Tentang Kesya

Tentang Kesya
Keputusan Rey


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


“Setelah ini, Kesya boleh kembali istirahat” ucap Raka setelah memeriksa keadaan adiknya secara menyeluruh


Rey yang melihat Raka hendak pamit pun langsung menahan lengannya. “Mas, nggak diperiksa lebih serius? Siapa tau nanti banyak memori yang hilang”


“Heh, itu sama aja kak Rey doain Kesya amnesia”


“Astaga, kalian ini. Baru saja Kesya sadar sudah berdebat lagi”


“Mas Raka nggak lihat? Muka kak Rey itu loh bikin enek banget”


Raka hanya bisa menggelengkan kepala melihat perdebatan antara adik-adiknya. Dalam hati kecilnya, ia bersyukur karena setelah sadar Kesya masih kembali menjadi seperti yang dulu.


Sebenarnya, jauh dalam lubuk hati Raka, ia sangat takut karena sudah terhitung tiga minggu adiknya masih dalam keadaan koma. Ia takut jika ia harus kehilangan adiknya, dan ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk terjadi pada Kesya.


“Kak Gab udah balik ke Amrik ya?” tanya Kesya saat melihat kakak kandungnya tidak ada di ruangan.


Dhea mendekat dan menatapnya penuh arti. “Kak Gab kan belum jalan berdua sama lo, masa langsung balik aja? Dia istirahat dirumah, Key”


Sorry, gue terpaksa bohong, Key.-Dhea


“Kak, boleh bicara dengan Mas sebentar?”. Raka mengajak Rey untuk keluar ruangan tentu yang sudah bisa ditebak bahwa topik yang akan mereka bicarakan adalah mengenai pemakaman Kiara besok.


“Kak Boy?”


Setelah mendengar Kesya memanggil namanya, dengan segera Boy berjalan mendekat


“Tiga minggu itu lama, kan?”. Boy tau arah pembicaraan Kesya kemana.


Boy hanya bisa mengangguk.


“Ehm, apa Mami Papi ada kesini?” tanya Kesya dengan hati-hati.


“Ada, Key” ucap Boy dengan tatapan yang sulit diartikan


Saat melihat manik mata itu berbinar, Boy sungguh merasa sangat bersalah.


“Really? Kesini? Jenguk Kesya, kan?”


“Key, tidur lagi aja ya”. Dhea berusaha membantu Boy untuk mengalihkan pembicaraan


“Keknya gue bakal mimpi indah malam ini.”


Begitulah Kesya menutup mata dengan senyuman yang masih terukir jelas di wajahnya membuat Boy, Dhea, dan Rere hanya bisa saling tatap.


*****

__ADS_1


Depan Ruangan VVIP


Raka mengajak Rey untuk duduk dan berbicara didepan ruangan Kesya. Semua orang pun tau, topik apa yang akan mereka bicarakan malam ini.


“Apa butuh bantuan Mas untuk menjelaskan semuanya?”. Perlahan, Raka membuka suara dengan pelan


Rey menghela nafas berat sebelum ia menanggapi pertanyaan yang keluar dari mulut kakak pertamanya. “Pemakamannya besok, Mas?”


Raka mengangguk pelan namun matanya tak lepas dari sang adik. “Jika berat, biarkan saja Kesya istirahat dulu lalu Mas akan bantu menjelaskan kepadanya”


“Akan semakin Kesya ngerasa bersalah kalau nggak ada di detik-detik terakhir Kiara”


“Lalu? Kakak maunya bagaimana?”. Raka bertanya tentang pendapat sang adik.


Rey kembali menghela nafas berat sebelum mulai berbicara. “Nganter Kesya kesana”


“Apa kakak yakin?”


“Yakin, Mas. Rey yang akan bertanggung jawab untuk keputusan Rey sekarang”


Raka tersenyum tipis seraya menepuk pelan bahu sang adik. “Tolong antarkan adikmu sebelum proses pemakaman berlangsung. Mas yakin kakak bisa”


Keputusan yang diambil Rey memang tidak mudah mengingat sifat adiknya yang akan sangat tertutup. Ia sudah memikirkan apa saja resiko yang akan dihadapi ketika ia membawa Kesya pulang ke rumah besok termasuk mungkin saja rasa kebencian yang ada di hati kedua orang tuanya akan semakin besar terhadapnya. Dan Rey, sudah siap menjadi tameng untuk adiknya.


