
Ting
Karina tidak menjawab pertanyaan dari Sintia, karena fokusnya saat ini ke arah ponselnya yang tiba tiba berdering dan Karina tahu ada pesan masuk di ponselnya saat ini.
Perempuan itu bergegas untuk membuka pesan masuk di mana ia tahu siapa pengirim dari pesan itu dan Karina langsung saja melototkan matanya manakala ia melihat pesan itu pesan yang datangnya dari Devano.
[Ke ruangan Mas sekarang, jangan ada penolakan, apalagi saja jika sampai 5 menit kamu tidak datang ke sini siap-siap saja semua orang di sekolah ini tahu jika Kamu adalah istriku]
Tentu saja ancaman dari Devano membuat Karina segera beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Sintia yang masih bingung dengan sikap Karina yang luar biasa ini tentunya Sintia juga menggelengkan kepalanya, sembari mengejar Karina mana tahu memang sahabatnya itu ada masalah atau buru buru ke mana karena ada sesuatu.
"Karin tunggu, lo mau ke mana sih? sepertinya buru-buru sekali dan pertanyaanku dari tadi juga belum dijawab tetapi lo malah main kabur aja."
Jelas saja Sintia khawatir dengan kelakuan Karina saat ini yang tiba tiba jadi pendiam dan sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan, bukan karena Sintia marah karena Karina meninggalkannya tanpa penjelasan ataupun tanpa mengatakan sesuatu padanya, tetapi Sintia khawatir dengan Karina.
"Nanti gue ceritain, gue mau ke ruang Pak Devano. Jika dalam waktu 5 menit gue gak ke sana, maka semuanya akan berantakan, gue pergi dulu."
Tentu saja Karina bergegas untuk ke ruangan Devano ia tidak mau jika suaminya itu akan membocorkan informasi tentang hubungannya dengan Devano, Karina tahu jika Devano itu bukan hanya sekedar mengancam tetapi akan mengatakan yang sebenarnya.
"Sukses Karin!!"
__ADS_1
Sintia tertawa sembari meneriaki Karina, ia seperti nya lega karena Karina bergegas keluar dari kelas itu untuk menemui Devano yang tak lain dan tak bukan adalah suami Karina sendiri, tentu saja tadi Sintia berpikir yang tidak tidak, siapa tahu terjadi sesuatu dengan Karina hingga membuat raut wajah Karina berubah jadi tidak mengenakkan.
Brakk
Jelas saja Karina harus buru-buru untuk masuk ke ruangan Devano di mana ruangan Devano itu memang tersendiri, tidak bersama dengan ruangan-ruangan guru lainnya, ini mempermudah Karina jika ingin mengumpat atau memaki-maki suaminya.
Karina jelas langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena ia yakin tidak ada orang lain di ruangan suaminya selain dirinya.
"Astaga sayank kamu mengagetkan Mas saja, kenapa nggak ketuk pintu dulu, tahu kan ini di sekolah bukan di rumah?"
Jelas saja sedikit drama, meskipun Karina masuk tanpa mengetuk pintu tetapi Devano juga tidak masalah namun ia ingin sedikit bermain-main dengan istri nakalnya ini.
"Ckk... Sudah tau di sekolah tapi mengapa kamu malah ngancam-ngancem aku, tidak tahu saja jika di sekolah kamu ada guruku."
Devano yang semakin gemas dengan istrinya langsung saja berdiri dan menghampiri Karina yang masih berdiri di depan pintu, tentu saja pintu ruangan saat ini sudah tertutup rapat dan tidak akan ada yang berani masuk ke dalam ruangan Devano tanpa diperintahkan oleh laki-laki itu.
Dan semua orang tidak berani dengan Devano termasuk guru ataupun kepala sekolah yang di sini karena Devano adalah cucu dari pemilik sekolah ini dan pastinya nanti sekolahan ini akan menjadi milik dari Devano oleh karena itu Devano mempunyai ruangan khusus yang tidak sama dengan guru-guru yang lainnya meskipun identitas Devano itu dirahasiakan di sini tetapi pastinya jika orang pintar pastinya tahu dan juga terjadi keanehan mengapa Devano ruangannya tersendiri dari guru-guru yang lainnya.
