
Karina sudah membuka tangannya dan sudah bersiap untuk menerima lembaran-lembaran merah yang akan dipamerkan padanya dan Karina sangat berharap sekali jika Devano akan memberikan lembaran-lembaran merah yang jumlahnya banyak itu kepadanya, tidak hanya satu lembar seperti yang biasanya diberikan oleh Papahnya.
Devano tersenyum, ia memang senang untuk mempermainkan perasaan Karina terlebih lagi jika membuat istrinya itu manyun dan marah-marah, itu yang semakin membuat Devano ingin mempertahankan pernikahan itu meskipun Devano sendiri belum sadar jika sudah ada benih-benih cinta di dalam hatinya tetapi rasanya bersama dengan Karina dan mengerjai Karina adalah sesuatu kebanggaan tersendiri untuk dirinya, maka dari itu Devano akan berusaha untuk mempertahankan pernikahan ini, syukur-syukur kalau memang dirinya bisa jatuh cinta dengan Karina dan bisa membuat Karina jatuh cinta padanya.
"Kok cuma segini?"
Karina melototkan matanya ketika Devano sudah memberikan uang saku untuk Karina hari ini, di mana ia menginginkan lembar-lembaran yang jumlahnya sangat banyak itu tetapi kenyataannya tidak, Devano memberikan satu lembar uang berwarna biru di mana memang di dalam uang berwarna merah itu tadi terselip satu warna biru yang memang Devano sisihkan untuk Karina, sengaja memang ia akan memberikan Karina uang jajan setiap harinya seperti itu.
Bukan karena Devano pelit atau bagaimana, tetapi itu juga atas saran dari Papa Raharja, di mana Papa Raharja memang memberitahukan kepada Devano jika Karina itu sangat boros dan Papah Raharja meminta kepada Devano untuk mengubah Karina meskipun itu sangat sulit tetapi Papah mertuanya itu yakin jika Devano mampu untuk melakukannya meskipun harus melewati jalan yang berliku-liku sedikit demi sedikit dan yakin nanti nyatanya pasti akan bisa.
"Lah emangnya berapa?"
"500.000, bukanya Aku tadi sudah bilang jika uang saku aku tiap hari 500.000, itu hanya jajan saja di sekolah belum lagi jika aku ingin ke mall dan shopping bersama teman-temanku."
Lagi lagi Devano tertawa kemudian ia menutup dompetnya dan mengembalikannya lagi ke sakunya di mana memang tidak ada penambahan uang jajan untuk Karina pagi ini, nanti siang jika Karina ingin jalan-jalan dengan teman-temannya itu beda lagi dan harus atas persetujuan dengan Devano.
"500.000 dari Hongkong? aku tahu uang jajan setiap hari adalah 100.000 tidak lebih dari itu, bahkan jika kamu ingin pergi shopping dengan teman-temanmu kamu juga harus minta izin dari Papah atau Mama, baru mereka akan memberikan uang tambahan lagi."
__ADS_1
Asem ternyata Devano sudah mencari tahu semuanya tentang aku, kalau begini Aku gagal deh morotin duit dari Devano, sial sial sial.
Karina mengumpat kesal di mana ia sudah berangan-angan ingin membeli sesuatu yang entahlah itu penting atau tidak tetapi yang jelas yang memang Karina itu gadis yang gaul dan juga gadis ABG masa kini, maka segala trend yang baru-baru keluar Karina harus punya.
Tetapi harapan tinggal harapan saja, tidak bisa menjadi kenyataan karena Devano malah memberikannya satu lembar uang berwarna biru dan itu tidak sesuai dengan apa yang diucapkan dan juga apa yang dipikirkan.
"Papa memberikan uang aku jajan 100.000 tetapi om malah memberikan aku 50.000, lalu yang 50.000-nya lagi ke mana? bukankah ini malah lebih parah dari Papa? bisa-bisa Aku akan mengadu sama papa jika Om tidak memberikan uang jajan yang banyak."