*****


Kediaman Franklin


Asyera sedikit terkejut melihat sosok yang ada dihadapannya.


Isabelle pun berjalan mendekat dan memeluknya. “Kak Gab nggak mau keluar, dek?”


“Masih stay di kamar, kak” ucap Asyera lemah.


Isabelle adalah seorang model ternama di Amerika yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun dengan Gabriel yang diketahui sebagai mahasiswa akhir. Ia pun sudah mengetahui bagaimana cerita keluarga sang kekasih terutama tentang Kesya, adik perempuan kesayangan Gabriel. Bahkan dirinya pun sudah sangat akrab dengan adik-adik kekasihnya karena walaupun jarang pulang ke Indonesia, Isabelle kerap mengirimkan kabar kepada adik-adik Gabriel.


“Kak Isa ke atas ya?”. Setelah pamit, Isabelle pun beranjak menuju kamar Gabriel yang ada di lantai atas.


Klek


Pintu terbuka dan yang pertama kali dilihatnya adalah sosok bahu yang rapuh. Pria yang sangat membutuhkan pelukan sekarang.


Isabelle mendekat dan memeluk kekasihnya yang sedang berdiri melamun di balkon kamar menatap langit malam yang sangat indah.


“Loh? Sayang?” ucap Gabriel berbalik ketika merasakan ada tangan kecil yang memeluknya.


“Ayo, nggak boleh tutupin kesedihannya” ucap Isabelle tersenyum seraya mengelus punggung Gabriel beberapa kali.


Detik berikutnya, pertahanan Gabriel pun hancur karena Isabelle merasakan bahwa bahunya sudah basah akibat air mata.


Isabelle akan bersikap seperti seorang ibu ketika kekasihnya berusaha untuk menutupi kesedihannya sendiri. Ia tau, Gabriel akan berusaha tegar didepan orang-orang namun tetap saja, ia hanya manusia yang juga membutuhkan pelukan.


*****

__ADS_1


Hari yang ditakutkan pun tiba, dimana pagi kembali menampakkan diri seolah menagih janji Rey hari ini yang akan membawa Kesya kembali ke rumahnya.


Semalaman, Rey tidak bisa tidur karena takut jika keputusan yang ia buat akan berpengaruh sangat besar dalam hidup adiknya. Namun, jika ia tidak melakukannya sekarang, maka bisa dipastikan bahwa Kesya akan menyesali hari ini seumur hidupnya.


“Abis minum obat kita keluar ya” ucap Rey memecahkan keheningan.


Boy, Dhea, dan Rere hanya bisa diam dan saling menatap ketika tau keluar mana yang Rey maksud.


“Emang udah boleh keluar, ya?”


“Tadi kak Rey udah izin ke Mas”


“Kok mencurigakan ya?”


“Apanya?”


“Tumben nggak ngomong lo-gue”


“Nggak usah ngajak rebut, masih pagi juga” gerutu Rey yang membuat Kesya tertawa.


*****


“Kak, kok ini jalan kerumah sih? Emang udah boleh pulang, ya?” tanya Kesya heran ketika mobil yang membawa mereka keluar dari rumah sakit memasuki jalan kompleks rumahnya.


“Nanti kak Rey jelasin ya” ucap Rey seraya menggenggam tangan Kesya erat.


Kesya yang sudah sangat penasaran pun kembali membuka suara. “Kak Boy? Ada apaan dirumah?”


“Sabar ya, Key. Bentar lagi sampai”


Semuanya diam tanpa tau harus mengatakan apa lagi terlebih mobil semakin mendekat memasuki pekarangan rumah Kesya.


“Kak? Ada bendera hitam dan ambulance.. Ini sebenarnya ada apa sih?”


Kesya merasakan genggaman tangan Rey semakin erat membuatnya dipenuhi tanda tanya tentang apa yang terjadi selama ia koma.


“Boy, boleh minta tolong keluarin kursi roda Kesya?”. Boy pun langsung keluar bersama dengan Dhea dan Rere yang seolah memberikan ruang untuk Rey menjelaskan pada Kesya sekarang.


“Kak Rey?! Ada apa?!”


“Key..”


“Ada apa, kak..?”


“Janji dulu kalau adeknya kak Rey nggak boleh pendem sedihnya”


“Kak Rey malah bikin Kesya penasaran. Ada apa?!”


“Key.. Kiara udah pergi..”


Deg.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2