
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
“Rey masih emosi mungkin”
Seolah sadar dirinya keceplosan, Steven segera menutup mulutnya rapat-rapat membuat Gabriel dan Raka langsung menatapnya tajam.
“Emosi? Emosi kenapa, Bang?”
Aduh.-Steven.
“Eh—udah siap semua kan? Yuk balik”
“Abang.. Bang Stev sembunyiin apa dibelakang Kesya?”
“Nggak, Abang cuman salah ngomong. Udah ah jangan mikir aneh-aneh”
“Kak..”
“Pulang ya?”
Akhirnya, Kesya tak menemukan jawaban atas keanehan Rey dan ucapan Steven.
*****
Baru saja mobil Devan terparkir di halaman rumah Kesya, terlihatlah sosok anak sekolah menengah pertama yang berlari kearahnya. Asyera berlari ketika melihat mobil Devan berhenti di pekarangan rumahnya karena bisa ia pastikan bahwa itu adalah Kesya yang baru saja pulang dari rumah sakit.
“Kak Kesya” teriak Asyera ketika melihat Kesya keluar dari mobil Devan.
Dengan segera Asyera memeluk Kakak yang sudah lama ia rindukan. “Kak, gimana keadaannya?”
“Tunggu Kak Kesya masuk dulu, dek” ucap Steven yang membuat Asyera terkekeh pelan.
Dengan telaten, Asyera menuntun Kesya untuk masuk ke rumah ditemani oleh Devan dan Steven yang masing-masing membawa barang-barang keperluan Kesya selama di rumah sakit.
“Sepi, dek?”
Seolah tau apa maksud dari sang Kakak, Asyera pun segera menjawab. “Mami Papi nggak ada dirumah, tadi keluar.”
“Kemana?”
“Emangnya pernah dikasih tau kemana, Bang?” tanya Asyera terkekeh pelan.
“Key, aku pulang dulu ya?” ucap Devan yang berpamitan kepada Kesya.
“Loh? Udah mau pulang, Kak?”
“Iya, Papa tadi telfon minta jemput Ziko di bandara.”
“Ziko siapa, Dev?” tanya Gabriel.
“Temen kecil, Kak. Sekalian temen satu apartemen juga tar di sana”
__ADS_1
“Oh gitu”
“Yaudah, pamit dulu semuanya.”
Devan pun segera beranjak dari rumah Kesya meninggalkan Kesya, Steven, Gabriel, dan Asyera.
Tak lama terdengar suara mobil berhenti membuat Kesya semakin takut jika itu Mami Papi nya.
“Jangan takut, Kak” ucap Asyera lalu menggenggam erat tangan Kesya yang sudah dingin.
“Nggak mau istirahat di kamar aja?”
“Mau Kak Rey” ucap Kesya pelan.
Baru saja Steven hendak menelfon Rey, ternyata yang dicari baru saja masuk ke dalam rumah bersama dengan Boy.
“Kak Rey, sini” ucap Kesya menepuk sofa disebelahnya membuat Rey segera berjalan mendekat.
“Gimana? Makin membaik?”
“Kak Rey kemana aja sama Kak Boy? Pergi mulu”
“Ada urusan bentar, Key”
“Kak Rey nggak marahan sama Kak Devan, kan?” bisik Kesya agar hanya dirinya dan Rey yang mendengar karena ia tak ingin Gabriel mengetahuinya.
Rey terkekeh pelan lalu menggeleng membuat Kesya menghela nafas lega. “Kesya nggak akan maafin diri Kesya sendiri kalau bikin ulah di persahabatan kalian.”
“Udah ah, nggak usah ngomong yang aneh-aneh.”
“Boy, bisa ngobrol bentar?” tanya Gabriel yang membuat semuanya terdiam seketika.
“Gapapa, Cantik. Urusan cowok” ucap Gabriel terkekeh pelan.
Akhirnya ia dan Boy pergi ke luar rumah untuk membicarakan hal yang serius. Hal yang Boy pastikan ada hubungannya dengan Rey yang menghindar dari Devan.
Teras Rumah
Gabriel duduk di salah satu kursi yang ada di teras rumah dengan Boy yang mengikutinya.
“Masalah Rey ya, Kak?” tanya Boy to the point.
Gabriel tersenyum tipis. “Dia ngehindar karena Devan?”
