
Mendengar ucapan dari Sintia, bukannya Devano nampak senang tetapi ia masih berpikir bagaimana mungkin ia masuk ke dalam kamar seorang gadis sementara di rumah ini seperti tidak ada seorangpun.
"Begini saja, saya tunggu di sini sementara bapak langsung saja naik ke atas, kamar saya yang pintunya berwarna pink, hanya ada satu warna di sana dan bapak langsung saja membawa istri bapak yang menyebalkan itu yang membuat saya susah."
Lagi lagi Sintia mengerti kegundahan hati Devano hingga memutuskan supaya dirinya menunggu di sini saja sementara membiarkan Devano untuk naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya tentu saja dengan mulut Sintia yang tanpa basi basi akan akan mengusir Karina dari rumah ini.
Devano tidak akan basa basi lagi mengingat jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Kalau dibiarkan seperti ini dan membiarkan Karina bangun sendiri, bisa bisa sampai besok pagi dan tentunya ide dari Sintia itu sangatlah tepat, kemudian ia segera menuju ke kamar Sintia di mana memang setelah Devano sampai di lantai atas ia hanya menemukan satu pintu kamar yang berwarna pink.
Perlahan-lahan Devano membuka pintu kamar itu dan setelah sampai ke dalam kamar ia melihat jika istrinya sudah tertidur lelap dengan memakai seragam sekolahnya.
Antara kangen juga jengkel yang dirasakan oleh Devano saat ini sementara melihat istrinya begitu terlelap tetapi masih memakai seragam sekolah.
"Apa tidak bisa ganti pakaian dulu sayank, kenapa langsung tidur? kebiasaan deh kamu tetapi itu yang membuat aku menjadi jatuh cinta dan semakin gemas sama kamu."
Setelah puas memandang wajah cantik istrinya, Devano perlahan-lahan mengangkat tubuh Karina dan tentu saja ia tidak membawa barang-barang Karina, biarkanlah saja semua nya, tas, ponsel dan juga barang-barang lainnya berada di kamar Sintia, toh juga Sintia dengan Karina bersahabat baik dan tentu saja besok akan dibawa oleh Sintia ke sekolah.
Laki-laki itu dengan hati-hati dan juga pelan-pelan menggendong tubuh istrinya, ada rasa senang ketika Karina berada dipelukannya tetap mengingat jika istrinya itu masih marah padanya membuat Devano menggelengkan kepalanya, bisa biasanya ia yang sebagai suaminya malah dibenci istrinya sendiri, sementara Rama yang statusnya mantan pacar malah masih disenangi bahkan masih saja saat ini Karina mencintai Rama.
__ADS_1
Sesampainya di bawah, Sintia yang melihat Devano menggendong tubuh Karina sangat mesra, membuat gadis cantik itu iri,nandai saja ia yang berada di posisi Karina maka ia sangat senang sekali bahkan akan mengadakan selamatkan selama 7 hari dan 7 malam tentang pernikahannya bersama dengan Devano tetapi sayang sekali yang dinikahi Devano adalah sahabatnya sendiri dan juga yang dicintai Devano adalah Karina yang membuat Sintia benar-benar merasa iri namun semua hanya berbanding terbalik, mengapa Karina malahan tidak menerima pernikahan ini dengan sebaik-baiknya, padahal apa yang dicari dari sosok Devano itu sedangkan semuanya sudah komplit sebagai seorang laki-laki dan sudah sewajarnya jika Karina nurut kepada suaminya dan mencintai suaminya.
"Terima kasih, saya permisi dulu."
Ya tanpa basa-basi lagi setelah mengucapkan terima kasih, Devano segera keluar dari rumah Sintia di mana membuat Sintia menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya guru tampan dan killer itu masih saja bersikap dingin di depannya, tetapi dia juga membayangkan bagaimana jika Devano bersama dengan Karina berada di dalam kamar, apakah sama dinginnya atau tidak.
