
Kedua gadis cantik itu masih berada di kantin, yang entah sampai kapan mereka berdua di sana padahal sedari tadi Sintia sudah merengek untuk memaksa Karina masuk ke dalam kelas tentu saja bukan semata-mata karena Sintia yang ingin melihat wajah tampan Devano tetapi sedari tadi guru tampan dan killernya itu mengirimkan pesan kepadanya dan meminta supaya cepat balik ke kelas.
"Ayolah Rin, dari tadi suami lo kirim pesan ke gue dan meminta kita untuk balik ke kelas."
Ujar Sintia dengan sedikit memohon kepada Karina yang nyatanya sahabatnya itu jika moodnya tidak baik susah sekali dibujuk.
"Ya sudah lo sana yang balik, gue mau ke sini dan bilang sama dia jangan sekali mengatur hidup gue, gue nggak mau!"
Astaga..
Sintia menepuk jidatnya sendiri kalau bukan sahabatnya, sudah ia tinggalin sedari tadi yang mana Sintia sendiri pusing karena sedari tadi Pak Devano terus saja mengirimkan pesan kepadanya dan tidak ada satupun yang dibalas oleh Sintia.
Bukannya tidak sopan tetapi Sintia juga bingung harus mengatakan apa kepada Pak Devano sementara ia melihat sahabatnya yang masih cuek dan sepertinya memang menaruh dendam kepada guru tampan itu.
"Suami lo nelpon?"
Ujar Sintia yang saat ini kaget melihat ponselnya, di mana nampak nama dari Devano ada di layar kaca itu tentu saja Sintia kebingungan, haruskah ia mengangkat telepon dari Devano atau membiarkannya saja.
"Gue nggak perduli!"
"Nggak perduli bagaimana? berisik Rin! lo yang angkatlah, gue males .. gue nggak mau nanti pak Devano marah-marah sama gue karena gagal bujukin lo untuk masuk ke kelas!"
"Biarin aja! Mau dia marah-marah aja sekalian gue juga nggak peduli lagi!".
Satu panggilan tidak terjawab yang membuat ponsel Sintia berdering lagi, tidak ingin membuat heboh seisi kantin meskipun tidak ada teman-temannya di sana, akhirnya mau tidak mau Sintia mengangkat panggilan telepon dari Devano.
__ADS_1
"Halo Pak, ini Karina tidak mau masuk ke kelas katanya masih lapar dan ingin makan."
Tanpa menunggu lama Sintia mengatakan itu, ia sudah tahu pastinya gurunya akan marah-marah padanya tetapi sebelum Devano marah tentunya Sintia ingin berlindung dulu, ia tidak ingin kesannya di hadapan Devano itu menjadi jelek karena meskipun Devano itu suami dari sahabatnya sendiri tetapi Sintia masih terpesona dengan laki-laki itu, ia hanya terpesona saja tidak akan pernah memiliki Devano karena ia tahu jika Karina sudah menjadi istri dari Devano.
"Berikan ponsel ini kepada Karina!"
Ujar Devano di balik sambungan telepon dengan nada yang begitu keras membuat Sintia ketakutan dan langsung saja memberikan ponselnya kepada Karina.
Ya bukan tanpa alasan Devano mengirimkan pesan kepada Sintia dan berakhir menelepon Sintia, karena ia sedari tadi mengirimkan pesan kepada Karina tetapi hanya centang satu dan ditelepon nyatanya yang bersuara hanya operator saja dan itu tandanya jika ponsel Karina berarti mati dan juga Karina sepertinya tidak mau berhubungan lagi dengan Devano.
Dan jangan ditanyakan lagi dari mana Devano menyimpan nomor ponsel Sintia, karena ia pasti akan menemukan siapa saja yang ingin dicarinya dengan mudah.
"5 menit, kalau kamu tidak masuk kelas aku akan umumkan ke sekolah ini jika kamu adalah istriku!"
Tidak basa-basi, Devano langsung saja berbicara seperti itu yang mana membuat Karina melongo dan ingin mengumpat ke arah suaminya tetapi sayang sekali belum juga Karina membuka mulutnya tiba-tiba ponselnya sudah dimatikan oleh Devano dengan sepihak.
