang melihat Kesya hendak berlari pun dengan segera menahan tangannya.


"Pelan-pelan aja bareng Ello, ya.."


Boy menggenggam tangan Kesya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah dimana keluarga sudah berkumpul kecuali Gabriel dan istri, Dio, dan Rey karena mereka harus menempuh perjalanan panjang untuk kembali ke Indonesia.


"Nak.." panggil Citra saat melihat kedatangan putrinya.


Kesya duduk lemah disebelah Citra dan menatap lekat wajah yang sudah memucat dengan tubuh yang terbujur kaku. Wajah itu, wajah yang kemarin tertawa lepas saat melakukan panggilan video bersama Kesya. Sekarang, Kesya bahkan tidak bisa lagi melihat tawa itu.


Harinya benar-benar sakit namun untuk menangis pun ia tidak mampu. Kesya ingin berteriak namun yang keluar hanya helaan nafas berat.


"Pi.. nanti kalau Kesya udah dapet Daddy nya Ello, siapa yang gandeng tangan Kesya..?"


Steven yang sudah masuk pun berjalan mendekat seraya merengkuh tubuh mungil Kesya sedangkan Boy sedikit menjauh dari kerumunan karena ia sedang menggendong Ello.


"Boy, bawa ke rumah saja. Tidak baik membawa bayi ke tempat seperti ini" ucap Om Heru saat Boy mendekatinya.


"Sebentar, Pa. Boy harus bicara dengan Mas Raka, bisa titip Ello?"


Om Heru pun segera mengambil alih Ello dan membawanya ke halaman belakang agar tidak mendekati kerumunan orang-orang.


Boy menghampiri Raka yang saat itu sedang membantu membawa barang-barang Kesya dan Ello.


"Mas, boleh bicara sebentar?" tanya Boy pelan.

__ADS_1


Raka segera mengajak Boy ke lantai dua seraya meletakkan koper Kesya di kamarnya.


"Kenapa, Boy?"


"Mas, sebelumnya maaf tapi ini emang penting berhubung Ello masih kecil dan Boy pernah baca kalau tidak baik membawa ke—maaf, tempat seperti ini. Apa Boy boleh membawanya pulang ke rumah saja?"


Raka menghela nafas berat. Ia hampir lupa dengan anaknya itu. "Kesya pasti membutuhkan, Boy. Tapi Ello juga pasti membutuhkan Daddy nya."


Ah, mereka ini sudah menyebut Boy sebagai Daddy Ello saja.


"Kalau memang Boy mau, Mas minta tolong untuk merawatnya selama Kesya dalam keadaan seperti itu. Jika Boy kesusahan, Clau bisa membantu, Isa juga."


Boy mengangguk pelan. Segera ia berpamitan kepada Raka agar tidak membuat Ello terlalu lama disini. Boy pun turun ke lantai bawah dan berbisik dengan Steven yang duduk disebelah Kesya.


"Gue bawa Ello ke rumah ya, kalau ada apa-apa kabarin gue."


Setelah mengatakan itu, Boy pun beranjak pergi tak lupa dengan mengambil barang-barang Ello dan menghampiri Om Heru.


"Gimana? Sudah pamit dengan yang lain?"


Boy mengangguk pelan. "Jalan dulu, Pa."


Om Heru memang memutuskan untuk masih tetap berada disana sebagai perwakilan dari keluarganya karena Boy harus pulang ke rumah dengan membawa Ello.


*****


Devan yang saat itu baru saja membuka ponsel pun begitu terkejut melihat notifikasi panggilan tak terjawab dari seluruh keluarganya. Ia bingung mengapa seluruh keluarganya menghubunginya disaat yang bersamaan hingga akhirnya ia membaca sebuah pesan dari Vino.


Bang Vino


Bokap Kesya pergi.-Vino.


Deg.


Devan benar-benar terkejut mendengar apa yang terjadi karena selama yang ia ketahui, Franklin sehat-sehat saja di Indonesia.


Dengan segera ia menghubungi Vino untuk meminta penjelasan lebih lanjut.


"Karena apa, Bang?"


Terdengar helaan nafas dari seberang sana. "Serangan jantung. Tiba-tiba banget.."

__ADS_1


"Ya Tuhan. Duh, gimana ya gue keknya nggak bisa balik. Lusa harus bimbingan tugas akhir karena Prof.George cuman bisa lusa.."


"Nanti gue kabarin yang lain. Lo juga kabarin Kesya lewat chat aja."


Devan mengangguk pelan. "Salam aja ya buat yang lain."


Ah, tanpa Devan ketahui bahwa Boy bahkan meninggalkan seminar penting yang menjadi syarat kelulusannya hanya untuk kembali ke Indonesia bersama Kesya. Setelah ini, Boy harus menunggu tiga bulan lagi untuk seminar yang ia tunda.


*****


"Sayang" panggil Isabelle pelan seraya mengelus pucuk kepala Gabriel yang tertidur di bahunya.


Sejak mendengar berita duka, Gabriel dan Isabelle segera memerintahkan orang untuk membawa mreka kembali ke Indonesia dengan private jet milik Franklin. Sepanjang perjalanan, Gabriel hanya diam dengan tatapan kosong persis seperti Kesya saat mendengar berita tersebut. Hal itu membuat Isabelle harus turun tangan untuk menghibur suaminya hingga isak tangis Gabriel terdengar. Cukup lama ia menangis di pelukan Isabelle hingga tanpa sadar dirinya tertidur.


"Sayang.. kita udah sampai" ucap Isabelle sekali lagi hingga membuat Gabriel terbangun.


Isabelle tersenyum tipis seraya mencium kening suaminya. "Kuat ya demi anak kita.." ucap Isabelle lalu meletakkan tangan Gabriel di perutnya yang sudah mulai membesar.


Beberapa saat kemudian, mobil pun berhenti di kediaman rumah Franklin yang sudah dihadiri oleh banyak orang. Bahkan, mobil-mobil pun berjejer rapi di sekitaran rumah Franklin.


Saat Gabriel dan Isabelle masuk, terdengar teriakan seseorang yang membuat semuanya terkejut.


"Papi?! Papi, bangun! Kenapa Papi ninggalin Yera?! Papi, bangun!"


Ah, ternyata si kecil Asyera sedang mengamuk seolah tidak terima dengan takdir yang ada. Semua orang yang mendengar ucapan Asyera pun ikut menangis dan merasakan kehilangan.


"Pi.. katanya janji mau foto bareng kalau Yera wisuda nanti. Katanya janji mau liat Yera juara satu kelulusan nanti. Kelulusan Yera cuman sebulan lagi, kenapa Papi malah pergi duluan?!"


Asyera merasakan bahwa tubuhnya dipeluk oleh seseorang. Gabriel memeluk tubuh adiknya yang hampir sama tinggi dengannya. Ia segera merengkuh Asyera yang mengamuk di hadapan tubuh yang terbujur kaku tersebut.


"Papi udah tenang, Dek" ucap Gabriel pelan.


Niatnya ingin menenangkan Asyera, namun ketika menatap wajah yang tertidur damai tersebut, tangis Gabriel pun tidak bisa dihindarkan lagi. Dengan air mata yang mengalir deras, ia tetap merengkuh tubuh Asyera.


Tidak ada yang pernah menginginkan kehilangan, terlebih kehilangan secara tiba-tiba.


Semesta memang selalu pandai membuat skenario hidup.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2