Terjebak Pesona Istri Kecilku

Terjebak Pesona Istri Kecilku
Cerita nya Panjang


__ADS_3

Belum ada satu hari tetapi berita putusnya hubungan Karina dengan Rama sudah terdengar ke mana-mana bahkan mereka sendiri menyayangkan mengapa pasangan yang mesra dan romantis itu tiba-tiba putus.


Bahkan mereka semua yang ada di sekolahan itu tidak tahu alasan Rama dan Karina memutuskan hubungan yang sudah lama terjalin karena baik Rama maupun Karina juga tidak akan membeberkan alasannya.


Apalagi Rama, Rama ada laki-laki yang baik dan tidak seharusnya ia membuka suara mengenai kandasnya hubungan dengan Karina terlebih lagi membuka status Karina yang saat ini sudah menikah dengan guru di sekolahan ini.


Dan entah mengapa berita itu cepat sekali tersebar padahal baru beberapa menit yang lalu bahkan Karina sendiri saat ini masih berada di kantin tetapi ia sudah mendengar berita tentang dirinya yang sudah putus dengan Rama bahkan banyak dari teman-temannya yang membicarakan perihal ini.


Sintia, sahabat Karina merasa bingung .. ia bahkan tidak tahu tentang kandasnya hubungan Karina dengan Rama tetapi mengapa malah teman temannya banyak yang sudah membicarakannya.


"Pak permisi saya mau ke belakang."


Ujar Sintia yang risih dengan pemberitaan di WhatsApp grup sekolahan di mana di sana tertulis jika hubungan Karina dan Rama putus sementara Sintia sendiri belum mengetahui itu bahkan Karina tidak mengatakan apapun kepadanya.


Devano menganggukkan kepalanya, laki-laki itu memang sudah kembali ke kelasnya setelah melihat Karina yang baik-baik saja di kantin dan Devano dengan cepat mengizinkan Sintia untuk pergi meninggalkan kelas ini karena ia tahu pastinya sahabat dari Karina itu akan mencari Karina mengenai berita yang baru saja tersebar di grup WhatsApp sekolah.


Devano juga baru saja membuka pesan yang dikirim kan oleh seseorang tanpa Devano ketahui itu, yang mana berita itu menayangkan kalau Karina dan Rama sudah putus dan lagi-lagi Devano tersenyum karena memang benar-benar apa yang dikatakan Rama itu memang benar jika Rama sudah mengakhiri hubungannya dengan Karina.


Tidak membiarkan Sintia untuk keluar begitu saja meskipun Devano sudah mengijinkan, laki-laki itu segera mengikuti Sintia yang saat ini sedang membuka pintu, ia kemudian mendekati Sintia lalu berbisik.

__ADS_1


"Saya harap kamu menenangkan Karina, Karina saat ini sedang di kantin, hiburlah dia tetapi setelah itu bawa Karina masuk dan Kamu makanlah sepuasnya di sana, nanti saya akan membayarnya."


Ujar Devano dengan berbisik kepada Sintia dan mendapatkan anggukan kepala dari Sintia kemudian gadis cantik itu pergi meninggalkan kelas lalu menyusul ke kantin di mana Karina berada.


"Tapi mengapa Pak Devano tahu keberadaan Karina dan tidak memarahi Karina yang saat berada di kantin? dan itu apa, Pak Devano yang membayarnya? Ada apa sebenarnya mengapa aku tidak tahu menahu dan sepertinya Pak Devano sangat khawatir sekali dengan Karina dan begitu perhatian dengan Karina."


Sepanjang perjalanan dari kelas menuju ke kantin, Sintia terus menerus berpikir tentang kejadian yang menurutnya janggal, bukan hanya tentang kabarnya putus Karina dengan Rama tetapi dengan perlakuan Devano yang mana ia sebenarnya sudah curiga sejak kemarin tentang pandangan mata Devano yang terus-menerus mengarah kepada Karina dan juga Karina yang seakan akan tidak mau menatap ke arah Devano dan sepertinya sahabatnya itu membenci guru tampan yang menjadi idola di sekolah ini.


