
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Kesya tertawa canggung seraya tetap menatap lekat mata kakaknya seolah mencari kebohongan didalamnya. Namun, nihil. Kesya tidak menemukan kebohongan apapun.
“Kak Rey, kalo becanda jangan kelewatan dong” ucap Kesya yang berusaha untuk tidak mempercayai apapun.
Seketika, Rey menangkup wajah Kesya agar mata mereka saling bertemu. Hanya dengan tatapan, Kesya bisa mengetahui baha Rey tidak berbohong dan semuanya memang benar.
Berita yang sangat tak ingin ia dengar terlebih saat dirinya baru saja terbangun dari koma. Sungguh, saat ini Kesya harus menyalahkan siapa atas semua yang terjadi? Ia tak terima, sungguh tak terima dengan berita yang ia dengar. Lagi, ia harus merasakan kehilangan.
Rey dengan segera merengkuh tubuh gadis mungil dihadapannya ketika air mata mulai menetes membasahi wajah cantik Kesya. Ia akan bertanggung jawab dengan keputusannya dan ia siap untuk menjadi tameng Kesya sekarang.
“Kak.. ini salah Kesya ya..? Karena Kesya jahat, Kiara jadi pergi..”
Hati Rey sungguh sakit ketika mendengar tangisan sang adik yang selama ini berusaha ia bahagiakan. Apalagi ketika Kesya lagi-lagi menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi membuat Rey sangat tidak tega.
“Kesya mau liat Kiara, kan? Ayo, dek”
Setelah tangisan Kesya mulai mereda, dengan sigap Rey menggendongnya lalu mendudukkannya di kursi roda yang sudah dikeluarkan oleh Boy.
Ketika Rey mendorong kursi roda dan semakin dekat dengan pintu utama, genggaman tangan Kesya mengerat dan Rey tau bahwa Kesya sungguh tidak siap untuk melihat semua yang terjadi di dalam rumah.
“Kak Kesya” ucap Asyera ketika melihat kakak perempuannya mendekat
Setelah memeluk Asyera, Kesya bersama dengan Rey dan Boy yang dengan setia menemaninya mulai mendekat kearah tubuh seseorang yang sudah pucat yang akan ditutupi dengan peti mati.
Dan.. benar saja.. tubuh itu adalah Kiara.. dan wajah itu tertidur dengan damai..
Kesya menangis, mengelus rambut sang kakak berkali-kali dan menahan sesak di dadanya ketika ia melihat jenazah Kiara sudah siap untuk dimakamkan.
Rey akan selalu ada untuknya, seperti sekarang ia langsung memeluk gadis kecil itu sehingga lagi-lagi pertahanan Kesya runtuh, ia menangis sejadi-jadinya dihadapan tubuh Kiara yang sudah tertidur dengan damai.
“Key..”. Kesya merasakan bahwa Boy ikut menenangkannya dengan mengelus punggungnya beberapa kali.
Namun, sungguh air matanya tidak ingin berhenti keluar. Tatapannya kosong dan yang ia lihat hanyalah tubuh kembarannya.
“Peti akan segera ditutup” ucap pendeta yang sedang mengibadahkan jenazah Kiara yang terakhir kalinya.
Dengan berat hati, Papa Aldino, Gabriel, Dio, dan Steven juga dibantu oleh beberapa orang mulai menutup peti Kiara dan mengangkatnya ke dalam ambulance agar segera dimakamkan.
“Rey, gue disini sama Kesya”. Seolah mengerti maksud Boy, dengan segera Rey membantu mengangkat peti tersebut hingga masuk ke dalam ambulance.
Boy segera berganti posisi dengan Rey dimana ia akan berdiri dibelakang Kesya dan mengelus pucuk kepala gadis itu beberapa kali. “Lo kuat kan, Key? Gue disini”
Lagi. Air mata yang sempat mongering mulai keluar ketika Kesya mendengar ucapan Boy yang benar-benar peduli dengannya.
*****
Saat dalam perjalanan menuju pemakaman umum, ponsel Dhea berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk.
“Lo dimana?”. Ternyata, panggilan dari Devan.
__ADS_1
“Masih di jalan, kak”
“Gue langsung kesana”
“Oke.”
Panggilan pun terputus.
“Kak Devan?” bisik Rere yang masih terdengar jelas di telinga semua orang yang ada di dalam mobil saat itu.
Rey hanya diam seraya mengelus pucuk kepala adiknya beberapa kali.
“Kak?”
