Terjebak Pesona Istri Kecilku

Terjebak Pesona Istri Kecilku
Butuh Waktu


__ADS_3

Hingga akhirnya beberapa jam kemudian bel pelajaran berbunyi dan itu pertanda jika semua murid sudah diperbolehkan oleh pulang tetapi tidak dengan Karina gadis cantik itu masih berdiam diri di kelasnya ia bingung ingin pulang ke mana karena menurut informasi jika kedua orang tuanya hari ini sudah berada di rumah dan pastinya tidak mungkin jika ia pulang ke rumah tanpa Devano.


"Pulang Rin, Lo mau nginep di sini?"


Dari tadi Sintia memperhatikan Karina sepertinya sahabatnya itu memang enggan beranjak dari tempat duduknya, entahlah mungkin permasalahan rumah tangganya yang begitu rumit hingga membuat Karina enggan untuk pulang.


Padahal kalau dipikir-pikir dengan kepala jernih dan juga dewasa, apa yang dilakukan Devano itu memang benar jika memang sebenarnya Karina itu memutuskan Rama dan tidak bersedih seperti ini,.meskipun Sinta tahu jika Karina dan Rama masih sangat mencintai tetapi status pernikahan Karina saat ini yang membuat Karina harus mempertahankan pernikahan dan tidak mempermainkan pernikahan itu.


Tetapi sayang sekali Karina belum bisa berpikir jernih dan dewasa hingga ia menyalahkan Devano atas perbuatan ini padahal malam itu mereka sama-sama terpengaruh oleh minuman, dan andai saja Karina juga tidak mabuk pastinya ia tidak mudah diseret oleh Devano masuk ke dalam kamar hotel.


"Gue pulang ke rumah lo saja ya nginep sana!"


Sepertinya Karina menemukan ide cemerlang, ia tidak mungkin pulang ke rumah kedua orang tuanya apalagi pulang ke rumah mertuanya jadi ia memutuskan untuk menginap di rumah Sintia saja yang mana memang dari dulu ia sudah terbiasa melakukannya.


"No Rin, sorry bukan berarti gue nggak mau nampung lo atau bagaimana tetapi Lo sekarang sudah punya Pak Devano dan tentu saja gue takut jika suami lo nanti marah-marah dan menuduh gue nyembunyian lo."


Ujar Sintia panjang dan lebar, meskipun sebenarnya ia kasihan dengan sahabat nya itu, tetapi untuk menghindari sebuah masalah itu tidak dibenarkan.


"Please Sin..."


Mohon Karina dengan menampilkan wajah yang sendu yang membuat Sintia kasihan dengan sahabat nya itu.


"Atau gini aja, lo telepon Pak Devano dan meminta izin baru kita pulang."

__ADS_1


Karina menggelengkan kepalanya, ia sendiri tidak mau meminta izin kepada Devano, biarkanlah laki-laki itu mencarinya toh juga sepertinya Devano tidak peduli lagi karena semuanya sudah ia lakukan sendiri.


"Ya sudah kalau nggak mau hubungi Pak Devano biar gue aja."


Tidak ada tanggapan dari Karina dan Sintia mengambil alih untuk meminta izin sahabatnya itu kepada Devano bukan berarti Sintia ingin ikut campur dalam permasalahan rumah tangga Karina dengan Devano tetapi ini adalah jalan tengahnya supaya sahabatnya itu bisa berpikir lebih jernih dan mungkin saja dengan bermalam di rumahnya, Sintia bisa menyadarkan Karina jika memang ia harus mempertahankan pernikahan daripada mempertahankan cinta yang mungkin saja masih sulit untuk Karina lepaskan.


"Pak Devano...."


Pucuk dicinta ulam pun tiba, belum juga Sintia menelpon Devano tetapi laki-laki itu sudah lebih dulu masuk ke dalam kelas sehingga membuat Sintia melongo dan memberikan tempat untuk Devano supaya duduk di samping Karina.


Beruntung sekali karena semua teman-teman Karina sudah pergi dari kelas ini dan tentu saja banyak yang sudah meninggalkan sekolah karena keadaan di kelas dan juga di sekitar kelas sudah nampak sepi.


