Terjebak Pesona Istri Kecilku

Terjebak Pesona Istri Kecilku
Tidak Bisa!!


__ADS_3

Acara pernikahan sudah selesai dan saatnya Karina dibawa langsung oleh Devano, kali ini Devano meminta untuk Karina tinggal di apartemennya dengan alasan kalau ingin hidup mandiri berdua bersama dengan Karina, tetapi sayang sekali kedua orang tua Devano tidak mengizinkan jika putranya membawa Karina dengan alasan kasihan dengan Karina yang belum terbiasa hidup mandiri dan mereka meminta untuk sementara waktu tinggal di rumah keluarga Hardiansyah dulu, baru nanti setelah beberapa bulan boleh pindah ke apartemen.


Karina tidak mengeluarkan sepatah kata pun, ia hanya menurut saja karena ia juga males untuk berdebat dengan Devano, lebih lagi dengan kedua orang tuanya yang mana malahan senyum-senyum sendiri.


Sebenarnya mereka orang tua gue apa enggak sih, kenapa malah seneng banget ketika gue keluar dari rumah ini...


Sesekali Karina melirik ke arah ponselnya, gimana sedari tadi ia membalas pesan dengan Rama yang mana Karina mengirimkan pesan kepada Rama kalau hari ini tidak masuk sekolah karena sedang menjenguk keluarganya yang ada di luar kota, tentunya tidak mungkin jika Karina beralasan jika dirinya sakit pasti Rama akan datang ke sini untuk menjenguknya.


Devano yang melihat istrinya sedari tadi memegang ponselnya dan berbalas pesan dengan entah siapa, laki-laki itu kemudian mendekati Karina dan langsung saja merampas ponsel Karina. Ia tidak mau acara penting ini membuat Karina lupa karena terlalu sibuk dengan ponselnya.


"Ponsel aku pak, kembalikan!!"


Tentu saja Karina tidak mau jika ponselnya dirampas oleh Devano, ia tahu jika Devano adalah laki-laki yang tidak disukai nya, bahkan juga karina takut jika Devano tidak mengembalikan ponselnya dalam kurun waktu yang tidak bisa ditentukan lagi.


"Jangan harap aku akan mengembalikan ponsel kamu, jika sikap kamu masih seperti itu. Ayo segera masuk ke dalam mobil, Mama dan Papa sudah menunggu kita, tinggal kamu saja yang masih di sini."


Ya sebenarnya Devano tadi sudah berada di luar untuk menunggu Karina tetapi sayang sekali Karina masih berada di dalam rumah, dan tidak keluar-keluar. Devano berpikir jika Karina sedang ada drama tangis-nangisan dengan kedua orang tuanya tetapi tidak, nyatanya perempuan cantik itu malahan menebarkan senyumannya manakala melihat ke arah ponselnya sembari jari-jarinya mengetikkan pesan di ponsel itu Devano, tentu saja tahu dengan siapa Karina berbalas pesan saat ini.


"Awas aja kamu Pak, jika tidak mengembalikan ponsel aku, akan aku buat hidup mu menderita!!"


Dengan menghentak-hentakkan kakinya, Karina keluar dari rumahnya kemudian langsung segera masuk ke dalam mobil di mana memang kedua mertuanya sudah berada di dalam mobil itu dan tanpa menunggu Devano, perempuan cantik itu langsung saja menutup pintu mobil.

__ADS_1


Devano hanya mengelus dadanya, laki-laki itu kembali lagi harus sabar menghadapi istrinya yang masih bocah dan kekanak-kanakan namun Devano mempunyai misi jika ia harus bisa menaklukkan Karina nantinya.


Sepanjang perjalanan, pasangan pengantin baru itu tidak ada pembicaraan sama sekali yang mana Karina masih cemberut dengan Devano karena ponselnya yang tidak kunjung dikembalikan, sementara Devano ia mengulas senyumnya tipis dan sesekali melihat ke arah Karina yang masih manyun.


Hingga akhirnya mereka semua sudah sampai di halaman kediaman Hardiansyah di mana Devano turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Karina, seperti pasangan-pasangan romantis pada umumnya itulah yang akan dilakukan Devano pagi ini.