Brengseekk!!
"Cabut Sin!!"
Tentu saja Karina tidak mau ada masalah di sekolahan ini, ia baru saja putus dari Rama tidak ingin membuat semua sekolah ini heboh dengan pemberitaan jika dirinya sudah resmi menikah dengan Devano, guru tampan yang menjadi idola di sekolah ini.
Karina bergegas untuk meninggalkan kantin dan menyeret Sintia karena ia tahu jika suaminya itu tidak main-main dengan ancamannya yang pastinya kalau lebih dari 5 menit ia tidak sampai ke kelas maka akan terjadi bencana di sini.
Sintia mengulum senyum, ia sendiri mendengar apa yang diucapkan oleh Devano yang membuat Sintia yakin jika nanti lama-kelamaan Karina akan luluh dengan Devano, karena ia melihat bagaimana Devano yang memandang ke arah Karina yang begitu lembut dan juga sayang banget.
__ADS_1
"Pelan-pelan Karin, lagipula ngapain lo narik gue seperti ini, yang diajak Pak Devano kan Lo, bukan gue."
"Sama saja kalau kita nggak sampai ke kelas dalam waktu 5 menit, hancur kehidupan gue. Sudah, lo ikut saja, lagi pula kenapa lo juga nyusulin gue ke sini dan pastinya lo juga harus balik sama gue."
Dengan cepat kedua gadis itu berlari untuk menuju ke kelasnya hingga akhirnya tidak ada 5 menit keduanya sudah sampai di depan kelas dengan Devano yang menyembunyikan senyumannya, ia percaya jika Karina ketakutan mendapatkan ancaman.
Tanpa basa-basi Karina langsung saja duduk di kursinya begitu juga dengan Sintia yang mana pandangan mata Devano tidak pernah teralihkan sedikitpun dari wajah Karina, ia tahu jika istrinya itu sempat menangis sedikit ketika ada di kantin tetapi Karina pintar, gadis cantik itu tidak akan menampakkan kesedihannya di depan orang lain.
Masiu dengan menatap istrinya yang saat ini menundukkan kepalanya dan membuat Devano mendekati Karina.
Laki-laki itu tentu saja beralasan juga akan mengecek pekerjaan Karina yang mana sama sekali belum disentuh.
"Rupanya istriku suka sekali diancam. Oke kalau begitu aku akan menggunakan ancaman supaya kamu menjadi istri yang penurut."
Bisik Devano di telinga Karina yang membuat Karina memalingkan wajah nya ke samping karena jarak mereka begitu dekat. Yang mana Devano sedikit menghirup aroma wangi dari tubuh Karina dan itu membuat Devano candu dan ingin meminta lebih dari itu.
Karina sendiri menjauhkan wajahnya dari Devano ia tidak ingin jika semua orang tahu tentang statusnya dengan guru di sekolahan ini apalagi saat ini sedang marah-maraknya berita tentang putusnya hubungan percintaan nya dengan Rama pastinya jika semua orang tahu jika saat ini ia sudah menikah dengan Devano semua orang pasti akan membullynya.
"Jangan berharap lebih dariku karena itu tidak akan mungkin!"
Balas Karina dengan menatap sengit ke arah Devano sepertinya memang hati Karina belum luluh juga meskipun ia sudah putus dari Rama dan meskipun Devano memberikan perhatian penuh kepada dirinya, tetapi tetap saja Karina belum benar-benar bisa membuka hatinya untuk Devano walaupun ada perasaan untuk Devano tetapi entahlah semakin ke sini Karina malah semakin memandang aneh ke arah Devano dan membenci laki-laki itu.
"Jangan terlalu benci, nanti benci bisa menjadi cinta. Kamu tahu kan jika aku bisa melakukan sesuatu atas diri kamu? kita sudah sah sebagai suami istri."
Devano segera menjauhkan tubuhnya setelah mengatakan itu, ia tahu jika Karina pasti mengerti dan paham benar apa yang diucapkannya.
__ADS_1