Tentang Kesya

Tentang Kesya
Berita Buruk


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


"What do we want to eat?" (Apa yang ingin kita makan?) tanya Widya saat mereka kembali berkumpul di taman setelah menyelesaikan kelas pertama.


Lee Jang Jun menggeleng pelan. "I just followed." (Aku hanya mengikuti.)


"Key, lo mau makan apa?"


"Canteen or restaurant?" (Kantin atau restoran?)


"Canteen. I want banana milk" (Kantin. Aku mau susu pisang.) ucap Kesya yang membuat semuanya tertawa.


"Remember age. U r already big, why do u like milk?" (Ingat usia. Kamu sudah besar, kenapa kamu suka susu?) tanya Edward yang masih tidak habis pikir dengan Kesya yang menyukai susu di umurnya yang sekarang.


"Edward, do u live in ancient times? Milk is very delicious." (Edward, apakah kamu hidup di zaman kuno? Susu sangat enak.)


"Ana aneh" ucap Edward yang membuat Widya dan Kesya tertawa.


"Anak not ana." (Anak bukan ana.)


*****


Kesya baru saja kembali dari kampus pada sore hari dimana ternyata Steven juga sudah pulang. Keadaan apartemen tentu saja sangat canggung karena keduanya benar-benar tidak saling sapa.


Kesya hanya bisa menatap punggung Steven yang berjalan masuk ke dalam kamar. Ia sangat ingin memulai obrolan tapi ketika melihat Steven yang seolah tidak menghiraukannya membuat Kesya kembali mengurungkan niatnya.


Ting.


Ponsel Kesya berdering menandakan sebuah notifikasi pesan dari seseorang.


Anonymous People.


Where are u guys? I am so bored in the apartment.-Widya. (Dimana kalian? Aku sangat bosan di apartemen.)


Want to visit my apartment?-Azka. (Ingin mengunjungi apartemen ku?)


****. Don't play in bed ã…‹ ã…‹ .-Edward. (Sialan. Jangan bermain di ranjang.)


Edward gila. Otak lo emang perlu disaring.-Widya.


U must be swearing.-Jang Jun. (Kamu pasti bersumpah.)


Hey come on, I am bored. Where is Kesya?-Widya. (Hei ayolah, aku bosan. Kesya dimana?)


I'm in the apartment. The atmosphere is so awkward ã…‹ ã…‹ .-Kesya. (Aku di apartemen. Suasananya begitu canggung.)


Let's go to the mall. I'll pick u up in a minute.-Azka. (Ayo pergi ke mall. Aku akan menjemputmu sebentar lagi.)

__ADS_1


Semua orang tau cerita tentang Kesya sehingga mereka mengerti apa yang terjadi di apartemen Kesya. Semuanya pun sudah mengenal Ello secara tidak sengaja hingga membuat mereka semakin bangga mempunyai sahabat seperti Kesya.


Don't forget to bring my son.-Jang Jun. (Jangan lupa ajak anak ku.)


****. MY SON?! OH MY GOD!-Widya. (Sial. Anakku?! Ya Tuhan!)


Entah kenapa semua orang kompak untuk tidak membalas pesan Widya yang sedang heboh sendiri.


*****


Beberapa bulan kemudian, hari ini adalah genap satu tahun akhirnya Kesya tinggal di negeri orang dengan baby Ello yang sudah berusia satu tahun dua bulan.


Sebelumnya, saat ulang tahun ke satu tahun, Kesya hanya mengadakan pesta kecil-kecilan yang mengundang para sahabatnya saja dan dua Ahjumma yang bekerja untuknya. Pesta tersebut berjalan dengan lancar terlebih ketika Steven yang akhirnya sudah mulai berbicara kepada Kesya walaupun tidak disengaja. Hal itu tentu membuat Kesya sangat senang.


Saat ulang tahun Ello pun, ia tentu saja banjir hadiah oleh semua orang, ada yang mengirimkan uang ke atm Kesya yang khusus untuk keperluan Ello, ada yang mengirimkan hadiah, bahkan yang lebih parahnya adalah ketika Papa Aldino sudah mempersiapkan rumah atas nama Ello. Bagaimana dengan Franklin? Seolah tidak mau kalau, ia pun juga sudah menyiapkan mobil mewah untuk cucunya.


Kesya hanya bisa menghela nafas berat mendengar berita itu. Bukannya senang, ia malah semakin stress saat melihat kedua orang tuanya malah menghabiskan uang. Ello baru berumur satu tahun, tolong..


Hei, jangan lupakan Dexter dengan ide nyeleneh nya yang sudah membelikan saham di perusahaan keluarganya atas nama Ello.