Ancam Karina, ya Karina berpikir jika ia mengadu kepada Papanya maka Devano akan dimarah-marahin dan langsung saja memberikan apapun yang Karina inginkan, tidak tahu saja jika Devano dan Papa Raharja sudah sekongkol untuk masalah ini.
"Oh ya aku tidak takut kalau begitu, silakan kamu telepon Papa kalau perlu kamu minta uang jajan sama Papa, aku yakin pasti Papa tidak mau ngasih uang jajannya sama kamu karena kamu sekarang sudah menjadi tanggung jawabku dan apapun yang aku lakukan kepada kamu, baik Papa maupun Mama mereka tidak akan pernah mau ikut campur dan tidak akan berani ikut campur tentang rumah tangga kita."
Tentunya Devano tidak perduli dengan apa yang Karina katakan, yang jelas ia ingin mengubah Karina menjadi sosok perempuan yang baik dan juga bisa mengerti tentang kehidupan ini, bukan hanya sekedar untuk menghambur-hamburkan uang saja.
"Sialan!! dasar om Devano pelit, kalau gini aku tidak usah nikah sama dia!!"
Lagi lagi Karina mengumpat kesal, ia juga berteriak memaki Devano meskipun Devano tidak mendengarnya sama sekali.
__ADS_1
Hingga akhirnya Karina yang sudah selesai marah-marah dan mengumpat, kemudian turun dari mobil, di mana memang tadi Devano meminta Karina untuk mendekat dan setelah Karina mendekat, Devano dan Karina langsung saja menuju ke mobil.
Tidak mungkin juga memberikan uang jajan kepada Karina di tempat umum, dimana nanti teman-teman Karina pastinya akan mengetahui jika karina sudah menikah dengan Devano, itu yang tidak mau Karina tahu dan lebih memilih untuk tetap merahasiakannya terlebih lagi ada Rama, perasaan Rama harus Karina jaga.
Karina masih kesal, terlebih lagi dengan Devano saat ini yang mana ia ingin sekali menguliti suaminya itu dan masih terus saja mengumpat kesal Devano meskipun itu dilakukan dari dalam hati.
"Awas saja kamu... Aku sumpahin Kamu tidak akan pernah bahagia..."
"Hai yang siapa yang tidak akan pernah bahagia? pagi-pagi sudah bermain-main dengan sumpah, jangan begitu sayank."
Entah dari mana tiba-tiba Rama datang padahal sedari tadi Rama lebih dulu untuk masuk ke kelasnya setelah menyapa Karina, karena ada sedikit tugas yang belum Rama selesaikan.
Tetapi setelah Rama menyelesaikan tugasnya, ia masuk ke dalam kelas Karina, tetapi sayang sekali Karina belum ada di kelas yang membuat Rama akhirnya memutuskan untuk mencari Karina, hingga ketemu di lobi dengan Karina yang dengan raut wajah yang cemburu dan juga mengumpat kesal, entahlah siapa lagi yang menjadi korban Karina saat ini.
"Nggak tahu namanya yang jelas aku sebel banget yank pagi-pagi sudah bikin mood Aku jelek."
"Ada yang nembak kamu lagi?"
__ADS_1
Ya biasanya memang seperti itu jika ada yang nembak Karina pastinya akan marah-marah dan Rama berpikiran seperti itu yang membuat Karina langsung saja menganggukkan kepalanya.
Ya Tuhan harus sampai kapan lagi gue bohongi Rama tetapi untuk jujur dengan dia, gue sendiri tidak sanggup, Rama begitu tulus mencintai gue dan Rama adalah laki-laki yang baik, gue tidak tega jika mengatakan kalau gue sudah menikah meskipun gue sendiri tidak mencintai Devano, tetapi bagaimana caranya .. gue takut membuat Rama terluka.