
Devano terbangun, padahal ini masih pagi sekali dan belum waktunya untuk dirinya bangun, tetapi Devano dikagetkan dengan suara dering ponselnya dan ia bergegas untuk mengambil ponselnya itu karena tidak ingin mengganggu tidur Karina.
Bukan hanya tidak ingin mengganggu tidur Karina tetapi Devano takut jika nanti Karina bangun dan marah-marah padanya padahal semalam adalah kesempatan emas buat Devano untuk bisa memeluk istri cantik yang nakal itu, gimana Devano tau jika nanti Karina bangun pastinya Karina tidak akan pernah menerima ini, karena Devano sadar karina masih marah padanya bahkan membencinya.
"Bobby...."
Devano mengeryitkan alisnya, kenapa pagi-pagi seperti ini Bobby sudah menelponnya, mengganggu tidurnya saja dan mengganggu aktivitas Devano supaya bisa memeluk erat Karina lebih lama lagi.
Tetapi Devano juga tidak akan membiarkan ponselnya berdering, ia segera mengangkat panggilan telepon yang tentunya itu dari asisten pribadinya di kantor.
Devano bergeser, ia tidak mengangkat telepon di atas ranjang takut juga istrinya nanti terganggu. Devano lebih memilih untuk berjalan menuju ke balkon, di sana ia bebas leluasa untuk menerima panggilan dari Bobi yang pastinya ada sesuatu yang penting hingga asisten pribadinya itu menghubunginya di waktu yang tidak tepat.
"Oke aku segera ke sana tetapi aku tidak akan lama-lama di sana karena aku ada jam mengajar pagi ini."
Rupanya ada masalah penting di perusahaan yang membuat Devano mau tidak mau harus pergi ke perusahaan, namun ia juga tidak bisa lama-lama di sana karena ada jadwal mengajar pagi ini dan tentu saja sesuai dengan kesepakatan dengan kedua orang tua dan kakeknya Devano lebih memilih untuk memprioritaskan sekolah daripada perusahaan di mana memang perusahaan bisa dihandel oleh Papa dan juga Bobby.
Setelah mematikan sambungan ponselnya, Devano bergegas masuk kembali ke dalam kamar, ia cepat-cepat untuk menuju ke kamar mandi tentunya untuk mandi, dan sebelum masuk ke dalam kamar mandi, ia sedikit melirik Karina, istrinya itu di mana Karina tidak terganggu sama sekali dan masih terlelap dalam tidurnya.
Beberapa menit kemudian, Devano yang sudah segar keluar dari dalam kamar mandi dan juga kebiasaan bagi Devano hanya melilitkan handuk saja, ia sama sekali tidak malu, toh yang ada di dalam kamarnya itu adalah istrinya sendiri, bukan orang lain.
__ADS_1
Devano mengambil pakaiannya, di mana ia segera memakai pakaiannya karena sudah tidak mungkin lagi untuk berlama-lama di dalam kamar. TetapiĀ sebelum keluar dari kamar, Devano mendekati istrinya dulu melihat alarm yang dipasang oleh Karina, apakah semalam Karina lupa untuk menyetel alarmnya atau sudah, karena ia tahu jika Karina itu bangunnya tergantung dengan alarm.
Cup
"Aku pergi dulu ya istriku sayank dan aku akan membuat kamu jatuh cinta, aku yakin itu..."
Dengan lembut Devano mencium kening Karina, ia tahu juga apa yang diucapkan saat ini tidak terdengar oleh Karina namun ia percaya suatu saat cintanya akan terbalaskan.
Devano keluar dari kamar, ia juga tidak sempat untuk sarapan karena memang waktunya mepet sekali namun dibalik itu semua Devano senyum-senyum sendiri, sepertinya ia memang benar-benar gila, gila karena jatuh cinta dengan istrinya sendiri, jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.
"Memang aku sudah gila gila karena mencintai Karina!!"
****
Tiga puluh menit kemudian, Karina membuka matanya padahal alarm itu belum berbunyi, namun sepertinya ada sesuatu yang mengusik tidurnya Karina, bahkan antara mimpi dan nyata jika ada seseorang yang mencium keningnya dengan sangat lembut dan membisikkan kata-kata cinta untuknya.
