Terjebak Pesona Istri Kecilku

Terjebak Pesona Istri Kecilku
Bapak Mau Apa?


__ADS_3

"Jangan macam-macam, Pak Devano?"


Tentu saja Karina takut jika nanti Devano akan benar-benar menggendongnya, apa kata seluruh teman teman sekelasnya jika semua ini terjadi dan juga pastinya itu akan terdengar oleh Rama, kekasihnya. Ia masih tidak ingin menikah dengan Devano dan jika memang ia harus menikah Devano maka ia akan menutup rapat rapat pernikahan itu.


"Aku tidak macam-macam, hanya satu macam saja atau kalau perlu kita ulangi malam panas kemarin yang mungkin saja kamu lupa apa saja yang sudah kita lakukan.."


Bisik Devano lagi di telinga Karina yang membuat gadis cantik itu melototkan matanya, tidak dipungkiri bayangan-bayangan malam panas kemarin membuat Karina selalu berpikir dan tidak bisa tertidur meskipun ia belum dijebol keperawanannya, tetapi sama saja ia dan Devano sudah melakukan ciuman panas itu bahkan tubuhnya dan juga tubuh Devano juga sama-sama polos. Ia sudah melihat ular piton Devano begitu juga dengan Devano yang sudah melihat intinya, bahkan Devano juga sudah bermain-main di intinya dan itu yang membuat Karina ngeri menatap ke arah Devano saat ini.


Karina yang tidak mau itu terjadi langsung saja mengambil bukunya kemudian duduk di samping Sintia, gadis cantik itu tanpa berkata apapun juga langsung saja meninggalkan Devano yang membuat Devano tersenyum penuh kemenangan.


Kita lihat saja nanti, siapa yang akan memenangkan permainan ini, aku atau kamu?


Devano senang sekali mengerjai Karina dan ia yakin sekali jika hari-harinya akan penuh warna-warni ketika sudah menikah dengan Karina dan Devano tahu jika Karina tidak ingin menikah dengannya, namun Devano juga tidak mempunyai pilihan lagi, ia mau tidak mau harus menikahi Karina bukan hanya  ia yang bertanggung jawab karena sudah melihat tubuh Karina tetapi karena ia juga tidak mau di jodoh-jodohkan lagi dan sepertinya menikah dengan Karina itu tidaklah buruk, Karina adalah perempuan yang sangat cantik dan dari keluarga baik-baik.


Pelajaran matematika dimulai dan Devano menerangkan dengan begitu apiknya, hingga membuat semua mata teman-teman Karina yang perempuan itu tidak berkedip sama sekali, selain pintar.. Devano juga tampan dan mereka pun mengiyakan apa yang diucapkan oleh Devano, meskipun di dalam otak mereka tidak ada yang masuk sama sekali pelajaran matematika tetapi lumayanlah bisa melihat ketampanan dari Devano sudah membuat hatinya puas dan tidak akan susah untuk belajar matematika jika gurunya seperti ini.


Lain halnya dengan Karina, gadis cantik itu sedari tadi tidak ingin melihat ke depan, ia memang mendengarkan tetapi pikirannya entah kemana-mana, yang mana memang Karina sangat sulit sekali dalam pelajaran matematika bahkan meskipun dicontohkan berkali-kali ia tetap saja tidak bisa.


"Oke kalau semua sudah jelas besok kita akan ulangan!"

__ADS_1


"Baik Pak, siap!"


Jawab kompak semua teman-teman perempuan Karina, namun tidak dengan Karina dan entah mengapa teman-teman Karina itu siap untuk ulangan besok, padahal biasanya setiap kali guru matematika yang kemarin itu mengadakan ulangan, mereka semua protes .. namun dengan Devano mereka malah mengiyakan saja, entahlah apa mereka sudah benar-benar paham atau memang terpaksa supaya Devano tidak marah dan terus mengajar di kelas ini.


Siap apanya? kalian itu memang benar-benar mencari perhatian dari Devano, padahal biasa saja orangnya..


