Tentang Kesya

Tentang Kesya
Penyesalan


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Boy merutuki dirinya ketika ia baru menyadari apa yang telah ia lakukan sekarang. Bergegas mengendarai mobilnya menuju ke apartemen Devan tengah malam seperti ini padahal ia bisa saja menghubungi Dhea untuk menanyakan keadaan sahabatnya itu.


Beberapa kali Boy menghubungi Dhea namun tidak diangkat hingga entah panggilan ke berapa akhirnya bisa terhubung dengan gadis itu.


"Dhea, sorry banget ganggu lo tengah malem gini, gue cuman mau nanya keadaan Devan gimana? Dia baik-baik aja, kan?"


Terdengar helaan nafas di seberang sana yang membuat Boy semakin khawatir.


"Aman, Kak. Kalau boleh tau, Kak Devan kenapa ya kok bisa kacau banget gini?"


Mendengar pertanyaan dari Dhea, Boy pun terdiam. Bukan tanpa alasan, namun Boy tidak ingin menyakiti hati Dhea yang berstatus sebagai istri Devan ketika ia tau bahwa suaminya berantakan seperti itu karena gadis lain yang tidak lain adalah Kesya.


"Kesya ya, Kak?" tanya Dhea seraya terkekeh pelan ketika mendengar Boy yang hanya diam seolah enggan menjawab pertanyaannya.


"Gue tau kok, Kak. Selama setahun ini, gue tau kalau Kak Devan belum rela kehilangan Kesya. Gue juga tau kalau hidup Kak Devan udah berantakan banget setelah pernikahannya sama gue. Selama ini, dia menolak buat ngobrol berdua sama gue yang bikin gue sendiri nggak tau harus bersikap kaya gimana. Padahal gue pengen banget bantu dia cari cara buat perceraian ini, tapi jangankan bahas itu, gue ngomong juga nggak pernah dijawab. Eh sorry, Kak. Gue jadi curhat."


Ada jeda sebentar sebelum Boy membuka suara. "Dhe, maafin Devan ya? Sampai sekarang gue belum ngerti jalan pikiran dia gimana tapi sejujurnya Devan baik kok, baik banget, cuman mungkin sekarang dia masih butuh waktu, karena kan lo tau sendiri hubungan dia sama Kesya hampir sama lamanya dengan lo dan Jojo."


Selama mendengar ucapan Boy, Dhea menatap lelaki dihadapannya yang sudah tertidur pulas tanpa balutan busana apapun.


Baik, Kak. Baik banget sampai dia ngelakuin itu sama gue dalam keadaan mabuk berat dan gue dianggap sebagai Kesya.-Dhea.


Boy hanya bisa menanggapi seperlunya saja karena menurutnya aneh jika ia ikut campur dengan permasalahan rumah tangga orang lain walaupun itu sahabatnya sendiri.


"Kak.. Jojo apa kabar..?"


"Baik kok. Lo liat kan tadi, dia udah mulai bangkit dan balik kaya dulu lagi."


"Um.. dia masih pakai kalung itu..?"


Boy tau arah pembicaraan Dhea kemana karena sebelum itu Jojo sudah menceritakan semuanya tentang hubungannya dengan gadis yang sedang ditelpon oleh Boy.

__ADS_1


Boy mengangguk pelan walaupun tidak terlihat oleh Dhea. "Kayanya gue nggak sopan kalau harus jawab pertanyaan lo yang ini. Lo boleh tanya sendiri ke Jojo sekalian atau mungkin ada pembicaraan yang belum dibicarakan berdua."


"Yaudah ini gue tutup ya telponnya, tadi cuman mau tanya keadaan Devan aja."


Setelah mengatakan hal itu, Boy segera memutuskan panggilan.


*****


Matahari pagi mulai memperlihatkan dirinya hingga membuat kedua pasangan yang sedang tertidur pulas pun mulai terbangun karena terganggu dengan sinar matahari yang masuk.


****?! Gue ngapain semalem?!-Devan.


Lelaki itu benar-benar terkejut ketika melihat dirinya yang berantakan. Sangat berantakan bahkan tanpa sadar sepanjang malam ia memeluk gadis yang sudah setahun ini menjadi istrinya.