"Sungguh membagongkan, membuat gue pusing aja!"


Sintia menggelengkan kepalanya kemudian ia bergegas untuk menemui Karina dan tidak memikirkan sesuatu yang ia sendiri belum tahu ada apa sebenarnya, hingga akhirnya gadis cantik itu sudah berada di kantin dan melihat Karina yang saat ini bersantai-santai di sana dengan sudah menghabiskan dua mangkok bakso dan beberapa gelas es teh manis.


Ucap Sintia yang berteriak kepada Ibu penjaga kantin itu dimana memang kebiasaan gadis itu jika sampai di kantin selalu berteriak dan tentunya mendapatkan anggukan kepala dari ibu penjaga kantin, lalu Sintia duduk di samping Karina yang sepertinya memang masih tidak peduli dengan keberadaannya.


Bukannya Karina tidak peduli ataupun tidak tahu dengan keberadaan Sintia di sini tetapi Karina sempat melirik sebentar ke arah Sintia, namun ia tetap saja melanjutkan melamunnya bahkan Karina sendiri juga paham jika Sintia sengaja datang ke sini karena diminta oleh Devano.


"Buset gila banget!! lo laper apa doyan? dua mangkok bakso dan 5 gelas es teh manis."


Sintia saat ini duduk di samping Karina dengan melihat ke depan meja di mana mangkok dan juga gelas-gelas yang sudah kosong tetapi Karina sendiri masih melamun.

__ADS_1


"Berisik, ngapain lo ke sini? bukannya lo betah berada di dalam kelas karena ada guru idola lo?"


"Mau makan, lapar gue. Emang lo aja yang lapar, gue juga.."


Sintia yang memang sebenarnya ia lapar karena tadi ke kantin hanya makan sedikit saja dan juga ini mumpung gratis jadi gadis itu memanfaatkan semuanya, bahkan ia nanti mau nambah lagi.


Memang Sintia dan Karina bak pinang dibelah dua mereka semua hobi makan tetap tetapi tidak hobi shopping meskipun sering keluar untuk jalan-jalan dan masuk mall, namun tidak ada barang-barang yang tidak penting yang mereka beli bukan karena tidak mempunyai uang tetapi memang hobi mereka adalah jajan dan mengunyah makanan sementara untuk barang-barang yang lainnya memang mereka berdua tidak akan membeli jika tidak benar-benar diperlukan.


"Ckkk... Atau jangan jangan ke sini disuruh sama laki-laki itu?"


Tanya Karina lagi yang enggan menyebutkan nama Devano, ia juga menatap tajam ke arah Sintia siapa tahu memang tebakannya benar jika Sintia ke sini karena disuruh oleh Devano.


"Laki-laki itu? laki-laki siapa ? semua ada namanya Karin dan lo mengapa jadi seperti ini gara-gara putus sama Rama, oh ya gue baru saja dengar berita itu, itu hanya gosip atau memang beneran, kenapa lo nggak cerita sama gue?"


Sintia sendiri malahan bertambah curiga dengan Karina bukan hanya curiga saja, tetapi juga penasaran mengapa Karina dan Rama itu bisa putus tetapi kecurigaannya saat ini mengenai guru killer namun tampan yang menjadi idolanya dan sepertinya memang ada sesuatu antara Karina dengan Devano hingga Karina tidak mau menyebutkan nama laki-laki itu yang mana memang Sintia paham siapa yang dimaksud laki-laki itu oleh Karina.


"Ceritanya panjang, sepertinya kalau gue ceritain nanti tidak akan selesai tetapi gue juga bingung tidak bisa memendam masalah ini sendirian, gue harus bagaimana Sin?"


Karina memang tidak mengeluarkan air matanya tetapi nampaknya ia masih berkaca-kaca dan menahan supaya air mata itu tidak jatuh membasahi pipinya, sudah cukup ia menangis tadi dan tidak mungkin ia akan menambah tangisannya hingga membuat matanya bengkak, ini masih di sekolahan nanti saja ia menangisnya jika sudah sampai di rumah.

__ADS_1


__ADS_2