Terjebak Pesona Istri Kecilku

Terjebak Pesona Istri Kecilku
Lumayanlah


__ADS_3

Karina menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan jika tidak ada orang lain yang berada di kantin ini dan beruntung sekali jika memang hanya ada dirinya dan juga Sintia saja yang ada di sini dan juga Ibu si penjual kantin tetap pastinya ibu itu sibuk di belakang dan tidak mau tahu urusan anak-anak muda, termasuk urusan Karina.


Dan sepertinya memang ia harus menceritakan semuanya kepada Sintia sahabatnya sejak kecil dimana memang keduanya sudah saling bercerita meskipun untuk masalah pribadi, hanya saja Karina masih ragu dan belum ada waktu untuk bercerita kepada Sintia.


Tapi kali ini Karina tidak mau menundanya lagi, gadis cantik itu menceritakan semuanya termasuk awal bertemu Karina dengan Devano di malam pesta itu.


"Kamu masih ingat kejadian pas malam pesta ulang tahun si cabe itu kan?"


Mengingatkan, Karina tidak langsung to the poin tetapi ia ingin mendapat jawaban dari Sintia sahabatnya.


"Gue masih ingat malam itu, lo dipaksa minum sama si cabe dan lo minum, tetapi setelah itu gue cari-cari lo nggak ada..."


Karina menganggukkan kepalanya ternyata sahabat nya itu masih ingat betul dengan kejadian malam dimana Karina sendiri juga masih mengingatnya, tetapi sebenarnya Karina mau melupakan namun bayangan-bayangan ia sekamar dengan Devano masih saja terlintas di benaknya.


"Sebenarnya lo malam itu ke mana? Gue cari nggak ada sampai gue bingung sendiri, bahkan orang tua lo hubungi gue..."


Karina menghela nafas panjang, ia mau tidak mau cerita tentang Devano kepada Sintia saat ini juga supaya sedikit beban di dalam pikirannya itu bisa berkurang.


"Waktu itu gue bersama dengan Pak Devano, gue...."


Karina menceritakan semuanya, semua kejadian malam itu di mana ia diseret paksa untuk masuk ke dalam kamar hotel oleh Devano, laki-laki yang sama sekali tidak Karina kenal bahkan Karina masih sangat jelas sekali meskipun ia sedikit mabuk tetapi Karina bisa mengendalikan diri, bukan mengendalikan dirinua sendiri , tetapi untung saja Devano waktu itu sudah pingsan duluan, seandainya Devano tidak pingsan duluan maka sesuatu akan terjadi padanya malam itu juga.


"Astaga kenapa sampai segitunya lo nggak cerita sama gu, jadi lo dan Pak Devano sudah?"

__ADS_1


"Awh..."


"Diam bego!! kenapa malah bicaranya keras sekali nanti kalau ada yang mendengar gimana."


Dengan cepat Karina menutup mulut Sintia dengan telapak tangannya, sementara Sintia sendiri melongo dan tidak percaya, bahkan ia sedikit berteriak karena ternyata sahabatnya mempunyai hubungan khusus dengan guru idola di sekolahan ini, tetapi Sintia belum tahu tentang pernikahan Karina dengan Devano, hanya saja kalau sahabatnya itu sudah pernah melihat bagian tubuh Devano yang polos tanpa tertutup benang sekalipun.


"Jangan keras-keras, bukan hanya malam itu saja tetapi setelah itu dia datang ke rumah dengan orang tuanya dan nikahin gue."


"Ha?"


Sintia semakin tidak percaya, bahkan ia sendiri tidak bisa berucap apa-apa ketika Karina mengatakan jika Karina sudah menikah dengan Devano.


"Sumpah gue kaget banget, Kok bisa begitu dan lo kenapa nggak cerita sama gue dari dulu?"


Karina berusaha untuk menahan air matanya supaya tidak membasahi pipinya meskipun jika ia mengingat kejadian tadi di mana Rama dengan sepihak memutuskan hubungan dengan nya, tetapi Karina berusaha untuk bisa tegar menghadapi semuanya ini.


"Jadi memang benar kalau lo sama Rama itu sudah putus dan tentu saja gara-garanya Pak Devano?"


