
Karina dan Sintia sudah berada di rumah Sintia dan saat ini mereka berdua sedang berada di atas ranjang tentu saja setelah beberapa jam jalan-jalan di mall, ke keduanya terlihat kelelahan apalagi perutnya yang sudah kekenyangan, sudah menyantap beberapa makanan kesukaan mereka.
"Gue masih nggak nyangka lo nikah sama Pak Devan, gila aja sedari dulu gue yang kagum sama dia tetapi kenapa lo yang memilikinya."
Ujar Sintia yang saat ini posisi tidurnya menatap ke arah sahabatnya sementara Karina sendiri, gadis cantik itu hanya diam saja meskipun telinganya mendengar ocehan dari Sintia tetapi Karina juga tidak ada niatan untuk menanggapi ataupun memberikan jawaban kepada sahabatnya.
"Dan gue juga pengen lihat bagaimana nanti pak Devano sama lo, ini aja sepertinya dia benar-benar tulus cinta dan sayang sama lo hingga mati-matian membuat lo sama Rama putus, gila aja.. seorang Pak Devano yang dingin dan juga seperti itu bisa-bisanya jatuh cinta sama gadis modelan kayak lo, cantik si lo tetapi sifat lo ya absurd kadang-kadang membuat gue ilfil."
"Sialan lo ngatain gue absurd padahal Lo sendiri yang absurd, lagi pula siapa yang rencanain mau nikah sama dia? Lo tau sendiri kan gue sama dia aja tidak saling kenal bahkan dia datang ke selokan ini pas gue nggak masuk dan tentu saja gue kaget ternyata laki-laki yang malam itu menyeret gue ke dalam kamar hotel adalah dia, guru gue sendiri."
__ADS_1
Padahal tadi Karina tidak berniat untuk menanggapi atau menjawab pertanyaan dari Sintia,tapi mendengar ucapan dari yang tidak mengenakkan telinganya membuat bibir Karina maju dan tidak bungkam. Gadis cantik itu malahan kini sedang membayangkan bagaimana Devano menariknya di malam itu, lagi lagi Karina teringat tentang malam panas di mana ia bersama dengan Devano, dan juga Devano yang dengan santainya memberikan sentuhan-sentuhan di tubuhnya dan Karina membalas itu semua, bukan hanya sekedar membalas ciuman yang diberikan oleh Devano tetapi ia juga merasakan nikmat dan juga nyaman disentuh oleh laki-laki yang saat ini sudah sah menjadi suaminya.
"Lo malah senyum-senyum sendiri, banyangin kejadian malam itu kan? bagaimana sih rasanya.. Aku kok penasaran, apa kalau sama lo Pak Devano juga dingin dan juga seperti itu, ah tidak tidak sepertinya memang sifatnya yang dingin dan cuek itu tidak berlaku kalau dia sama lo, pastinya Pak Devano itu begitu romantis dan juga ciumannya sangat memabukkan, hingga lo terlena dan juga terpesona. Lo bayangin saja, seandainya malam itu Pak Devano tidak tidur, pastinya lo saat ini sudah merasakan surga dunia yang kata orang-orang itu nikmatnya tiada tara, apa lagi melihat Pak Devano yang begitu memukau dan tentu saja gue yakin jika Pak Devano pastinya nanti akan perkasa di atas ranjang."
"Aw ..sakit dodol!!"
Tiba-tiba bibir Sintia langsung saja dicubit oleh Karina dan tentunya mendengar ucapan yang tidak bermutu dari sahabat nya itu, membuat Karina gemas seketika padahal mati-matian Karina tidak mengingat kejadian malam itu apalagi mengingat bagaimana tubuh Devano yang memang benar apa dikatakan oleh Sintia, bener-bener terpukau dan membuatnya terlena terlebih lagi otot-ototnya yang begitu sempurna yang membuat Devano adalah idaman dari para perempuan-perempuan di muka bumi ini.