Mendapat bantuan dari Pak satpam yang membukakan pintu mobilnya, membuat Devano merasa lega, setelah Karina berada di dalam mobil, Devano segera melajukan mobilnya untuk menuju ke rumah Mamanya, yang mana sejak tadi Mamanya sudah meneleponnya dan meminta dirinya untuk segera pulang membawa istri cantiknya itu.
Tidak membutuhkan waktu yang lama terlebih perjalanan yang sangat lancar dan tidak macet membuat Devano sudah sampai di halaman rumah ia segera membuka sabuk pengamannya kemudian keluar dari mobil.
"Loh Van, kenapa menantu cantik Mama, apa yang kamu lakukan?"
Tentu saja mamanya Devano kaget ketika tiba-tiba Devano datang dengan menggendong tubuh Karina, dan belia bertanya apa yang terjadi dengan Karina, takut ada apa-apa dengan menantu satu-satunya itu.
"Tidak terjadi apa-apa Mah, Karina hanya ketiduran saja rupanya dia kelelahan setelah jalan-jalan di mall dengan temannya."
Mamanya Devano menganggukkan kepalanya, tentunya setelah mendapatkan jawaban dari Devano jila Karina baik-baik saja.
__ADS_1
Daripada banyak pertanyaan lagi, Devano segera membawa istrinya untuk ke kamarnya yang mana ia sendiri juga sudah lelah dengan pekerjaannya hari ini terlebih lagi memikirkan hubungannya dengan Karina, apakah memang bisa mempertahankan pernikahan ini atau Karina tetap kekeh ingin berpisah darinya.
Sesampainya di dalam kamar, Devano segera merebahkan tubuh Karina di atas ranjang, ia pelan-pelan melakukannya hingga ia bisa melihat sekali lagi wajah cantik Karina dengan mata yang masih terpejam yang membuat pikiran-pikiran kotor Devano kini menghantuinya, ingin rasanya ia melakukan apa yang diucapkan oleh teman-temannya itu yang mana malam ini sebenarnya adalah kesempatan yang baik untuk Devano supaya bisa memiliki Karina seutuhnya.
"Apakah aku harus melakukan saat ini juga?"
Devano sendiri masih bimbang, ia masih berada di atas ranjang dan tentu saja masih memanjang wajah cantik Karina dengan lekukan tubuh Karina yang nampak indah meskipun Karina masih menggunakan seragam sekolah tetapi sudah terpampang jelas di mata Devano jika tubuh Karina itu begitu indah terlebih lagi Devano sudah pernah melihat semuanya, sudah pernah menikmati bagian-bagian tubuh Karina.
"Tidak!! yang ada nanti malah Karina marah-marah sama aku."
Hingga akhirnya pikiran Devano yang masih waras itu tidak meneruskan rencana jahat dari teman teman nya, ia bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri terlebih dahulu, nanti setelahnya ia baru membersihkan tubuh Karina.
Dan di sinilah ujian Devano, di mana setelah ia keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian tidurnya, Devano melihat ke atas ranjang, istrinya masih tidur tetapi malam ini Devano tidak akan membiarkan Karina tidur memakai seragam sekolahnya meskipun seragam sekolahnya besok tidak terpakai lagi.
Dengan perlahan-lahan Devano membuka satu persatu kancing seragam Karina dan itu membuat ia lagi lagi harus menahan sesuatu yang mulai bergejolak di bawah sana, ingin rasanya malam ini memangsa Karina tetapi ia masih berpikir beberapa kali jika nanti tiba-tiba Karina membuka matanya dan merasakan sesuatu yang sudah menempel di bawah sana kemungkinan buruk dalah istrinya yang akan marah dan membuat Karina nanti tidak akan memaafkan dirinya dan berujung perpisahan.
Susah payah Devano menelan s@livanya, laki-laki itu dengan segera membuka satu persatu pakaian yang menjadi penutup tubuh Karina meskipun h@sratnya sudah diubun-ubun tetapi Devano tetap berusaha sekuat tenaga untuk tidak memangsa Karina, biarkanlah dirinya nanti malam menuntaskan h@sratnya sendiri di dalam kamar mandi.
__ADS_1