Karena menganggukkan kepalanya, tidak ia pungkiri memang berita putusnya hubungannya dengan Rama akan cepat tersebar, Karina tahu sejak ia  berhubungan dengan Rama pastinya sudah banyak yang ingin mengikuti jejaknya bahkan ingin mengurai informasi tentang gaya pacaran antara dirinya dengan Rama dan juga tidak sedikit yang mendoakan supaya Karina dan Rama putus, karena mereka iri melihat hubungan yang hampir 2 tahun ini tidak ada masalah sama sekali bahkan semakin lengket dan juga mesra.


"Sumpah gue kaget banget Rin hampir saja gue nggak percaya kalau itu bukan dari mulut lo sendiri. Jadi lo saat ini istri dari Pak Devano, guru idola gue itu?"


Sintia masih ragu mendapatkan cerita itu dari Karina tetapi tidak mungkin jika sahabatnya itu berbohong mengenai segala sesuatu yang mungkin saja akan mengancam hidup Karina sendiri.

__ADS_1


Sedangkan Karina sendiri tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Sintia, ia enggan mengakui Devano sebagai suaminya setelah Devano berbuat curang padanya.


"Gila.. akhirnya lo yang mendapatkan Pak Devano, gue aja kalah Rin .. oh ya selamat selamat ya dan jangan lupa makan-makannya, gue tunggu!!"


Bukannya melihat kesedihan di mata Karina tetapi Sintia malah memberikan ucapan selamat dan meminta traktiran, tidak tahu saja jika sahabatnya saat ini sedang merenung tentang nasibnya, bagaimana nasib pernikahannya dengan Devano sementara dirinya lagi patah hati karena diputusin oleh sang pacar.


"Sialan!! lo nggak tahu saja kalau gue lagi galau dan patah hati, kenapa lo malah mau minta traktiran!!"


"Ya gue senang aja, meskipun gue tidak bisa mendapatkan Pak Devano tetapi gue seneng kalau lo yang menjadi istrinya pak Devano, karena gue tahu dan paham dan pastinya Pak Devano sudah jatuh cinta sama lo."


Ujar Sintia dengan entengnya, meskipun ia sedikit kaget mendengar berita yang baru saja didapatkannya tentang putusnya hubungan Karina dengan Rama tetapi ia sedikit senang ternyata Karina sudah menikah dan meskipun juga ia patah hati ternyata suami Karina tak lain tidak bukan adalah pak Devano, seorang laki-laki idaman yang membuat semua orang terpesona dengan ketampanan wajahnya, termasuk Sintia sendiri. Tetapi tidak apalah daripada Devano itu dimiliki orang lain mendingan sahabatnya yang mungkin nanti bisa lebih dekat dengan Pak Devano dan bisa melihat wajah tampan itu dengan sukarela.


Sedangkan Karina ia bingung harus sedih ataupun senang dengan keadaannya saat ini di mana barusan Rama sudah memutuskan hubungan dengannya dan kini malahan sahabatnya itu merasa senang jika dirinya menikah dengan Devano.


"Makan yang banyak, mau nambah juga boleh. Dan jangan khawatir, ini nanti akan dibayarkan sama suami lo?"


Ucap Sintia dengan memesan lagi satu mangkok bakso dan es tehnya. Dan mengatakan jika semua ini nantinya akan dibayar oleh Pak Devano.


"Ckkk... Miskin apa dibayarin segala? nggak perlu ..gue masih bisa bayar sendiri!"


"Jangan begitu, lumayanlah ... punya suami tajir itu harus dimanfaatin, terima saja .. lagi pula uang lo nanti bisa buat jalan-jalan ke mall!"


Tidak memperdulikan sahabatnya, Sintia dengan cepat mengambil pesanan bakso itu dan mengatakan pada ibu penjual kantin jika semua ini nanti yang membayar oleh Pak Devano, tentu saja ibu untuk menganggukkan kepalanya karena barusan ia menerima panggilan telepon dari Devano yang mengatakan jika semua makanan dan minuman yang dipesan oleh Sintia dan juga Karina akan dibayar olehnya.

__ADS_1


__ADS_2