"Pulang Rin, tidak baik berada di sini lagi pula dicari Mami dan sepertinya Mami kangen sama kamu."


"Enggak! aku nggak mau pulang ! aku mau nginep di rumah Sintia saja!"


Devano menggelengkan kepalanya, ia tidak mungkin membiarkan Karina menginap di rumah Sintia, apa nanti yang diucapkan kepada Maminya,.karena tadi sempat Maminya bertanya tanya tentang Karina dan Mami Nina merasa curiga dengan dirinya dan juga Karina.


"Tapi Rin, Kamu harus menuruti apa yang aku ucapkan, tidak baik jika suami istri itu marahan dan tinggal terpisah."


"Terserah bapak, aku nggak mau pulang!"


Sintia yang mendengar perdebatan itu hanya menggelengkan kepalanya, ia sebenarnya tidak mau ikut campur, tetapi demi kewarasan bersama .. Sintia akhirnya mendekat dan memberikan solusi yang terbaik untuk keduanya.

__ADS_1


"Maaf ya Pak, bukan saya ikut campur atau bagaimana tetapi sebaiknya Karina berada di rumah saya dulu, nanti malam Pak Devano bisa menjemputnya. Dan maaf sekali lagi sepertinya Karina memang masih belum bisa menerima ini dan dia butuh ketenangan dan juga butuh hiburan dan Pak Devano tenang saja saya akan menjaga Karina dengan baik dan kalau perlu saya akan menyadarkan Karina kalau dia sudah mempunyai suami yang tampan dan penyayang dan juga perhatian."


Devano diam sejenak, ia memikirkan kata-kata Sintia barusan apakah memang benar istrinya itu saat ini tertekan dan butuh hiburan tentu saja sebenarnya Devano tidak rela jika Karina menjauh darinya, apalagi melihat jika Karina berhubungan lagi dengan Rama yang mana memang hubungannya sudah selesai tetapi keduanya masih sangat saling mencintai.


"Hanya siang ini sampai sore Pak nanti malam Pak Devano bisa jemput Karina di rumah saya."


Ucap Sintia lagi yang sepertinya Devano enggan memberikan izin sahabatnya untuk untuk tinggal sejenak di rumahnya.


Sedangkan Karina hanya melototkan matanya ke arah Sintia mengapa sahabatnya itu bisa-bisanya berucap seperti itu padahal niatnya Karina ingin menginap namun sepertinya Sintia memang enggan menampungnya hingga memberikan solusi kepada Devano untuk nanti malam menjemputnya.


"Oke saya pegang kata-kata kamu dan jangan biarkan istri saya itu bertemu dengan mantan pacarnya dan nanti malam saya akan menjemput Karina."


Kemudian ia mengambil dompet yang ada di saku celananya dan menyerahkan kartu sejuta umat idaman bagi para perempuan itu di tangan Karina.


"Bisa kamu gunakan untuk jajan atau shoping tapi setelah itu kamu kembali padaku!"


Tidak ingin basa-basi lagi Devano meninggalkan istrinya padahal ia masih berharap jika Karina akan pulang bersamanya dan melanjutkan pernikahan ini tanpa ada drama-drama lagi tetapi sepertinya memang benar apa yang diucapkan oleh Sintia jika Karina butuh waktu, Karina butuh hiburan untuk sekedar menenangkan diri dan perasaannya.


Karina hanya menatap kepergian Devano, ia sendiri bingung dengan statusnya kali ini, di satu sisi ia sangat mencintai Rama dan menyayangkan putusnya hubungan dengan Rama tetapi di sisi lain ia sudah terikat dengan Devano yang mana Karina tahu betul arti pernikahan itu di mata hukum dan agama dan tentu saja meskipun Karina bodoh di dalam pelajaran tetapi ia paham arti sebuah ikatan suci itu.


"Kita jalan-jalan ke mall saja dan menghabiskan uang pak Devano, gue sudah lama ingin shopping dan kebetulan sekali suami lo yang royal dan kaya raya itu memberikan kartu unlimited."


Ucap Sintia dengan membantu memasukkan buku-buku pelajaran Karina ke dalam tas tak lupa juga memasukkan kartu unlimited itu ke dompet Karina yang mana saja dari tadi Karina hanya memegangnya.

__ADS_1


__ADS_2