"Siapa laki-laki itu wajahnya tidak asing sekali?"
Karina melihat jam yang ada di samping tempat tidurnya masih menunjukkan jam 05.00 pagi dan tentu saja ia masih bermalas-malasan berada di atas ranjang sembari memikirkan tentang siapa laki-laki yang ada di dalam mimpinya tadi yang mencium keningnya dan mengucapkan kata-kata yang mesra untuk dirinya.
__ADS_1
"Tidak mungkin!!"
Karina mengedarkan pandangan matanya ke segala arah, tentunya pagi ini ia tidak menemukan sosok suaminya di dalam kamar ini dan sejenak Karina teringat tentang apa yang barusan dialaminya, sekilas bayangan bayangan wajah suaminya tampak jelas ada di dalam pikiran Karina di mana ia bisa mengingat siapa laki-laki yang barusan mencium kening dan juga mengucapkan kata cinta untuknya.
Entahlah, belakangan ini bahkan dirinya tidak berpikir tentang Rama tetapi yang ada di dalam pikirannya itu adalah sosok Devano, Devano suaminya yang membuat Karina menjadi seperti ini. Apakah ini adalah tanda-tanda jika Karina sudah mulai mencintai Devano atau memang ia benar-benar harus melepaskan Rama, laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya hampir 2 tahun ini.
Pusing memikirkan tentang nasib percintaannya, Karina bergegas ke kamar mandi dan ia mempunyai ide jika hari ini tidak akan masuk ke sekolah dan menghubungi Rama untuk menjelaskan segala sesuatunya tentang apa yang sudah terjadi.
"Terserah mau Om Devano marah atau tidak yang jelas aku hari ini tidak akan ke sekolah, aku akan bertemu dengan Rama dan menjelaskan semuanya dan aku harap Rama akan mengerti dengan semuanya ini, aku juga tidak peduli jika nanti Om Devano marah-marah!!"
Karina juga buru-buru keluar dari kamar mandi ia tidak menyangka jika Devano lebih dulu pergi dari rumah ini, yang dipikiran Karina kalau Devano semalam tidak tidur di kamar ini melainkan tidur di kamar lain.
Hingga akhirnya beberapa menit kemudian, Karina yang sudah siap merasa aneh kenapa Devano sudah jam segini tidak masuk ke dalam kamar, bukannya ia nanti mengajar di kelasnya jam 07.00 pagi? namun sejenak kemudian Karina mengedarkan pandangan matanya meneliti lebih lanjut di mana kunci mobil dan juga tas yang biasanya Devano pakai untuk mengajar, ternyata tidak ada dan Karina tersenyum penuh kemenangan karena ia yakin kalau suaminya sudah berangkat tadi pagi bahkan mungkin juga Devano tidak berangkat ke sekolah tetapi ke perusahaan.
Karina dengan cepat menghubungi Rama, ia menelpon kekasihnya dan meminta untuk bertemu pagi ini, tidak ada alasan lagi dan tidak ada waktu untuk menjelaskan selain hari ini, karena Karina yakin jika Rama terus menerus akan membuat ulah jika nantinya Rama dan juga dirinya tidak akan berpisah.
"Ya sayank tunggu di tempat biasa atau mau aku jemput?"
Ucap Rama dibalik sambungan teleponnya, sama seperti Karina, Rama juga semalam tidak bisa tidur memikirkan nasib hubungannya dengan Karina yang mana Rama memang benar-benar serius dengan Karina meskipun belum ada niatan untuk menikahi Karina dalam waktu dekat ini tetapi cintanya kepada Karina itu tulus dan tidak hanya cinta monyet saja.
__ADS_1
"Tidak perlu Ram, aku naik taksi saja.. tunggu aku di sana."
Karina juga tidak bodoh, ia tidak mungkin meminta Rama untuk menjemputnya di sini meskipun statusnya saat ini diketahui oleh Rama sebagai istri dari Devano, namun rasanya tidak etis sekali karena itu akan menyakiti hati Rama dan bagaimana nanti dengan Pak satpam yang ada di luar sana yang pastinya akan mengadu kepada Devano.