Tentang Kesya

Tentang Kesya
Kak Devan?


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Sudah seminggu lamanya Kesya berada di negara orang yang dimana ia sendiri tidak mempunyai kenalan atau pun kerabat dekat.


Kesya mulai berkuliah melanjutkan pendidikan tiga hari yang lalu dimana ia memilih perkuliahan 4 kali pertemuan dalam seminggu. Dan Ello pun sudah disekolahkan di sekolah yang tidak jauh dari kampusnya sehingga ia bisa menjemput anaknya saat pulang dari kampus.


Diketahui bahwa Kesya memilih sekolah untuk Ello dengan berbagai rekomendasi dari internet sehingga pilihannya jatuh pada sekolah anak yang sangat bagus dengan banyak kelas yang bisa diikuti setiap harinya.


Awal pertama masuk sekolah, Ello sudah mempunyai banyak teman karena ia sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan bahkan gurunya selalu memujinya dihadapan Kesya.


"Ello is very smart today. He shared his lunch with his classmates." (Ello sangat pintar hari ini. Dia berbagi makan siangnya dengan teman-teman sekelasnya.)


Laporan yang Kesya dapatkan saat menjemput Ello hari ini.


"Thank u very much, Miss. Ello, what should u say when Mrs. Ley praised u?" (Terma kasih banyak, Miss. Ello, apa yang kamu katakan ketika Mrs.Ley memuji mu?)


Ello segera mencium punggung tangan Mrs.Ley. "Thank u, Mrs. Ley." (Terima kasih Mrs.Ley.)


Kesya pun berpamitan dan mengajak anaknya untuk pergi ke kedai ice cream yang baru saja dibuka pagi ini.


"Mommy, can I call Daddy now?" (Mommy, bisakah aku menelepon Daddy sekarang?) tanya Ello saat mereka baru saja memesan ice cream.


Kesya tersenyum tipis lalu mengangguk dan memberikan ponselnya kepada Ello. Sudah bisa ditebak topik mereka hari ini adalah tentang kegiatan Ello di sekolah.


"Wow, who is this? So handsome" (Wow, siapa ini? Sangat tampan.) ucap Boy tertawa saat melihat wajah Ello memenuhi room panggilan video.


"I don't know who I am, could I be an artist?" (Aku tidak tau aku siapa, Apakah aku bisa jadi artis?)


"Emang ya buah nggak jatuh jauh dari pohonnya" sindir Kesya yang membuat Boy terkekeh.


"How is today? Has anyone confessed their love to u again?" (Bagaimana hari ini? Adakah yang menyatakan cinta mereka padamu lagi?) tanya Boy terkekeh pelan.


Ello mengangguk malas. "Huh, I don't like it but I can't refuse. Daddy, how do u reject someone but not by hurting them?" (Huh, aku tidak suka tapi aku tidak bisa menolak. Daddy, bagaimana kamu menolak seseorang tetapi tidak dengan menyakitinya?)


Kesya menghela nafas berat ketika mendengar topik ini lagi. Ello dengan umur yang sangat muda saja sudah sering ditembak oleh anak perempuan seumurnya. Bagaimana nanti jika ia sudah beranjak dewasa? Apa sifat playboy Rey akan menurun padanya? Ah, amit-amit.


"I don't know, Daddy's never seen anyone confess their love to me." (Aku tidak tahu. Daddy sepertinya tidak pernah ada yang menyatakan cintanya padaku.)

__ADS_1


"Daddy lied. Did u know that Daddy keeps a lot of women?" (Daddy berbohong. Tahukah kamu bahwa Daddy memelihara banyak wanita?) celetuk Kesya tiba-tiba yang membuat Ello terkejut dan menatap Boy dengan tatapan tajam.


"Daddy! What are u doing?! Don't hurt Mommy or we will be enemies from now on!" (Daddy! Apa yang sedang kamu lakukan?! Jangan sakiti Mommy atau kita akan menjadi musuh mulai sekarang!)


Bukan hanya Boy, Kesya saja terkejut melihat reaksi berlebihan Ello yang mengira ucapan Kesya benar adanya.


"No, Mommy was just kidding. Key, anak lo serem banget." (Tidak, Mommy hanya bercanda.)


"La lo la lo la lo! Do not say that!" (Jangan katakan itu.)


Keduanya terdiam melihat Ello yang masih marah hingga tak lama kemudian pelayan pun datang membawa nampan cup ice cream pesanan keduanya membuat wajah Ello berubah seketika dan hal itu dilihat jelas oleh Kesya dan Boy.


"Buset ini mah beneran siapapun bakal tau kalau dia anak Kesya" ucap Boy disela-sela gelak tawanya.


