
"Bukan begitu Dirga, tapi..."
Karina merasa tidak enak dengan Dirga, pasalnya ia baru bertemu dengan teman masa kecilnya tetapi Karina sudah menolak ajakan untuk jalan-jalan, namun Karina juga tidak mau membatalkan acaranya dengan Rama yang pastinya akan membuat Rama kecewa.
"Ya sudah kalau begitu, aku nunggu kamu bisa saja.. mungkin aku akan menunda jalan-jalan aku dan pulang sekolah langsung tiduran saja di rumah."
Lagi lagi ucapan dari Dirga membuat Karina merasa bersalah, ia tidak sampai setega itu membiarkan Dirga yang baru saja tiba di Jakarta sendirian, tetapi ia juga merasa kangen dengan teman lamanya itu yang mana memang sedari kecil Dirga dan juga Karina sudah sering jalan-jalan bersama bahkan mereka sudah akrab layaknya saudara sendiri.
Dirga sekilas melirik ke arah Karina, ia tahu kelemahan Karina itu di mana. Di mana Karina tidak tega dengan seseorang, terlebih lagi dirinya dan Dirga memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Karina mau menuruti permintaan nya dan tentu saja Dirga akan pura-pura untuk memelas supaya Karina mau jalan-jalan dengannya nanti sepulang sekolah.
"Ya sudah deh kalau begitu nanti pulang sekolah kita ke jalan-jalan, tapi kita tidak hanya berdua saja ya?"
Sialan kenapa mesti harus ada pacarnya... Harusnya hanya aku dan Karina yang pergi nanti siang...
Sepertinya rencana Dirga untuk memisahkan Karina dengan Rama sedikit terhambat, pasalnya baru satu langkah awal pertama saja Karina masih mementingkan Rama dan masih mengajak Rama untuk jalan-jalan bersama dengan dirinya. Padahal Dirga ingin membuat Karina semaki menjauhi Rama dan akan merebut Karina.
"Siapa?"
"Nanti aku kenalin, tidak apa-apa kan kalau kita perginya bertiga?"
__ADS_1
Mau tidak mau Dirga menggelengkan kepalanya yang mana ia tidak bisa berbuat banyak lagi dengan apa yang diucapkan oleh Karina, tetapi Dirga tidak menyerah.. ia akan membuat Karina lepas dari Rama dan memisahkan keduanya.
Hingga akhirnya keduanya mengakhiri obrolan karena tiba-tiba guru piket datang untuk menunggu kelas mereka yang mana memang jika dibiarkan, maka teman-teman Karina akan berkeliaran keluar bahkan lebih parahnya mereka akan pergi ke kantin.
Sedangkan di tempat lain, Devano tidak fokus sekali dengan pekerjaannya di mana pikirannya saat ini tertuju kepada Karina.
Entah mengapa ada rasa bersalah ketika semalam ia mendiamkan Karina dan pergi tanpa pamit, meskipun Devano juga kesal dengan Karina tetapi ia juga merasakan ada yang kurang di dalam hatinya ketika berjauhan dengan Karina.
Ya Devano merasa ada sesuatu yang hilang di dalam hatinya, di mana ia kangen dengan sosok Karina yang bawel dan susah sekali diatur, tetapi meski begitu ia sendiri tidak mempermasalahkan, malahan sifat Karina itu membuat dirinya semakin hidup dan juga bersemangat untuk menjalani pernikahan ini.
Devano mengambil ponselnya dan berniat untuk mengirim pesan kepada Karina tetapi setelah Devano pikir-pikir, ia mengurungkan niatnya karena mungkin Karina saat ini sedang belajar dan tidak mungkin juga akan membalas pesan yang ia kirimkan.
Tidak diam begitu saja, Devano menghubungi seseorang di mana orang itu adalah orang kepercayaan yang memang diminta untuk mengawasi gerak-gerik Karina.
Tetapi sebagai suaminya, Devano juga merasa khawatir dan wajar saja jika cemburu ketika Karina pergi berduaan dengan Rama yang mana Karina saat ini adalah istrinya dan tidak akan membiarkan laki-laki lain untuk dekat dengan Karina.
"Tolong awasi gerak-gerik Karina, tentunya setelah pulang sekolah.. dan laporkan kepada saya secepatnya."
Devano langsung saja menutup sambungan teleponnya, ia sudah percaya dengan orang kepercayaan itu yang dapat memberikan informasi tentang Karina dan tentu saja ia berharap jika Karina pulang sekolah langsung pulang ke rumah, tidak main ke mana dulu.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian..
Setelah Devano berkutat dengan pekerjaannya seharian, akhirnya ia bisa sedikit bernafas dengan lega karena sudah waktunya sedikit melonggarkan dasinya untuk beristirahat sejenak.
Devano melihat jam yang melingkar di tangannya, yang nyatanya saat ini adalah jam dua siang dan tentunya sudah waktunya Karina pulang sekolah.
Laki-laki itu mengambil ponselnya lagi dan melihat apakah ada panggilan masuk, apa ada pesan dari Karina yang nyatanya setelah Devano melihat, tidak ada satupun pesan yang dikirimkan oleh Karina.
Padahal Devano berharap jika istrinya itu mengirimkan pesan, setidaknya menanyakan kabarnya atau bagaimana, atau mungkin Karina marah-marah karena tidak mengatakan kalau pergi ke Bandung dan itu tidak masalah bagi Devano, yang penting ia bisa melihat betapa perhatiannya karina, namun semuanya hanya angan-angan dari Devano saja yang mana laki-laki itu menggelengkan kepalanya dan tentunya banyak berharap dengan hubungannya bersama dengan karina yang nyata-nyata-nya Karina sama sekali tidak mengertinya sebagai suami.
Ting
Baru saja Devano akan menaruh ponselnya di atas meja tetapi tiba-tiba bunyi pesan masuk dan Devano segera membukanya, ia berharap lagi juga pesan itu dari Karina.
[Nyonya muda sudah keluar dari sekolahan tetapi Nyonya muda melajukan mobilnya untuk menuju ke sebuah mall di dekat sekolahan itu namun yang menjadi pertanyaan dan ada kendala, di belakang mobil Nyonya muda terdapat dua mobil yang sama-sama mengikutinya]
Devano mengeryitkan alisnya, manakala ia melihat foto dan video dua mobil berwarna hitam yang mengikuti istrinya, di mana bisa dipastikan kalau salah satu mobil itu adalah milik Rama tetapi yang satunya lagi Devano tidak tahu.
"Kamu cari tahu mobil siapa yang ada di belakang mobil Rama dan kabari saya secepatnya"
__ADS_1
Setelah melihat video yang dikirimkan oleh anak buahnya Devano segera menghubungi anak buahnya itu di mana ia menginginkan kabar tentang siapa yang berada di urutan paling belakang mobil yang mengikuti istrinya yang mana kalau di belakang mobil Karina, Devano tahu itu adalah mobil milik Rama tetapi di belakang nya lagi sepertinya Devano belum pernah melihat mobil itu.
Devano berdiri, ia menatap ke arah jendela tentu saja penasaran dengan mobil siapa yang saat ini bersama dengan istri nya itu yang mana mungkin Devano ketinggalan informasi jika memang ada teman Karina yang ingin ikut tetapi rasanya tidak mungkin, jika itu mobil Sintia pastinya Devano sudah paham betul ataupun jika itu adalah mobil dari salah satu teman Karina yang bersekolah di sana, pastinya Devano juga sudah tahu tetapi mobil itu baru pertama kali Devano lihat dan tentu saja Devano menjadi penasaran siapa lagi yang berusaha untuk mengusik rumah tangganya.