
Karina sendiri mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi ia tidak mau disusul oleh Devano meskipun pada akhirnya nanti ia bertemu dengan suaminya itu.
Karina juga sengaja mematikan ponselnya, ia tidak mau Rama ataupun Devano atau Dirga menghubunginya karena gadis itu ingin menenangkan pikirannya sejenak.
Bukan karena untuk menghindari masalah tetapi ia sedikit berpikir apa yang ia lakukan ini benar atau salah, di mana hatinya sedikit sudah terbagi untuk laki-laki lain, lalu bagaimana hubungannya dengan Rama nantinya yang Rama saat ini masih menempati posisi di dalam hatinya tetapi tidak dipungkiri jika perasaan itu muncul juga untuk Devano.
Bingung cara menjelaskannya, ia tidak mungkin menyakiti Rama dengan pengakuan kalau dirinya sudah menikah dengan Devano tetapi apakah memang benar jika ia harus menyudahi pernikahannya dan membuat kedua orang tuanya kecewa dengan apa yang dilakukannya?
Rama memang baik tetapi mungkin takdir tidak bisa mempertemukan Rama dengan Karina di pelaminan yang membuat sesuatu tidak akan mungkin terjadi karena pernikahan itu bukanlah sesuatu yang harus dipermainkan dan Karina tau itu tetapi untuk bersama dengan Devano, sepertinya Karina harus berpikir ulang bagaimana mungkin ia akan hidup selamanya dengan laki-laki yang usianya lebih tua darinya dan juga devauno yang saat ini menyandang status sebagai guru matematika di sekolahnya, bagaimana nanti jika teman-temannya tahu jika Karina menikah dengan gurunya sendiri?
Hingga akhirnya lama berpikir, Karina sudah sampai di kediaman Hardiansyah, gadis cantik itu segera keluar dari mobil dan menuju ke kamarnya tanpa makan siang terlebih dahulu.
Dan beruntung sekali hanya ada simbok asisten rumah tangga yang di sana dengan kedua mertuanya yang saat ini sedang berada di tempat kerjanya masing-masing.
TingĀ
Karina yang merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya itu, seketika langsung saja membuka ponselnya, rasanya ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikirannya dan entah apa itu.
[Tadi siang Rama dan Dirga berantem dan lo tahu apa yang dilakukan Rama sama Dirga?]
Suasana hatinya masih tidak stabil tetapi tiba-tiba Karina mendapatkan pesan dari Sintia, jika pacar dan juga teman kecilnya tadi siang melakukan aksi jotos menjotos dan tentu saja Karina kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Sintia.
[Apa Sin? sumpah mereka berdua kenapa sih, kenapa nggak bisa akur, satu pacar gue yang satu adalah teman kecil gue, sama-sama gue sayangi meskipun porsinya berbeda]
__ADS_1
Karina mengirimkan pesan itu kepada Sintia sebagai bentuk perwujudan dari perasaan hatinya dan mencurahkan sedikit kepada Sintia, meskipun itu belum seberapa dari rasa yang dimiliki oleh Karina saat ini.
[Rama mukul wajah Dirga dengan 2 pukulan tetapi sayang sekali gue nggak sempat video mereka tetapi gue berkata jujur Rin, gue nggak bohong]
Shittt
Seketika Karina bangun dari tidurnya, gadis cantik itu mendadak menggelengkan kepalanya dengan apa yang baru saja diceritakan oleh Sintia, bukan hanya Sintia yang mengirimkan pesan kepada dirinya tetapi setelah pesan itu terkirim, Sintia juga menelpon Karina dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak mungkin Sintia berkata bohong karena ia tahu Sintia tidak ada untungnya jika mengadu domba antara Rama dengan Dirga, hingga membuat Karina refleks mengambil kunci mobil dan keluar dari kamar, ia harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Karena tidak perduli dengan dirinya saat ia masih memakai seragam bahkan Devano pun belum pulang ke rumah, karena juga tidak mengatakan apapun kepada asisten rumah tangga yang saat ini masih berkutat di dapur dan menyiapkan makanan untuk makan siang.