Rey? Oh tentu semakin membuat Kesya stress saat ia membelikan satu peternakan sapi penuh dengan isinya di Indonesia hanya karena Ello menyukai boneka sapi yang dibelikan oleh Widya saat itu.


"Bang" panggil Kesya saat melihat Steven berjalan melewatinya.


Steven hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus berjalan ah bukan ia sedang berlari mendekati Ello yang sudah bisa berjalan menghamburkan segala mainan.


"No!" ucap Steven setengah berteriak saat Ello hendak melemparkan stik playstation miliknya.


"Nakal banget" ucap Steven seraya memukul pelan tangan Ello yang malah membuat bocah itu tertawa.


"Dasar, tau aja mana yang mahal. Papa marah nih."


"Abang?!"


"Apaan?"


"Gue kok mual ya, Bang?"


Mendengar hal itu, Steven segera berlari menghampiri Kesya yang sedang memakan ice cream di meja makan.


"Anying?! Lo main sama siapa?!"


Plak.


"Gini nih pengaruh circle Dexter" ucap Kesya dengan kesalnya.


"Ya lagian lo tiba-tiba bilang mual, siapa yang nggak panik" ucap Steven membela diri.


Boy berjalan melewati keduanya seraya memberikan sebuah obat kepada Kesya tanpa mengucapkan apapun.


"Gini loh maksud gue. Udah paling bener cuman Kak Boy yang normal."


*****

__ADS_1


Malam ini entah kenapa Kesya tiba-tiba susah untuk tidur. Perasaannya sangat gelisah bahkan ia terlalu takut tidur sendiri. Ditatapnya jam dinding yang menunjukkan pukul 01:29 waktu setempat membuatnya mengurungkan niat untuk membangunkan Steven yang mungkin sudah tertidur.


Berkali-kali Kesya mencoba untuk memejamkan matanya namun tetap saja saat ia menutup mata malah membuat perasaannya semakin gelisah hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Boy.


Kak Boy


Kak? Udah tidur?-Kesya.


Boy yang saat itu baru saja hendak tidur pun dikejutkan dengan notifikasi pesan dari Kesya membuatnya segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar Kesya.


Klek


Pintu kamar terbuka dan masuklah Boy lalu berjalan mendekati Kesya.


"Nggak bisa tidur?" tebak Boy tepat sasaran membuat gadis itu mengangguk pelan.


"Kepikiran apa? Udah minum susu?"


"Nggak tau, perasaan gue gelisah banget, Kak. Susu bahkan udah habis tiga gelas tapi tetep aja makin gue nutup mata malah makin gue takut" ucap Kesya pelan.


"Udah, mungkin perasaan lo aja. Udah jam satu nih mending tidur gih nanti gue temenin, lo kan ada kuliah pagi."


Kesya pun berusaha untuk kembali tidur dengan ditemani oleh Boy yang duduk di tepian tempat tidur. Namun, perasaan gelisah Kesya semakin terasa membuatnya tanpa sadar menggenggam tangan Boy dengan erat.


Saat ia menutup mata, ia benar-benar takut hingga keringat dingin mengucur deras di wajahnya. "T-takut, Kak.."


Boy mendekati Kesya seraya mengelus pucuk kepala gadis itu membuat Kesya segera membuka matanya. "Aneh, tiap gue merem dada gue sesak banget.."


Hal itu membuat Boy mengerutkan keningnya heran karena untuk pertama kalinya Kesya merasakan hal seperti ini.


"Pegang tangan gue dan nafas pelan-pelan. Gue nggak pergi, gue temenin lo disini."


Tubuh Boy bergetar saat melihat Kesya yang sangat ketakutan, ia seolah merasakan deja vu seolah melihat dirinya yang pernah bermimpi buruk. Boy tau bagaimana rasanya sehingga ia akan berusaha untuk menemani Kesya hingga gadis itu bisa tertidur nyenyak lagi.


Baru saja Kesya kembali berusaha untuk tidur, ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Papa Aldino yang membuat jantungnya berdetak kencang.


Ada apa Papa Aldino menghubunginya tengah malam seperti ini? Terlebih saat ini di Indonesia sudah pukul 23:48 WIB. Tangan Kesya bergetar saat mengambil ponselnya. Ia segera mengangkat panggilan tersebut tak lupa dengan mengaktifkan speakernya agar Boy juga bisa mendengarnya.


"H-halo..? Kenapa, Pa..?" ucap Kesya saat panggilan sedang berlangsung.


Papa Aldino diam namun helaan nafas berat membuat Kesya semakin yakin bahwa ada berita buruk yang terjadi.


"Pa..? Kenapa diem..? Semuanya baik-baik aja, kan..?"


"Nak, Papi udah nggak ada."


Deg.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2