"Nggak ngomong lo lagi, Kak?" tanya Kesya terkekeh.


"Nggak, Boy kecil serem banget" ucap Boy pelan.


*****


Indonesia, 19:28 WIB


Disebuah restoran ternama di kota tersebut, satu keluarga sudah berkumpul dan seolah menunggu seseorang hingga tak lama kemudian ada rombongan orang-orang yang berjalan mendekat.


Fahri terkekeh pelan seraya membalas sapaan itu. "Kau ini, mentang-mentang sudah kaya tidak mau lagi tinggal di Indonesia."


Pria paruh baya tersebut tertawa. "Aku harus bekerja karena jika tidak maka aku tidak bisa makan nasi."


"Kau sudah sangat kaya, Rangga. Sepertinya untuk menghidupi tujuh turunan juga lebih dari cukup."


"Jangan seperti itu. Mari duduklah dan kita makan malam bersama. Sudah lama tidak berkumpul."


Fahri, Nia, Vino, dan Kirana pun duduk mengikuti ucapan pria paruh baya tersebut. Ternyata Fahri sedang bertemu dengan sahabat lamanya dan melakukan janji makan malam bersama.


"Dimana anak lelaki mu yang lain? Aku lupa namanya."


"Devan, dia akan kemari sebentar lagi. Biasa, sudah sibuk dengan perusahaan."


"Wow, hebat sekali. Apa kau memintanya untuk menjadi Presdir perusahaan? Mengapa tidak anak pertama saja?"


Fahri terkekeh pelan. "Dia sudah hampir ratusan kali menolak permintaanku. Vino tidak pernah tertarik dengan bisnis karena dia lebih menyukai hal-hal yang berbau zat-zat kimia" ucap Fahri yang membuat Vino tersenyum tipis.


Ucapan Fahri memang benar adanya, sejak Vino masih SMA saja ia sudah tawarkan jabatan Presdir perusahaan namun lelaki itu bahkan tidak meliriknya sama sekali karena kecintaannya terhadap ilmu kimia sejak kecil. Dan begitulah akhirnya sehingga Devan yang harus menduduki posisi tersebut.

__ADS_1


"Anak perempuan mu cantik, sudah kelas berapa?"


Kirana memperkenalkan dirinya dengan sopan dihadapan keluarga sahabat dekat Fahri tersebut.


"Nama saya Kirana, Om. Sudah berkuliah di jurusan kecantikan" ucap Kirana dengan sopan.


"Kecantikan? Wah, kau seperti anak Om. Dia juga memilih berkuliah di jurusan kecantikan."


"Bagus dong Rana bisa tanya-tanya dengan anakmu nantinya" ucap Fahri tertawa.


*****


Kesya baru saja menidurkan Ello karena sejak pulang dari kedai ice cream itu, anaknya sangat mengantuk hingga tertidur di kendaraan umum.


Kesya berjalan keluar dari kamarnya lalu membereskan barang-barang di rumahnya. Beginilah keseharian Kesya, ia tidak akan memaksa diri untuk membereskan semua kekacauan setiap pagi. Ia akan membereskan rumah jika waktu luang hingga membuatnya tidak stress hanya karena memikirkan pekerjaan yang belum selesai.


"Kangen rumah.." gumam Kesya pelan.


Tidak bisa ia pungkiri bahwa dirinya memang merindukan suasana Indonesia. Yang dimana dulu mimpinya akan segera lulus S1 lalu membangun butik di kotanya dan langsung bekerja saja karena Ello bisa dititipkan dengan banyak orang. Ia juga masih ingat wish list di buku diary nya bahwa ia akan menjadikan Franklin sebagai pegawai pertama di butiknya.


Ah, Kesya merindukan Papi. Sudah lama rasanya ia tidak bercerita diatas makan Franklin dan Kiara. Apalagi sekarang ia sudah berada di luar negeri yang membuatnya tidak bisa sering kembali ke Indonesia.


*****


Devan berjalan masuk ke dalam privat room dimana seluruh keluarganya sudah berada disana. Sekali lagi Devan melihat momen itu, momen yang benar-benar terasa deja vu dimana saat ia dijodohkan dengan Kiara dulunya.


Dengan perasaan harap-harap cemas, Devan duduk di sebelah Vino. "Maaf, saya terlambat."


"Ternyata anak mu benar-benar tampan, Ri. Kenalkan Om Rangga, sahabat Papa mu zaman sekolah dulu."


Devan pun menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan pria yang disebut Rangga itu.


"Ada apa nih? Lo mau dijodohin, Bang?" bisik Devan pelan.


Vino segera menendang kaki sang adik. "Najis banget gue dijodohin."


Klek


"Permisi, maaf saya sedikit terlamb—loh? Kak Devan?!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2