
"Apa mungkin aku harus melakukan itu? bagaimana nanti kalau Karina marah dan hubungan kami semakin tidak karuan saja?"
"Arghhh...."
Devano mengacak rambutnya sendiri ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kedua sahabat nya itu membuatnya pusing seketika, belum lagi Karina yang tidak bisa dihubungi membuat Devano pusingnya bertambah dua kali lipat.
Sejenak tidak memikirkan semua ucapan dari sahabat baik nya itu yang mana saat ini laki-laki itu sudah berada di kantornya dan di ruangannya. Memang saat ini sudah hampir sore tetapi Devano ingin segera menyelesaikan pekerjaannya kembali ke kantor daripada ia pulang ke rumah yang ada malah kepikiran terus kepada Karina sementara Karina masih belum ingin dijemput, karena perjanjian yang ditawarkan adalah nanti malam dan ini masih sore hari dan pastinya istrinya itu akan kembali merajuk dan malah semakin marah jika tiba-tiba Devano ada di depannya.
"Tetapi kalau aku tidak melakukan itu pastinya aku akan kehilangan Karina dan aku tidak mau kehilangan kamu, kamu adalah istriku dan kamu cinta pertama dan terakhir ku, tidak mungkin aku melepaskan mu, meskipun aku berjuang sekuat tenaga untuk dapat meluluhkan hati Karina tetapi aku yakin lambat laun Karina pasti bisa menerima aku sebagai suaminya dan mempertahankan rumah tangga kami."
Selain Devano yakin, Devano juga merasakan jika ada getar getar cinta yang ada di dalam diri Devano itu yang membuat Devano semakin bersemangat untuk mengejar cinta Karina dan tidak akan melepaskan istrinya, karena dari beberapa ciuman manis yang diberikan untuk Karina, Karina membalas tanpa adanya penolakan meskipun jika ditanya Karina sendiri tidak bisa menjawab, apakah ada rasa cinta di hati Karina untuk Devano.
Mungkin saat ini Devano harus mempunyai stok sabar menghadapi Karina terlebih lagi Karina yang baru saja putus dari kekasihnya dan Devano tahu jika Karin itu mencintai Rama bahkan mungkin untuk saat ini rasa cinta itu masih ada, maka dari itu Devano pelan-pelan mengambil hati Karina, tidak ingin memaksakan Karina dalam waktu dekat ini tetapi tetap memantau dan memperhatikan istrinya, tidak lupa memberikan kasih sayank dan cinta tulus yang ia miliki untuk istrinya itu.
Semakin lama memikirkan tentang ucapan dari kedua sahabatnya, Devano semakin pusing .. tetapi ia perlahan lahan juga tersenyum membayangkan bagaimana ketika bercinta dengan istrinya, belum apa-apa tetapi Devano sudah merasakan sesuatu yang mulai berubah ketika ia kembali membayangkan bagaimana kejadian malam itu di mana ia sudah melihat dengan jelas tubuh Karina dan juga sudah mencicipinya sedikit.
__ADS_1
Ya meskipun Devano juga malam itu sedikit mabuk tetapi ia tidak lupa, ia masih waras untuk melakukan sesuatu yang baru pertama kali Devano lakukan dan itu membuat Devano malah menjadi seperti orang gila saat ini ketika mengingat kembali apa yang sudah ia lakukan untuk pertama kalinya, sejarah hidupnya.
Terhanyut dengan lamunan nya, hingga Devano tidak menyelesaikan pekerjaannya, ia hanya melihat pekerjaanya saja, sembari laki-laki itu menetralkan sesuatu yang kini mulai tidak tahan di bawahnya yang pastinya hanya dengan membayangkan kejadian malam itu dan wajah cantik Karina, sesuatu di bawah sudah bergerak bebas dan ingin segera dikeluarkan.
