
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Setelah kejadian pagi itu, Kesya masih enggan berbicara dengan lelaki itu. Bagaimana bisa saat baru saja bangun tidur, Boy berani membohonginya dengan mengatakan bahwa mereka sudah melakukan hubungan yang hanya boleh dilakukan oleh suami istri.
Kesya sudah hampir menangis karenanya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa ia menyerahkan mahkota yang selama ini ia jaga hanya karena dirinya mabuk. Dan Boy? Lelaki itu benar-benar senang melihat wajah kesal Kesya. Boy tidak akan bodoh dengan merusak Kesya bahkan dalam keadaan gadis itu sedang mabuk. Bukan karena Boy tidak normal, namun karena Boy mencintai gadis itu.
"Maaf dong" ucap Boy seraya memberikan black card miliknya membuat Kesya menatapnya heran.
"Buat beli ice cream yang banyak."
"Gila kali lo?! Black card mau lo pake beli ice cream di penjual keliling?!"
Ya, Kesya akan selalu memaki Boy dengan penuh emosi seolah meluapkan semua amarahnya pagi ini.
"Yaudah, mau apa biar gue nya dimaafin?!" tanya Boy yang membuat Kesya diam.
"Tuh kan diem, terus gue harus gimana nih kalau lo aja nggak mau jawab?"
"Key? Ayolah jangan ngambek.."
"Nanti gu—"
"Nasi goreng nggak bisa nutupin mulut lo, Kak?! Kalau makan tuh diem, ngomong mulu."
Seolah terhipnotis, Boy benar-benar terdiam dengan kembali memakan sarapan paginya membuat senyum tipis terukir di wajah Kesya.
"Keknya gue kebanyakan deh bikin sarapan" gumam Kesya pelan saat melihat di atas meja masih banyak tersisa nasi goreng buatannya.
"Nanti gue bawa ke kantor buat makan siang" jawab Boy santai.
"Loh?! Seriusan?! Gimana kaya orang-orang? Masa Presdir nenteng bekal?!"
"Ya, apa salahnya?"
Kesya terdiam. Ia sendiri tidak tau dimana letak kesalahan jika seorang Presdir perusahaan besar menenteng bekal makanan. Namun, tentu saja hal itu akan menjadi berita besar dan akan menjadi gosip para karyawan.
"Lo udah beres? Sebelum ke kantor, gue mau interogasi lo dulu."
"Dih? Apaan? Gue mau balik cepat anterin Ello ke sekolah."
"Alesan banget. Ello udah dianter sama Kak Isa. Nggak usah ngehindar dari gue, katanya lo kangen masa ngehindar."
__ADS_1
"Sopan lo ngomong gitu, Bapak Grandly?!"
Boy akan selalu menyukai wajah Kesya yang malu karenanya.
"Loh? Kan gue cuman ngomong fakta. Katanya ada orang yang sampai nangis-nangis saking kangennya sama gue."
"Dih? Bangga lo? Kalau kata gue sih b aja. Lagian lo juga nggak kangen sama orangnya."
"Kata siapa? Lo nggak liat di kamar?"
"Hah?"
Kesya dibuat bingung oleh ucapan Boy. Otaknya malas untuk diajak berpikir keras pagi ini.
"Di kamar? Apaan? Anjir?! Jangan bilang?!"
"Hahahaha." Boy tertawa seketika karena sadar bahwa pikiran Kesya pasti sudah jorok.
"Bukan hubungan suami istri, ih otak lo jorok banget."
"Gue nggak ngomong gitu ya, Pak! Cepetan ih di kamar apaan?! Bikin penasaran aja."
"Foto lo. Tiap gue kangen, gue selalu cetak foto lo terus gue pajang di dinding kamar."
"Hah?"
"Becanda lo nggak lucu banget" ucap Kesya tertawa canggung.
Melihat Kesya yang tidak percaya, Boy terkekeh pelan lalu berdiri. "Ayo sini lo liat sekalian gue mau siap-siap ke kantor."
*****
Damn. Boy benar.. Foto-foto Kesya sudah terpajang rapi di kamarnya bahkan dengan memo singkat di bawah foto. Kesya sendiri bahkan tidak mempunyai foto-foto dirinya, bagaimana bisa Boy mendapatkan fotonya selama ini?