“Hm? Ada apa, Cantik?”
“Kenapa Kiara ninggalin Kesya?”
Tidak ada jawaban. Hanya ciuman singkat pada pucuk kepala Kesya.
“Kiara pasti kedinginan..”. Hening.
“Kiara pasti sedih.. Dia sendirian disana..”. Hening.
“Coba aja Kesya yang duluan pergi..”
“HEH!!”
Semuanya benar-benar merespon hal yang sama ketika Kesya kembali meracau.
“Ngomong apa sih?”
“Gue nggak suka lo ngomong gitu”
Semuanya seketika menanggapi membuat Kesya tiba-tiba tersenyum tipis.
“Biar nggak jadi beban kalian.”
Key..
*****
Baru saja pemakaman berakhir dengan peti mati yang diturunkan membuat semua orang yang hadir perlahan-lahan pamit pulang dan akhirnya hanya tersisa mereka disana.
“Apa yang kamu tangisi?! Apa kamu puas ketika melihat anak saya sudah pergi?!”. Teriakan Citra membuat semua orang terkejut.
Tangisan Kesya semakin pecah namun ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. “Untuk apa kamu kemari?! Untuk menertawakan anak saya?!”
“Tante!!” teriak Rey yang sudah tidak terima akan semua yang keluar dari mulut Citra.
Dengan segera Kesya menahan tangan Rey dengan tujuan agar kakaknya diam dan tidak menanggapi apa yang Mami nya bicarakan.
“Apa kak Kesya bukan anak Mami?”
Dengan suara bergetar, Asyera memberanikan diri berbicara dihadapan semuanya.
“Yera, jangan ikut campur dengan urusan Mami.”
__ADS_1
Asyera tersenyum sinis. “Karena Yera anak kecil?”
“Asyera!!”
“Tolong, berhenti.. Kesya nggak mau ada keributan..”
“Semuanya gara-gara kamu. Pergi kamu dari sini dan jangan pernah menunjukkan wajah sialan mu dihadapan saya”
“Mami!!”. Gabriel berteriak dengan wajah memerah menahan amarah
Rey mendekat dan menatap Citra dengan tatapan yang sulit diartikan. “Apa Tante tidak punya rasa malu? Bahkan Kesya keluar dari rahim yang sama dengan Kiara. Lalu, apa yang membedakan mereka?”
“Rey..”
“Apa yang membedakan antara Kesya dan Kiara hingga Tante tidak pernah menganggap Kesya ada?!” teriak Rey menjadi ketika ia menatap Citra yang bahkan tak ingin menjawab ucapannya
“Baiklah, jika itu yang anda mau. Saya tidak akan tinggal diam ketika adik saya disakiti.”
“Pi.. suruh dia pergi” ucap Citra kepada suaminya namun tetap tidak ingin menanggapi kehadiran Rey
Kesya menggenggam tangan Boy. “Kak, Kesya mau pulang”
“Pergi.” Hanya dengan ucapan itu, air mata Kesya kembali jatuh.
“Saya permisi”. Dengan bantuan Boy, Kesya akhirnya meningalkan pemakaman dan disusul oleh Rey yang masih terbawa emosi.
“Key..”
Ternyata, pemandangan tersebut disaksikan oleh Devan dan Jojo yang berdiri lumayan jauh dari kerumuman orang-orang.
*****
Sepanjang perjalanan, Kesya hanya diam dan melamun bahkan dirinya tidak sadar jika mobil sudah berhenti di halaman rumah sakit. Rey dengan segera menggendong sang adik dan memdudukkannya di kursi roda yang sudah dikeluarkan oleh Boy lalu mendorongnya menuju ruangannya.
“Kak.. Kesya mau tidur”. Bohong, Kesya berbohong agar semua orang meninggalkannya sendiri.
Rey mengerti jika Kesya butuh waktu untuk menyendiri namun ia tidak ingin adiknya kesepian. “Kak Rey boleh disini?”
“Kak.. Kesya boleh minta kak Devan kesini?”
Deg.
Raut wajah Rey benar-benar berubah ketika mendengar sang adik meminta Devan untuk menemuinya. Mau tak mau akhirnya Rey menyetujui hal itu.
Tak butuh waktu lama untuk Devan sampai di ruangan Kesya.
“Key..”
“Kak, boleh temenin Kesya?”
“Iya, Sayang. Aku disini..”
Untuk pertama kalinya Devan mengatakan aku.
*
*
__ADS_1
*