
Karina hanya mendengus kesal, gadis cantik itu langsung saja meletakkan bolanya setelah mengisi semua jawaban dari 10 soal itu, entahlah apakah memang jawabannya itu semua benar atau tidak yang jelas semuanya sudah Karina kerjakan meskipun itu hanya mengarang indah saja dan menciptakan rumus matematika sendiri versi Karina.
"Karina, nanti bawa semua jawaban itu ke ruangan saya."
Tidak habis pikir mengapa Devano malah menyuruh Karina untuk membawa semua kertas-kertas itu ke dalam ruangannya padahal setelah ini Karina sudah berencana untuk menuju ke taman belakang sekolah di mana memang ia dan Rama sudah janjian di sana.
"Tapi Pak saya..."
Ingin protes, tetapi sayang sekali..Devano dengan cepat langsung menyahut ucapan Karina.
"Tidak ada tapi-tapian, kalau disuruh guru itu dikerjakan bukan malah membantah seperti kamu! saya tidak mau tahu, 5 menit kamu tidak ke kantor, maka kamu tahu sendiri akibatnya."
Tidak bisa membantah, tetapi Karina juga tidak mungkin untuk mengantarkan semua tumpukkan kertas ini, ia tahu jika bukan hanya kertas-kertas ini saja diperlukan oleh Devano tetapi dirinya, mungkin saja Devano akan mengurungnya ke dalam ruangan pribadi laki-laki itu di mana memang permasalahan antara dirinya dengan Devano belum terselesaikan.
"Anterin aja nanti gue bantuin untuk mengumpulkan dan gue juga anterin ke sana."
Ujar Sintia sahabat Karina di mana melihat Karina yang sepertinya ogah untuk menuju ke ruangan Devano, entahlah ... Sintia sendiri bingung dengan apa yang terjadi dengan sahabatnya itu mengapa guru tampan seperti Devano malah tidak disukai oleh Karina bahkan sepertinya Karina dengan Devano itu seperti orang bermusuhan saja padahal setahu Sintia, Karina dan Devano tidak sama sekali mengenal, hanya statusnya sebagai guru dan murid saja.
"Bukan masalah ada apa dan kenapa nya atau gue nggak mau, tetapi gue ada janji sama Rama. Dan mendingan lebih baik lo yang nganterin ke tempat Pak Devano, nanti bilang aja kalau gue nggak bisa dan resikonya nanti gue tanggung sendiri."
Karina sudah membereskan semua kertas-kertas itu dan siap untuk diserahkan ke Devano tentu saja ia berpikir lagi tidak mungkin dirinya jika ke tempat Devano dulu baru ke taman belakang dan menemui Rama, Karina sudah yakin jika pastinya Devano tidak akan membiarkan keluar dari ruangan itu meskipun nanti ada Sintia yang mengantarkannya. Karina yakin pastinya Devano akan mempunyai 1001 cara untuk bisa mengeluarkan Sintia dari ruangannya.
__ADS_1
"Okelah gue yang anterin tapi resikonya lo yang tangguh sendiri, lumayanlah bisa dekat dengan guru tampan itu."
Sintia memang terpesona dengan Devano, ia hanya terpesona langsung saja mengiyakan apa yang diucapkan oleh Karina meskipun ia sendiri tidak tahu jika Devano dan Karina sebenarnya adalah sepasang suami istri yang saat ini sedang terlibat suatu masalah dan tentu saja Sintia malah mendukung jika Karina memilih untuk bertemu dengan Rama karena Sintia juga tidak tahu kalau sebenarnya memang antara Karina dan Rama terjadi sesuatu dan memang Karina belum bercerita banyak soal Rama maupun Devano kepada Sintia.
"Thanks, nanti gue yang tanggung resikonya, gue ke taman dulu sudah ditungguin sama Rama."
Karina cepat kilat meninggalkan Sintia, ia juga belum bicara panjang lebar dengan sahabat nya itu tetapi nanti setelah semuanya selesai, Karina akan mengatakan yang sebenarnya, ia juga tidak mungkin menyembunyikan semua ini kepada Sintia, sahabat baiknya.