Karina hanya mengucapkan itu di dalam hati meskipun memang Devano terlihat tampan tetapi ia sudah tahu sisi buruk dari Devano yang hanya Karina sendiri yang berpikir tentang itu, karena menurut pikiran Karina jika laki-laki sudah berada di kamar hotel pastinya laki-laki itu tidak benar dan mungkin saja bukan pertama kalinya Devano menyeret seorang perempuan untuk masuk ke dalam kamar hotelnya, mungkin saja sudah berkali-kali Devano melakukan itu hingga membuat pikiran negatif dari Karina tertuju ke sana.


"Kalau begitu pelajaran kita akhiri sampai disini dan Karina, tolong bawa buku-buku ini ke kantor, saya tunggu."


"Tapi, Pak?"


"Tidak ada penolakan atau kamu besok tidak usah mengikuti pelajaran matematika, disuruh gurunya kenapa seperti itu .. benar-benar tidak sopan dan kamu harus dididik untuk lebih sopan lagi supaya bisa menghargai guru."


"Sialan!!"


Baru Devano lah yang berani memerintahkannya untuk membawa buku ke kantor dan baru Devano lah guru yang berani mengatakan seperti itu padahal guru-guru kemarin biasanya bersikap manis kepada Karina tetapi tidak dengan Devano.


"Biar gue saja Rin, gue mah senang kalau disuruh ke ruangan Pak Devano, lagi pula ruangan Pak Devano itu ruangan nya tersendiri lo, tidak gabung dengan guru-guru yang lainnya dan pastinya lebih leluasa jika aku memandang wajah tampan Pak Devano." ujar salah satu teman Karina, yang tampak nya terpeson dengan Devano.

__ADS_1


"Jangan macam-macam, Pak Devano tadi menyuruh Karina, lo mau kalau dihukum sama Pak Devano dan meminta suruh balik lagi?"


"Halah palingan Karina juga pura-pura tidak mau, padahal sebenarnya dia mau apalagi mendapatkan Pak Devano yang jauh lebih tampan dari Rama. Duh kasihan sekali nanti Rama jika ditinggalkan oleh Karina, karena berpaling dari Pak Devano."


Susan yang mulutnya pedas terus saja mencerocos, ia memang musuh buyutan dari Karina sejak mereka masuk sekolah ini dan entah mengapa Susan dan Karina selalu satu kelas hingga kelas 11 yang membuat Karina tidak betah berada di kelas ini.


"Sudah Rin, tidak usah digubris.. mulut Susan memang seperti itu, tidak tahu saja kalau nanti diazab malaikat, mulut yang suka ngoceh tidak jelas seperti itu dan suka memfitnah orang, sudah sana bawa buku-buku itu ke ruang Pak Devano, nanti kamu kena hukuman lagi."


Sintua sahabat baiknya Karina mengerti dengan ekspresi wajah Karina saat ini yang tentu saja Karina merasa tersindir dengan apa yang diucapkan oleh Susan tetapi Sintia tidak mau jika Karina dan Susan bertengkar hanya gara-gara masalah sepele.


Karina mau tidak mau membawa buku-buku itu ke ruangan Devano, gadis cantik itu dengan terpaksa melakukannya dan berharap jika Rama tidak melihahnya masuk ke dalam ruang Devano meskipun tidak ada yang curiga, tetapi tetap saja jika ia berlama-lama berada di ruang Devano pastinya akan ada kasak kusuk yang memberitahukan jika ia dan Devano memiliki hubungan apa-apa.


Tok...tok..


"Masuk!!"


Mendengar suara dari dalam, Karina langsung saja masuk..ia bahkan sama sekali tidak melihat ke arah Devano yang saat ini sudah berada di atas kursi dan Devano sedang mengarahkan pandangan matanya ke arahnya.


"Bisa sopan sedikit nggak sama calon suami, sepertinya kamu memang harus dibeli pelajaran untuk semuanya ini."

__ADS_1


Ya Karina memang masuk ke dalam ruangan Devano tanpa tersenyum, bahkan gadis cantik itu menaruh buku-buku di atas meja Devano dengan kasarnya, yang membuat Devano menggelengkan kepalanya.


"Bapak mau apa?"


__ADS_2