"Sayank kamu istirahat dulu saja, kamar Devano ada di atas, Mama juga mau istirahat. Nanti kalau makan siang Mama panggil kamu, atau kalau butuh apa-apa kamu segera hubungi bibik , di sini semuanya sudah Mama katakan kepada mereka kalau kamu adalah menantu satu-satunya di keluarga Hardiansyah."


Mama Rosa memang Mama Devano yang sangat lembu dan juga penyayang, bahkan ia senang sekali memiliki menantu yang sangat cantik seperti Karina saat ini.


"Dan jangan lupa buat Devano klepek-klepek sama kamu supaya Devano tidak mencari perempuan lain di luar sana."


"Ayo kita ke atas, Kamu harus melakukan apa yang Mama suruh tadi."


Devano tersenyum penuh kelicikan, laki-laki itu menarik tangan Karina dan membawanya ke atas dan tentu saja ke kamar Devano . Lagi lagi Devano merasa menang ia akan membuat Karina tidak berdaya berada di sini dan juga akan membuat Karina jatuh cinta padanya.


"Ini kamarku lalu kamar bapak di mana?"


Devano membuka pintu kamarnya kemudian mempersilahkan Karina untuk masuk ke dalam kamar Devano. Hingga gadis cantik itu menanyakan tentang kamarnya mengapa hanya ada satu kamar saja di sini dan pastinya karena juga heran mengapa Devano juga ikut-ikutan masuk.


"Bapak-bapak, sudah aku peringatkan. Aku bukan bapak kamu lagi pula kita hanya berdua saja, bisakah kamu memanggil suami kamu ini dengan kata-kata yang mesra?"

__ADS_1


"Kan memang benar bapak adalah guru aku, jadinya aku harus memanggil kamu dengan bapak, tidak salah bukan? lagian mau dipanggil apalagi, memang contohnya seperti itu .. kalau tidak bapak ya Om."


"Tapi sekarang kita tidak berada di sekolahan, karena kita di rumah dan kamu harus memanggil aku dengan sebutan yang baik ketika di rumah tidak panggilan bapak atau Om."


"Terserah aku lah, mulut-mulut aku mau memanggil apa itu juga aku sendiri, ya sudah sekarang tunjukkan di mana kamar aku ... sepertinya ini adalah kamar om."


Males berdebat dengan Devano yang nyatanya nanti Karina juga tidak akan menang hingga ia meminta Devano untuk menunjukkan kamarnya mungkin saja kamarnya berada di sebelah kamar Devano.


Devano mendekati Karina hingga perempuan itu merasa gugup sendiri dan langsung saja memalingkan wajahnya karena wajah Devano benar-benar sudah berada di depannya dan tinggal sedikit lagi bibir Devano bisa menyentuh bibirnya.


"Apa kamu lupa kita baru saja menikah dan berarti kamar ini adalah kamarku dan juga kita tidur bersama di dalam kamar yang sama di atas ranjang yang sama?"


Ucap Devano dengan mendekatkan bibirnya rasanya jantungnya semakin berdetak kencang ketika mendekati Karina dan entahlah ia sendiri belum sempat untuk mengunjungi temannya yang berprofesi sebagai Dokter, sehingga ia belum tahu apa sebenarnya penyakit yang dialaminya.


"Tidak mungkin, aku tidak mau tidur satu ranjang dengan om, tidur di sofa saja."


Tunjuk Karina ke arah sofa yang mana memang di kamar Devano itu terdapat sofa yang ukurannya panjang dan juga lebar dan pas untuk tidur meskipun hanya satu orang saja.


"Tidak bisa, ini adalah kamar aku dan mau tidak mau aku tidur di sofa, kalau kamu tidak suka tidur dengan aku di atas ranjang, kamu saja yang tidur di sofa."


Karina melototkan matanya bisa-bisa Devano mengatakan seperti itu dan tidak mau mengalah, padahal ia adalah perempuan dan Devano adalah laki-laki.

__ADS_1


__ADS_2