Pikirannya kacau apa yang dipikirkan terjadi padahal yang jadi permasalahannya di sini bukanlah Dirga melainkan Devano tetapi kenapa kedua laki-laki itu malahan tidak bisa dikendalikan.
Terlebih lagi Rama, apa ucapan Karina tadi pagi itu tidak bisa membuat Rama mengingat tentang segala sesuatunya jika dirinya memang tidak ingin kedua laki-laki berantem tetapi mengapa Rama malah tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Permisi Pak Dirga nya ada?"
Pak satpam itu melihat ke arah Karina sepertinya selain terpesona dengan kecantikan Karina, beliau juga menelisik siapa yang datang sampai mencari Tuan mudanya, di mana keluarga dari Dirga ini baru tinggal beberapa hari di Jakarta.
Hanya berjaga-jaga saja bukan tidak percaya dengan setiap orang yang akan berkunjung di rumah ini.
"Bisa Bapak panggilkan Dirga, bilang saja kalau saya Karina."
__ADS_1
Sepertinya Karina paham dengan tatapan mata Pak satpam itu meskipun karena tidak suka tetapi ia tahu bagaimana Pak satpam itu berjaga di rumah Dirga saat ini.
"Sebentar ya non."
Karina mengaggukkan kepalanya, ia dengan setia menunggu satpam itu membukakan pintu gerbangnya mungkin memang orang-orang di rumah ini tidak mengenal Karina karena pekerja di rumah Dirga il semuanya benar-benar baru tidak seperti beberapa tahun yang lalu yang pastinya kenal akrab dengan Karina.
Sementara Dirga, di dalam kamarnya.. ia baru saja pulang dan membersihkan lukanya sedikit dan dikejutkan dengan ketukan pintu dari asisten rumah tangganya dan mengabarkan jika ada Karina ingin bertemu di luar.
Jelas saja Dirga tersenyum penuh kemenangan, ini yang ia harapkan hingga pada akhirnya Dirga tidak meneruskan apa yang dilakukan saat ini dan menemui karena di bawah dengan pakaian Dirga juga masih sama masih menggunakan seragam tanpa menggantinya terlebih dahulu.
"Hai kenapa kamu ada di sini?"
Dirga yang tiba-tiba kaget dengan kedatangan Karina bahkan Karina sama sekali tidak memberikan kabar jika ada di sini.
Bukannya menjawab, Karina malah asik memandang wajah Dirga, bukan terpesona dengan wajah Dirga yang memang sangat tampan tetapi melihat luka yang ada di sudut bibir Dirga dan itu menandakan jika memang itu karena pukulan dari pacarnya.
"Sakit, aku obatin ya lukanya?"
Karina memegang ujung bibir Dirga dan juga pipinya kemudian mengusapnya sebentar, rasanya tidak tega melihat teman kecilnya itu seperti ini di mana semuanya memang bukan berasal dari Dirga tetapi entah mengapa Rama tidak bisa mengendalikan emosinya dan memberikan pukulan di wajah Dirga.
"Tidak perlu ini tidak apa-apa."
"Tidak apa-apanya bagaimana? jelas saja lebam seperti ini dan itu gara-gara aku."
__ADS_1
Dengan cepat Karina menarik tangan Dirga untuk masuk ke dalam rumah padahal tuan rumahnya sendiri belum mengizinkan untuk Karina masuk tetapi karena langsung saja ke rumah dengan tangannya yang sudah berada di genggam tangan Dirga yang membuat Dirga, laki-laki tersenyum ke penuh kemenangan.
Tidak apa-apa kebeneran rasa sakit di wajahku kalau mendapatkan perlakuan manis seperti ini dari Karin..