"Habisnya mulut lo tidak terfilter, gue sendiri saja ogah membayangkan dia, malahan lo yang bukan siapa-siapanya berpikir yang macam-macam, awas otak dan mata lo, nanti terkontaminasi ... sudah bagus-bagus otak dan mata lo itu suci jangan lo kotori dengan hal-hal yang belum boleh lo lakuin!!"
__ADS_1
"Ckk... Cemburu bilang Bos!! bilang saja kalau udah ada rasa sama Pak Devano dan kalau gue jadi lo, gue akan membuka hati dengan Pak Devano."
Sembari menoleh ke arah Karina, pikiran Sintia terus saja mengompor ngompori Karina, bukan bermaksud jika Karina harus melupakan secepatnya Rama, tetapi inilah kenyataannya jika Karina saat ini sudah menikah dan pastinya tidak baik jika terus-menerus mengingat sang mantan meskipun Sintia tahu jika Karina masih sangat mencintai Rama, begitupun juga sebaliknya.
Keduanya saat ini sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing, yang mana Karina malahan memikirkan tentang hubungannya dengan Devano apakah memang benar pernikahannya ini harus dipertahankan, sementara ia belum ada rasa dengan Devano.. salah ralat..bukan belum ada rasa tetapi rasa yang diberikan untuk Devano itu masih secuil, bisa jadi pikiran dan hatinya itu tidak sinkron, membuat Karina ragu-ragu apakah akan mempertahankan hubungannya dengan Devano atau memilih untuk meminta berpisah saja.
Dan juga pastinya Karina saat ini membayangkan wajah tampan Devano, memang tidak ia pungkiri jika Devano benar-benar tampan, bahkan pesonanya tidak terkalahkan lagi terlebih lagi Devano yang dingin dan cuek membuat semua perempuan berlomba-lomba ingin mendapatkan hatinya karena perempuan sekarang malahan menginginkan laki-laki yang dingin dan cuek dengan kata lain jika menemukan laki-laki seperti itu maka mereka tidak akan pernah melepaskan, karena mereka mempunyai prinsip laki-laki yang dingin dan cowok itu juga sudah jatuh cinta maka dia akan bucin dan sangat menyayangi dan mencintai pasangannya.
"Dengerin gue ya, Rin..lo jika melepaskan Pak Devano, lo rugi besar, bukan hanya karena Pak Devano kaya raya, kalau masalah itu gue yakin tanpa lo bersama dengan Pak Devano juga tidak kekurangan apapun juga, tetapi mempunyai suami seperti Pak Devano yang merupakan idaman bagi semua perempuan itu adalah anugerah, terlebih lagi pak Devano yang mencintai lo duluan, tinggal ikuti saja alurnya bagaimana caranya pak Devano mencintai Lo, sementara lo memang harus benar-benar lupain Rama, bukan melupakan orang nya tetapi melupakan perasaan yang ada di dalam hati, gue yakin kalau lo sendiri pasti bisa dan tentu saja meskipun itu sulit tetapi lo harus berusaha karena gue melihat ketulusan dari diri Pak Devano yang mana dia benar-benar serius sama lo dan tidak akan meninggalkan Lo."
__ADS_1
"Gue bingung dan gue juga belum yakin, apakah gue akan bahagia dengan dia atau tidak, sementara gue dan dia belum saling mengenal dan pastinya pernikahan ini hanya karena terpaksa saja dan gue juga tahu jika dia terpaksa untuk menikahi gue karena dia yang sudah menyeret gue untuk masuk ke dalam kamar itu."
Lagi lagi Sintia dibuat melongo dengan ucapan Karina, mengapa sahabat nya itu tidak sadar juga dengan perasaan Devano saat ini, terlebih lagi Sintia melihat dari tatapan mata Devano yang terus-menerus menatap ke arah Karina dan Sintia tahu jika tatapan itu adalah tatapan penuh cinta.