
"Karina ada titipan untuk Lo!!"
Ya, bel pelajaran terakhir sudah berbunyi dan itu tandanya semua siswa-siswi sudah bergegas untuk keluar dari kelas, tetapi tidak dengan Karina dan juga Sintia, yang kedua perempuan cantik itu malahan masih betah berada di dalam kelas.
Untuk Karina sendiri memang sengaja karena ia harus menunggu suaminya rapat dulu dengan dewan guru alhasil daripada Karina berada di dalam mobil sendiri yakni ia lebih baik berada di dalam kelas sambil bermain game di ponselnya tentu saja jika dengan Sintia, perempuan cantik itu juga tidak mau jika sahabatnya itu sendirian di sini terlebih lagi sedari tadi baik Dirga maupun Rama sudah pulang duluan karena ada acara dengan keluarganya alhasil Sintia, menemani Karina berada di dalam kelas dan juga Sintia memang setelah ini tidak ada acara apapun juga jadi sama-sama mereka berdua menghabiskan waktu di dalam kelas.
Tetapi baru saja Karina memainkan satu level permainannya, teriakan dari salah satu temannya berhasil membuat Karina menghentikan sejenak permainannya perempuan cantik itu langsung saja menatap ke arah temannya itu yang saatnya sudah berdiri di depannya sembari memberikan bunga mawar merah yang sangat cantik.
"Cantik sekali, buat gue?"
Karina memastikan lagi pasalnya tidak ada yang memberikan bunga mawar merah secantik dan sebesar ini kepadanya terakhir kali Alex tadi pagi dan itu pun hanya satu tangkai saja tetapi ini berbeda maka dari itu Karina menanyakan sekali lagi bisa-bisa nanti salah bukan dirinya yang dikirimin bunga seperti itu.
"Iyalah, di sini yang namanya Karina hanya lo doang dan juga tadi yang nganterin juga berpesan jika namanya Karina lengkap dengan nama belakang lo dan juga kelas Lo."
Teman Karina itu memberikan buket bunga mawar merah yang sangat besar kepada Karina tentu saja setelah menjelaskan jika memang bunga ini untuk Karina tidak untuk yang lainnya.
__ADS_1
"Dari siapa?perasaan gue nggak pesen deh?"
"Gue juga nggak tahu, tadi yang nganterin om-om yang ganteng banget katanya harus diserahkan langsung sama lo tadinya aku nggak mau ngasihkan bukannya nggak mau ketemu sama lo, tetapi bunga ini sangat besar dan juga sangat cantik siapa tahu orangnya mengasihkan sama lo sendiri tapi ternyata tidak dia nitipin ke gue ya sudah ya gue pulang dulu."
Karina hanya menganggukkan kepalanya sembari ia menatap buket bunga mawar merah yang sangat cantik sekali sembari melihat apakah memang ada pengirimnya di sana.
Dan memang benar di buket itu terselip sebuah kartu ucapan tentu saja Karina mengambil itu dan membacanya.
Untuk istriku maafkan suamimu ini ya sayank dan pastinya Aku benar-benar meminta maaf, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya meminta sama kamu maaf sekali lagi bukan aku tidak menghargai pembinaan orang lain tetapi aku cemburu aku marah aku kesal juga istriku menerima pemberian dari laki-laki lain cukup hanya aku saja yang memberikannya...
"Cie cie yang sudah mendapatkan bunga mawar merah, sepertinya Pak Devano tidak mau kalah dengan Om Alex dan yang lainnya Pak Devano benar-benar cemburu marah dan juga kesal dan tidak ingin kamu didekati oleh laki-laki lain. Kalau sudah begitu apa kurang dari Pak Devano, cobalah membuka hati untuk suamimu itu tidak salah kan, lagi pula Pak Devano juga tidak jelek-jelek amat, kaya raya bahkan semua perempuan mengejar-ngejar Pak Devano untuk dijadikan pacar atau istrinya tetapi kamu yang dicintainya malah menolak mentah-mentah. Toh juga kalian sudah melakukan itu, kalau Lo jadi minta pisah dari Pak Devano maka yang rugi itu adalah lo sendiri bukannya dia, dia mah nggak ketara mau masih perjaka atau enggak, enggak ada yang tau tetapi lo bagaimana nanti jika lo mendapatkan laki-laki lain yang menginginkan kesempurnaan pastinya dia tidak akan menerima status yang sudah janda yang bolong lagi."
"Asem!! Sialan lo!!"
Meskipun di dalam hati Karina tersenyum mendapatkan bunga mawar merah yang begitu besar dan juga cantik tetapi ia tidak akan menampilkan wajahnya akhirnya di depan Sintia malu juga gengsi karena selama ini ia mengatakan jika tidak tertarik sedikitpun dengan Devan namun kenyataannya berbeda.
__ADS_1
Sungguh Karina saat ini plin plan, di satu sisi ketika ia bersama dengan Rama rasa cintanya masih untuk laki-laki itu tetapi di sisi lain jika ia diberikan perhatian oleh Devano maka hatinya seakan-akan luluh juga entahlah bagaimana perasaan Karina yang sebenarnya.
"Ya udah jangan marah-marah. Mungkin sebentar lagi pak Devano akan memberikan kejutan yang luar biasa untuk kamu karena gue melihat Pak Devano itu benar benar serius sama lo!!"
"Mana mungkin! laki-laki dingin dan kejam seperti itu mah bisa romantis tentu saja aku masih marah padanya dan dia juga nggak gentle, masa' memberikan ini harus lewat seseorang."
Padahal sama sekali Devano bukan laki-laki yang seperti diucapkan oleh Karina memang di luar ketika tidak bersama dengan Karina, Devano terus kesal dingin dan juga galak tetapi juga bersama karena semua sikap dingin dan galaknya itu berubah bahkan Devano terkesan lebih romantis jika bersama dengan dirinya lalu Apa kurangnya Devano hingga membuat Karina tidak bisa membuka hatinya untuk Devano?
"Seperti yang gue bilang mungkin saja ada laginkejutan-kejutan buat lo nantinya yang jelas gue merasa jika Pak Devano itu adalah suami yang terbaik meskipun gue tau Rama adalah laki-laki yang baik namun tidak salah juga jika saat ini lo membuka hati lo untuk pak Devano karna apapun yang terjadi, mau Lo benci atau menolaknya, atau enggak cinta sama dia, tetapi Pak Devano itu sudah menjadi suami lo."
Bodo amat!! daripada mendengarkan cerita dari Sintia lebih baik Karina bergegas untuk keluar dan menunggu Devano di luar saja, toh juga tinggal lima belas menit lagi Devano selesai rapat dan pastinya Karina dengan membawa bunga mawar merah yang sangat cantik itu keluar dari kelasnya.
Suasana di luar kelas sudah sangat sepi bahkan sudah banyak yang pulang tinggal beberapa orang saja yang masih Ilir mudik di sekolahan itu yang pastinya Karina tidak malu-malu untuk membawa buket bunga merah itu masuk ke dalam mobil Devano.
"Karina...."
__ADS_1
Baru saja Karina sampai di lobby tetapi ada seseorang yang memanggilnya, seorang laki-laki tampan yang saat ini berdiri di pintu gerbang dan tentu saja Karina menghentikan langkah kakinya sembari memandang ke arah depannya.