Dan dengan sikap Devano yang dingin serta killer itu membuat murid-murid di sana tidak ada yang berani untuk masuk ke dalam kecuali itu diperintahkan oleh Devano sendiri bahkan mereka jika diperintah oleh Devano untuk mengumpulkan buku atau apa saja keruangan Devano, selalu ketakutan..dan tak jarang bagi mereka menghadapi Devano empat mata itu lebih menyeramkan daripada melihat Devano di depan kelas dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Oke jika di sekolah kamu adalah muridku dan aku adalah guru kamu tetapi jika di rumah kita sebagai suami istri dan pastinya kamu tahu kan sayank, apa tugas sebagai seorang istri itu?"
Devano berjalan pelan untuk menyakiti Karina, laki-laki itu sengaja tersenyum dan perlahan-lahan membuka dua kancing kemeja yang dipakai oleh Devano saat ini.
Selain gerah memang Devano ingin sedikit menggoda istrinya siapa tahu jika istrinya itu mau bermain-main dengan dirinya siang ini meskipun di sekolah tetapi tidak masalah ruangan Devano itu kedap suara dan tidak ada yang berani masuk ke dalam ruangan Devano apalagi mengusik laki-laki itu.
"Stop!! Jangan mendekat!"
Jelas saja Karina mendapat tatapan yang menyeramkan dari suami nya, bukan hanya tatapan tajam tetapi benar-benar mata Devano itu mengerikan, terlebih lagi sikapnya yang saat ini sudah membuka dua kancing kemeja Devano yang membuat Karina semakin khawatir dengan apa yang akan terjadi padanya.
"Kenapa sayank, bukannya semalam kita sudah melakukan dan jujur saja aku candu dengan tubuh kamu, ingin rasanya aku mengulanginya lagi di sini, jadi tidak masalah kan...ruangan aku ini kedap suara dan tidak ada yang berani masuk di sini siapapun itu."
Astaga jadi laki-laki ini memerintahkan aku untuk masuk menemuinya ke sini itu untuk melakukan sesuatu yang iya iya, oh tidak.. kalau tahu begitu aku tadi tidak akan ke sini, dan coba saja kalau Devano berani untuk mengatakan yang sejujurnya kepada semuanya pastinya aku akan kabur dan meninggalkan dirinya..
Ya Karina baru sadar jika suaminya itu mempuanyai maksud yang lain, tentunya ia hanya mengatakan itu di dalam hati saja karena Karina sendiri tidak berani untuk melawan Devano, dan ia mempunyai senjata yang akan membuat Devano tidak akan membocorkan rahasianya tetapi Karina sendiri takut jika Devano berbuat yang tidak tidak, karena Karina tau jika laki-laki itu akan berbuat nekat.
Devano semakin mendekati Karina, laki-laki itu bahkan tersenyum ketika wajahnya berada di depan wajah Karina, jelas saja wajah cantik Karina membuat Devano semakin terpesona dan tergila-gila dengan istrinya terlebih lagi ia yang sudah mendapatkan kehangatan dan kepuasan dari Karina membuat Devano menjadi candu, ingin rasanya ia membawa istrinya pulang dan mengurungnya di kamar saja tidak mau jika Karina dilihat oleh laki-laki lain yang nantinya akan terpesona dengan kecantikan Karina.
Devano yang semakin mendekat tentu saja membuat Karina semakin gelisah, perempuan cantik itu memalingkan wajahnya saat Devano mulai mendekatkan bibirnya, alhasil Devano tidak berhasil untuk mencium bibir Karina.
__ADS_1
Sreek...
Tetapi Devano juga tidak kurang akal, laki-laki itu segera menggendong tubuh Karina dan meletakkan tubuh Karina itu di atas sofa yang berukuran panjang dan lebar yang pastinya kali ini ia tidak akan membiarkan Karina lolos begitu saja.