"Shittt!! Sabar boy belum waktunya kamu keluar, lagi pula kita harus menjinakkan pawangmu dulu, Kalau tidak dia akan marah-marah dan kamu tidak akan pernah merasakan sesuatu yang enak.."
Sesuatu yang enak? tentu saja Devano sendiri tidak tahu bagaimana rasa enaknya itu, ia hanya mendapatkan cerita dari kedua sahabatnya tetapi Devano yakin jika memang benar rasa itu memang sangat enak dan candu terlebih lagi Devano sudah melakukan pemanasan dulu kepada Karina malam itu dan pastinya itu membuat Devano ingin melakukannya lagi dan bahkan lebih dari sekedar melakukan pemanasan saja.
"Senyum-senyum sendiri seperti orang gila, sedari tadi gue mengetuk pintu tetapi tidak ada sautan dari lo!"
"Sialan lo, gue masih waras!"
Tentu saja selain kaget, Devano juga pura-pura saja bersikap cuek dan tidak senyum, meski sebenarnya ia masih membayangkan tentang wajah Karina itu dan juga ciuman yang diberikan oleh Devano beberapa waktu yang lalu yang membuat laki-laki itu menjadi gila dan tidak tahu kalau Beni masuk ke dalam ruangannya.
"Waras? waras kok begitu.. ada apa lagi? bukannya meeting dengan klien tadi sukses?"
__ADS_1
Beni yang sudah lama mengenal Devano meskipun ia jarang bertemu Devano, tetapi atau betul bagaimana sikap dan sifat dan juga bagaimana perasaan Devano yang kali ini Beni menangkap ada sesuatu yang tidak beres, bukan hanya seputar ekspresi Devano yang terlihat senyum-senyum sendiri seperti orang gila, namun sepertinya Devano juga menyembunyikan sesuatu, sesuatu di dalam pikirannya, dan Beni tidak tau itu ada apa dan tentang apa.
"Meeting dengan klien sukses, tetapi tidak sukses dengan hatiku."
Kembali lagi Devano menyandarkan punggungnya dengan membuka kacamata yang sedari tadi melekat di kedua matanya itu dan segera menjauhkan pandangannya dari benda pipih panjang yang ada di depannya.
Devano menghirup udara sebanyak-banyaknya, ia sendiri bingung harus berbuat apa dan bagaimana, sementara sampai saat ini pesan yang dikirimkan kepada Karina belum sama sekali dibalas, jangankan dibales, Karina sendiri belum membacanya bahkan pesan itu hanya centang satu dan itu berarti ponsel karena masih mati dan tidak bisa dihubungi.
"Hahaha makanya kalau cinta bilang cinta jangan dipendam sendiri, gue malahan bingung sendiri dari tadi gue perhatiin Lo, seperti juga bingung sama kayak gue... Dan sebenarnya Lo itu lagi jatuh cinta atau patah hati sih? jangan bikin gue penasaran dengan sikap Lo!"
Tentu saja melihat ekspresi dari Devano ini mendadak Beni bingung sendiri, pasalnya selama bekerja dan mengenal Devano, laki-laki itu belum pernah sekali melihat ekspresi wajah Devano seperti itu, sebentar tersenyum tetapi sebentar sebentar terdiam, sepertinya ada sesuatu yang memang benar-benar mengganjal di pikiran Devano, bukan hanya sedang jatuh cinta saja tetapi sepertinya Devano juga lagi patah hati.
"Lo tau sendiri kalau selama ini gue belum pernah jatuh cinta, dan sekali nya gue jatuh cinta belum ada respon sama sekali sama dia meskipun sebenarnya biasa saja jika gue jatuh cinta sama istri gue sendiri."
Devano berdiri dari duduknya, yang kemudian ia melangkahkan kakinya untuk menuju ke sofa yang saat ini Beni berada dan tentunya Devano kembali menyandarkan punggungnya itu, dan memikirkan lagi bagaimana caranya membuat istrinya bisa jatuh cinta dengan nya.
__ADS_1