"Lo nggak pernah tau kan kalau gue selalu fotoin lo diem-diem?" tanya Boy yang membuat Kesya mengangguk pelan.
Boy mengeluarkan ponselnya dan meminta Kesya untuk melihat layar ponselnya yang sedang menyala.
"Loh?!"
Bagaimana Kesya tidak terkejut, Boy memperlihatkan album photo khusus foto Kesya di ponselnya dengan diberi nama "keyy". Apa kalian tau berapa foto yang diambil Boy selama ini? Hampir 10.000 foto..
"Lo paparazi ya? Gue bukan artis ngapain difotoin diem-diem?"
"Biar gue inget aja. Ini pas lo nangis gara-gara rebutan batagor sama ibu-ibu" ucap Boy memperlihatkan salah satu foto Kesya yang sedang menunduk.
Kesya terdiam. Bukan karena ia malu banyak aib miliknya di ponsel Boy. Ia terdiam karena tindakan lelaki itu. Siapa yang pernah mengira bahwa Boy akan selalu mengabadikan momen saat berjalan bersamanya? Kesya bahkan selama ini hanya satu kali memotret lelaki itu diam-diam dan dipajang di meja dekat tempat tidur kamarnya.
__ADS_1
"Kak.."
"Eh—lo nggak suka ya? Sorry, nanti gue apus dan gue lepas semua. Sorry karena gue cuman berani diem-diem aja.."
Boy merasa sangat bersalah ketika melihat Kesya yang menatapnya penuh arti.
"Lo nggak sopan sih gini sebelum kita jadian."
"Jadi, mau jadian sekarang?"
*****
Saat ini keduanya sedang berada di depan televisi yang menyala. Boy bergerak untuk mengambil remote dan mematikan televisi membuat Kesya yang sedang fokus menonton kartun menatapnya dengan kesal.
"Lo nggak bisa liat gue bahagia sehari aja?" gerutu Kesya yang membuat Boy terkekeh pelan.
"Gue nggak kasih izin sih apalagi bahagianya tanpa gue."
"Dih?"
"Gue mau interogasi lo sekarang."
Mendengar ucapan Boy, Kesya menghela nafas pelan. Mau ditutupi selama apapun, ia akan selalu mencari Boy untuk mendengar ceritanya. Ia tidak bisa memendam semuanya lagi dihadapan lelaki itu.
"Tebakan lo bener. Alesan gue ke bar ya karena itu, karena berita itu."
Sampai kapan pun lo akan selalu mencintai dia. Gue bisa bersaing sama orang yang suka lo juga tapi gue nggak akan pernah bisa bersaing sama dia yang udah duluan ngisi kekosongan hati lo.-Boy.
Boy seolah enggan untuk menjawab ucapan Kesya. Sebenarnya, jauh dalam lubuk hati Boy bahwa ia sangat ingin memberontak. Ia ingin marah karena keberadaannya selama ini seolah tidak pernah dianggap. Namun apa daya, ia tetap seorang lelaki bernama Boy yang tidak akan bisa mengutarakan semua perasaannya.
"Jujur, gue cukup kaget dengan berita itu walaupun gue udah nggak tau apa perasaan gue masih tetap sama atau perlahan pudar. Gue berpikir sangat lama sampai gue dapat jawaban atas keputusan gue. Iya, gue mundur, Kak.."
"Hah?!"
"Iya, mundur.. gue nggak mau jadi penghalang pernikahan mereka.. gue mau berusaha mengikhlaskan semuanya walaupun gue belum tau keputusan gue udah bener atau belum. Kedepannya gue cuman mau fokus sama Ello aja" ucap Kesya tersenyum tipis.
Senyum itu bukan senyum bahagia, melainkan sebuah senyum yang mengatakan bahwa dirinya sudah cukup lelah dan hanya satu yang ia inginkan sekarang yaitu berisitirahat.
"Hati lo perlu istirahat."
Singkat, namun berhasil mengundang air mata Kesya mengalir.
Gue nggak tau lagi harus balas apa dengan semua yang udah lo lakuin ke gue, Kak..-Kesya.
*
*
__ADS_1
*