
Devano melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak mau jika sampai Karina berbuat yang tidak tidak dengannya di mobil ini meskipun Devano sadari ia ingin sekali melakukan sesuatu kepada Karina tetapi bukan di mobil
Ya karena Devano sedari tadi merasa entah, bahkan mungkin saat ini Karina sudah tidak disadarkan diri karena pengaruh minuman beralkohol, dan Devano yakin jika Karina hanya minum minuman itu saja tidak dicampur dengan obat-obatan yang lainnya.
Namun Devano tetaplah khawatir, terlebih lagi ini adalah pertama kalinya Karina menginjakkan kakinya di kelab malam itu dan tentunya di sana sangat berbahaya, Karina sendirian pula di sana. Bagaimana jika ia tidak menemukan Karina secepat nya pasti hal buruk sudah terjadi kepada istrinya.
Untung saja Devano dan anak buahnya itu sudah menemukan Karina dalam waktu yang sangat cepat dan juga tepat hingga ia bisa segera membawa Karina keluar dari kelab malam itu.
"Bagaimana kamu bisa sampai di sana Karin dan untung saja aku yang menemukan kamu, bagaimana jika ada laki-laki lain yang menemukan kamu?"
Pertanyaan dari Devano tentu saja tidak bisa dijawab oleh Karina meskipun Karina belum tertidur tetapi Karina sedang mabuk berat dan pastinya bukan jawaban yang benar yang akan dikeluarkan dari mulut Karina melainkan jawabannya pastinya ngaco.
Dan memang benar saja Karina tidak menjawab, gadis cantik itu malahan menatap wajah Devano kemudian tersenyum .. tentu saja Devano menjadi bingung dengan ulah Karina saat ini terlebih lagi, ia memang tidak pernah mabuk jadi tidak tahu menahu apa yang dirasakan oleh orang-orang ketika mabuk.
"Pak Devano ternyata ganteng juga, jadi memang benar kata teman-temanku kalau bapak ini sangatlah ganteng dan mempesona, tetapi juga killer!!"
Tentu saja Karina dengan cepat membuka sabuk pengamannya, meskipun bahaya tetapi entahlah gadis cantik itu ceroboh sekali bahkan saat ini tangannya terulur untuk membelai lembut pipi Devano hingga membuat laki-laki itu ketar ketir sendiri, memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Karina, terlebih lagi saat ini posisinya yang menyetir dan harus fokus ke depan walaupun sebenarnya ada sesuatu yang sudah ditahannya sehingga ia benar-benar tidak bisa konsentrasi dalam mengemudikan mobilnya.
"Jauhkan tangan kamu sayank atau kamu akan menyesal setelah ini!!"
Devano berusaha sekuat tenaga untuk menahan sesuatu di bawah sana meskipun ini adalah saat yang tepat kalau Devano akan melakukan sesuatu dengan istrinya, terlebih lagi tangan Karina yang sudah nakal membuat h@srat Devano meningkat.
Jujur saja, Devano tidak ingin melakukan sesuatu yang pertama kalinya bagi nya dan bagi Karina dengan keadaan yang seperti ini, tetapi...ia juga tidak sanggup menahan jika Karina terus menerus melakukan sesuatu yang membuat si Joni bangun dan berdiri tegak.
__ADS_1
"Hahaha kenapa Pak Devano? apa bapak tertarik dan terpesona padaku? apa sentuhan tanganku membuat bapak menjadi menginginkan yang lebih? astaga mengapa teman-teman aku tidak tahu jika guru yang dipuja-puja dan diidam-idamkan ini sangat mesuumm!! baru segini sudah menginginkan yang lebih."
Tentu saja tangan Karina tidak hanya membelai lembut pipi Devano, tetapi tangan gadis cantik itu juga nakal untuk turun ke bawah menelusuri dada bidang Devano dan mengusapnya dengan sangat lembut tentunya gerakan ini membuat Devano langsung menggelengkan kepalanya.
"Hentikan tangan kamu Karina!!"