Boy hanya mengangguk karena memang itu faktanya.
“Jadi? Semua omongan Rey ketika di ruangan Kesya, fakta?”
“Kak Gab nggak percaya, ya?” tanya Boy ketika Gabriel sedikit meragukan ucapan Rey saat di rumah sakit.
“Nggak, bukan nggak percaya karena gue kenal Rey dengan emosinya. Cuman gue nggak habis pikir aja karena kan mereka sahabatan.”
“Sorry, Kak. Emang salah gue”
“Gue nggak menyalahkan lo, Boy.”
“Tapi emang faktanya gitu. Harusnya gue biasa aja ke Kesya jadi Devan nggak akan punya masalah dengan Mas Raka atau pun Rey.”
__ADS_1
“Oke, skip aja. Lo nggak akan pernah berhenti nyalahin diri lo kalau gini terus. Lo tetap lanjut ke Seoul bareng Stev?”
Boy mengangguk pelan.
“Lo tau kan gue bakal ngomong apa?”
“Kesya ya?”
“Iya. Tolong gue pantau Kesya ya, Boy. Maaf karena lo harus dapet tanggung jawab lagi.”
“Gue bakal berusaha buat jagain Kesya, cuman gue nggak bisa janji dia nggak akan nangis disana. Tapi gue janji nggak akan nyakitin dia dengan sengaja.”
“Gapapa, namanya juga cewek, bisa nangis tiba-tiba. Yang penting lo pantau kesehatan sama pergaulannya aja.”
“Aman, Kak.”
Gabriel menghela nafas berat sebelum kembali membuka suara. “Sorry ya, Boy. Lo harus ikut campur dengan rumitnya keluarga gue.”
“Kak, kalau sekali lagi lo ngomong sorry, lagu yang judulnya Jangan Sampai Tiga Kali seketika musnah”.
Gabriel tertawa mendengar lawakan Boy yang cukup garing namun berhasil membuatnya bernafas lega. “Kalau gue ngomong sorry lagi, gimana?”
“Gue doain ucapan sorry diganti sama duit biar gue jadi jutawan.”
“Sialan.”
*****
Keesokan harinya, semua orang sudah berkumpul di bandar udara karena Dio akan kembali ke New York untuk melanjutkan perkuliahannya. Setelah semua orang sudah mengucapkan salam perpisahan, gadis itu masih enggan beranjak dari tempatnya berdiri dan hanya menunduk. Entah apa yang ia pikirkan tapi bisa dilihat dari raut wajahnya ia sedang memikirkan banyak hal.
Karena larut dalam pikirannya, gadis kecil itu tidak menyadari bahwa seseorang berjalan mendekat.
“Nggak mau peluk brother?”
Seketika, air mata itu tumpah saat ia menatap wajah Kakak nya yang saat ini sedang tersenyum.
Kesya langsung memeluk Dio dengan erat seolah tidak ingin membiarkannya untuk pergi. Dio yang merasakan pelukan itu semakin mengerat pun hanya tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala sang Adik beberapa kali.
“Brother.. nanti Kesya sendirian..”
Dio terkekeh pelan. “Hei, kan masih ada yang lain. Kalau brother nggak balik buat nyelesain kuliah, gimana bisa cepet-cepet tinggal di Indo?” tanya nya seraya tangannya tak berhenti untuk mengelus pucuk kepala Kesya.
“Kesya ditinggal sendiri ya..”
“Nggak, Sayang. Kan masih ada yang lain disini nemenin Kesya. Ada Dhea dan Rere juga”
Kesya menghela nafas berat lalu melepas pelukannya membuat Dio terdiam karena takut salah omong.
“Brother hati-hati ya. Jangan lupa kabarin Kesya ya kalau udah sampai.”
Dan begitulah hari-hari Kesya kedepannya. Ia akan selalu pergi ke bandar udara untuk mengantar orang-orang yang ia sayang. Setelah keberangkatan Dio, tiga hari setelahnya Gabriel dan Isabelle pun terbang kembali ke Amerika, lalu seminggu kemudian Devan bersama Ziko juga akan terbang, dan keberangkatan mereka diakhiri dengan Steven, Rey, dan Boy.
Kesya akan kembali ke kehidupannya yang dulu. Atau mungkin lebih parah (?).
*
*
__ADS_1
*