Devan berusaha untuk mengingat-ingat apa yang ia lakukan malam tadi, ia pun berusaha untuk tetap berpikiran positif. Namun, ketika melihat dirinya dan istrinya yang tidak memakai busana apapun terlebih ketika melihat tubuh Dhea yang dipenuhi tanda nakal yang dibuatnya membuat Devan benar-benar lemas seketika. Bagaimana mungkin ia melakukan itu disaat mabuk berat? Benar-benar brengsek.


Perlahan, Devan bergerak melepaskan pelukannya dan memasang kembali pakaiannya lalu pergi dari kamar itu meninggalkan Dhea yang masih berada di alam mimpi.


*****


"Anjing?! Lo gila?! Kenapa lo bisa ngelakuin itu, brengsek?!"


Ziko memarahi Devan habis-habisan ketika lelaki itu pagi-pagi mendatangi apartemennya untuk menceritakan apa yang terjadi malam tadi.


"Yang lo kira Kesya itu ternyata istri lo sendiri. Bodohnya, lo ngelakuin itu pasti dengan terbayang muka Kesya."


Walaupun belum ingat sepenuhnya, Devan mengangguk pelan seolah menjawab pertanyaan Ziko.


"Lo keluar dimana?"


"Gue nggak inget, gila. Jangankan keluar dimana, apa aja yang gue lakuin atau omongin malam tadi aja gue nggak inget."


Ziko mengusap wajahnya dengan gusar. Ia sendiri panik dengan segala kemungkinan yang terjadi nantinya. Tak diherankan jika ia sendiri merutuki sahabatnya ini yang benar-benar bodoh.


"Lo pagi-pagi kesini dan gue pastiin Dhea belum bangun?" tebak Ziko tepat sasaran.


"Kenapa lo bodoh banget sih? Setelah lo ngelakuin itu tanpa sadar dan lo malah ninggalin istri lo sendirian di apart? Gue udah nggak habis pikir dengan cara kerja otak lo itu."


Devan menggeleng pelan. "Gue nggak bisa satu atap sama dia setelah apa yang gue lakuin sekarang."

__ADS_1


Bagaimana bisa Devan menganggap semuanya seolah tidak ada yang terjadi dan kembali melakukan aktivitas seperti biasa? Tidak, Devan tidak mau seperti itu. Satu-satunya cara adalah dengan menghindar dari Dhea, dan entah sampai kapan.


*****


Dhea membuka matanya perlahan dan terkejut melihat bahwa dirinya begitu berantakan, tidur tanpa busana dan parahnya lagi ia tidur di kamar Devan.


Perlahan, otak Dhea mulai bekerja memikirkan tentang kejadian tadi malam hingga akhirnya air matanya mulai keluar. Ia menangis karena kebodohannya yang tidak bisa memberontak. Ia menangis karena tanpa disadari bahwa ia juga terbuai dengan sentuhan Devan. Dan bodohnya, Dhea baru menyesali itu semua.


Dhea mengedarkan pandangannya menyusuri semua tempat yang ada di kamar Devan. Perlahan, terdengar helaan berat yang keluar.


"Lo emang bodoh, Dhe" lirihnya pelan.


"Setelah lo melepaskan kesucian lo buat orang yang mabuk, sekarang lo ditinggal sendirian. Betapa menyedihkannya hidup lo."


*****


"What?! Daddy?! Daddy tidur disini?!"


Ello yang saat itu baru saja keluar dari kamarnya pun benar-benar terkejut ketika melihat Boy yang baru saja keluar dari dapur membawa sarapan untuk mereka santap pagi ini.


"Kenapa Daddy nggak tidur dengan Ello?! Daddy tidur dengan Mommy?! Wah, posisi Ello sekarang digantikan oleh Mommy?!"


Masih pagi saja bocah itu sudah mengibarkan bendera perang kepada Boy yang hanya tertawa mendengar ocehan anaknya.


Klek


Pintu kamar Kesya terbuka dan gadis itu sudah rapi dengan pakaian kerjanya karena pagi ini ia akan mulai bekerja di butik miliknya.


"Good morning, Mommy" ucap Boy tersenyum manis.


Kesya tersenyum tipis. "Morning. Wow, Kak Boy masak apa?"


"Daddy! Why not answer my question?" (Daddy! Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?)


"Morning, Son."


"Ah iya, good morning Daddy and Mommy."


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2