Terus saja apa yang dilakukan oleh Karina membuat sesuatu di bawah sana menjadi berubah bentuk dan ukurannya. Jujur saja Devano akui, sentuhan-sentuhan lembut dari jemari Karina membuat ia menginginkan lebih dari ini dan apa yang diucapkan oleh Karina itu adalah benar jika ia akan menginginkan sesuatu yang lebih hanya dengan gerakan jari manis Karina yang sudah menari-nari di dadanya.
"Haaaa....."
Dengan cepat Karina melepaskan jari tangannya kemudian gadis cantik itu langsung saja tertawa dan memposisikan tubuhnya di tempat yang semula.
Devano hanya mendengus kesal, bisa bisanya Karina yang sudah membuatnya on tetapi dia seolah-olah tidak bersalah dan seolah olah tidak terjadi, kalau seperti ini...ingin rasanya ia menerkam istrinya itu di mobil saat ini juga.
"Loh, kenapa bapak membawa aku ke sini? ini bukan rumah ku atau rumah Sintia?"
Ya sepertinya memang Karina benar-benar mabuk dan lupa jika selama ini sudah tinggal di rumah Devano dan Devano adalah suaminya.
"Kamu lupa? jika Kamu adalah istriku dan kamu sudah tinggal di sini bersama aku dan kedua orang tuaku."
"Ha??"
Karina sendiri antara sadar dan tidak sadar, ia langsung melongo mendengar ucapan dari Devano bahkan ia tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini, bisa-bisanya ia menikah dengan guru killer yang sangat dibencinya.
__ADS_1
"Ayo sayank turunlah, kita sudah sampai dan jangan salahkan aku jika berbuat sesuatu yang tidak tidak, karena kamu sudah memancing apa yang tertidur sedari tadi.!!"
Devano, laki-laki itu segera membuka sabuk pengamannya kemudian turun dari mobil ia membiarkan istrinya itu turun sendiri dari mobil dan masuk ke dalam rumah meskipun sebenarnya Devano juga tidak tega tetapi ia ingin tahu bagaimana Karina bisa sampai ke kamarnya dengan kondisi yang seperti ini.
Devano menunggu Karina keluar dari mobil tetapi setelah 10 menit ditunggu Karina tidak menunjukkan tanda-tanda untuk keluar dari mobil hingga Devano yang tidak sabar, langsung saja membuka pintu mobil dan dengan cepat membawa tubuh Karina.
"Eh, apa-apaan? kenapa bapak malahan menggendong ku? Turunkan aku?"
Ucap Karina yang tiba-tiba kaget dengan apa yang dilakukan oleh Devano, gadis cantik itu masih tidak menyangka jika ia digendong oleh Devano, yang entahlah...antara ini merupakan bencana atau anugerah bagi Karina hingga ia tidak bisa berbuat apa apa lagi, hanya pasrah ketika Devano menggendong nya, meskipun Karina tadi sempat berontak.
"Baguslah.. diam lebih baik daripada berontak!!"
Tanpa diancam istrinya itu langsung saja terdiam entahlah, apalah gendongan dan aroma tubuh Devano itu membuat Karina nyaman atau memang Karina takut jika terjatuh.
Hingga kini Devano sudah membawa tubuh Karina dan sampai di depan kamarnya, dengan Devano membuka pelan-pelan kamar itu karena ia masih menggendong tubuh istrinya.
Bukk
"Aw...."
Ringis Karina yang mana Devano menurunkan tubuhnya tidak pelan-pelan meskipun ranjang itu sudah empuk, tetapi Karina juga merasakan sakit di tubuhnya.
"Itu hukuman pertama buat kamu karena kamu sudah berani-beraninya masuk ke dalam kelab dan tunggu hukuman dariku yang kedua, ketiga dan ke banyak kalinya!!"
__ADS_1
Lagi lagi Devano menampilkan senyum devilnya, laki-laki itu segera beranjak dari atas ranjang dan meninggalkan Karina yang masih dengan pikirannya sendiri. Sebelum ke kamar mandi Devano mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu, ia tidak mau jika Karina kabur dan meninggalkan rumah ini lagi.