Karina meninggalkan kelas, gadis cantik itu langsung saja menuju ke taman belakang karena ia yakin jika Rama sudah berada di sana, karena melihat kelas Rama yang sudah terbuka dan teman-teman Rama yang sudah keluar dari kelasnya.
Antara senang dan tidak perasaan Karina saat ini di mana ia senang bertemu dengan Rama tetapi ia juga was-was, apakah yang terjadi dengan hubungannya dengan Rama nanti? apakah Rama memang akan memutuskannya atau masih melanjutkan hubungan mereka berdua di antara pernikahannya dengan Devano.
"Sayank..."
Sedangkan Rama, hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, padahal ia ingin sekali memanggil kalimat sayang untuk Karina tetapi ia ingat betul jika saat ini Karina bukan menjadi miliknya lagi tetapi sudah menjadi istri orang meskipun Rama tau jika Karina sama sekali tidak mencintai Devano.
Keduanya saat ini sama-sama terdiam, entahlah padahal dari tadi Karina sudah menyusun beberapa kalimat yang akan diucapkan kepada Rama, begitu juga dengan Rama yang sudah berusaha mati-matian untuk bisa memendam semuanya ini dan mengutarakan langsung di depan Karina, tetapi kenapa saat bersama sepertinya mulut mereka sama-sama bungkam.
"Ram..."
"Rin..."
__ADS_1
Setelah beberapa menit terdiam akhirnya keduanya sama-sama membuka suara dan pastinya keduanya tersenyum ketika bersamaan memanggil nama.
"Kamu duluan... ladies first."
Ucap Rama dengan tersenyum sembari tangannya mengusap lembut rambut Karina yang entahlah apakah perlakuan ini Rama akan melakukan lagi atau cukup sampai di sini.
"Rama, aku mau minta maaf..."
"Minta maaf tentang kejadian bersama dengan Pak Devano, kejadian saat kamu dan dia berada di dalam kamar hotel itu?"
Deg
Karina tidak kaget lagi, karena sebelumnya Devano sudah mengatakan kepadanya jika Rama sudah mengetahui semuanya, semuanya yang sudah dilakukan bersama dengan Devano malam itu yang pastinya ia sendiri bingung untuk menyikapi semuanya ini apakah Rama masih mau mempertahankan hubungannya atau akan memutuskannya hari ini.
Karina sendiri tidak bisa menjawab, ia sudah meminta maaf dan memang waktu itu Karina tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol,.meskipun ia meminum hanya sedikit saja tetapi entah mengapa ada rasa sesuatu yang berbeda ketika ia mendapatkan sentuhan-sentuhan dari Devano, hingga akhirnya Devano pingsan sebelum melakukan yang iya iya padanya.
"Tidak perlu minta maaf, aku tahu kamu ingin menjelaskan semuanya dan juga tidak perlu kamu mengulanginya karena aku sudah tahu semuanya dari Pak Devano, kalian berdua sudah melakukan hal itu meskipun belum tahap ke intinya."
Kembali lagi Karina hanya menundukkan kepalanya, ia sendiri bingung harus menanggapi ucapan Rama itu bagaimana yang jelas memang semuanya sudah terjadi meskipun kejadian itu tidak direncanakan sama sekali.
"Dan juga permintaan maafmu aku terima, tetapi maaf sekali untuk kedepannya mungkin kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini, ada Pak Devano diantara kita dan pastinya kamu sudah menikah dengannya dan aku tidak mau jika gara-gara aku pernikahan kalian akan hancur meskipun aku tahu jika kamu tidak mencintai Pak Devano tetapi Apa yang kamu lakukan malam itu sudah membuktikan jika sebenarnya kalian itu berdua merasa nyaman."
__ADS_1
Karina mendongakkan kepalanya, ia juga menggelengkan kepalanya pelan yang mana ia tidak mau putus dari Rama. Karina bahkan sudah menyusun rencana untuk meminta cerai dari Devano dan akan serius dengan hubungannya dengan Rama tetapi apa yang barusan didengarnya itu sepertinya hanyalah mimpi Karina saja, bahkan Karina sendiri tidak pernah berpikir untuk berpisah dari Rama.