
Kembali lagi, tidak ada respon dari Karina yang membuat Sintia gemas dengan sahabatnya itu. Sudah susah-susah mengoceh panjang dan lebar tetapi tidak ada tanggapan sama sekali dari Karina yang membuat Sintia langsung saja menoleh ke arah sahabatnya memeriksa apakah Karina masih membayangkan bagaimana lekukan tubuh Devano, atau malahan...
"Astaga gue seperti emaknya, dia malah tertidur setelah gue berbicara panjang dan lebar, memangnya gue tadi dongengin Lo, Rin!!"
Kesal ... Tentu saja padahal Sintia itu berniat baik untuk menyadarkan Karina supaya sahabat nya itu tidak menyesal nanti ketika memilih berpisah dari Devano, tetapi kenyataannya malahan Karina tidak menanggapi dan malah tertidur pulas.
"Bener-bener ya lo, seperti perutnya kekenyangan dan ini malahan tertidur, mana gue tadi ngoceh-ngocah panjang kali lebar, kalau begini sia-sia juga ceramahan dari gue."
Sintia hanya menggelengkan kepalanya, meskipun ia sudah tahu betul bagaimana sifat dan sikap sahabatnya itu tetapi tetap saja, Sintia merasa kesal karena dirinya yang belum mengantuk dan masih ingin ngobrol-ngobrol dengan Karina, tetapi malahan Karina tidur duluan, apalagi 5 menit yang lalu Devano mengirimkan pesan kepada Sintia yang menanyakan bagaimana kabar dari sahabatnya, tentu saja Sintiamenjawab jika Karina baik-baik saja dan bersama dengannya, tanpa menoleh ke samping jika sahabatnya sudah tertidur.
Sementara di dalam ruang kerja, Devano melihat jam yang melingkar di tangannya, sepertinya ini sudah cukup malam dan sudah cukup Karina untuk menenangkan diri, apalagi ia yang sudah mendapatkan balasan dari Sintia yang mengatakan jika Karina saat ini baik-baik saja dan sedang berada di dalam kamar, bercerita panjang dan lebar, membuat Devano segera merapikan semua berkas berkasnya dan bersiap-siap untuk menjemput istrinya.
Tidak ingin terlalu malam untuk ke rumah Sintia, lagi pula ia takut nanti tidak bisa membawa pula Karina, dan juga nanti jika terlalu malam maka akan mendapatkan ceramah dari Mama nya, apalagi jika sampai ia tidak membawa pulang Karina sudah jelas nanti Mamanya itu akan ngomel-ngomel bahkan mungkin juga Mama nya tidak akan membukakan pintu untuknya, karena tidak pulang bersama dengan istrinya.
Tidak perlu menyapa seseorang di luar ruangan Devano, karena memang sekertaris dan juga asistennya sudah pulang sejak tadi, sementara Devano memang sengaja menyelesaikan pekerjaannya, memang bukan jadwalnya lembur tetapi daripada ia pulang tetapi tidak bersama dengan Karina malahan mamanya akan marah-marah dan daripada seperti itu Devano memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya supaya ia besok lebih santai, terlebih lagi beberapa hari ke depan Devano disibukkan dengan kegiatan mengajar di sekolahan dan pastinya ia akan jarang-jarang untuk masuk ke kantor.
Setelah menyapa satpam yang berada di pintu utama, Devano segera berlari ke arah mobilnya yang ia saat ini segera masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamannya.
__ADS_1
Devano segera melajukan mobilnya, ia juga tidak mampir ke mana-mana dulu memberikan sesuatu untuk Karina karena nanti Devano ingin mengajak istrinya itu ke suatu tempat sesuai dengan keinginan Karina hingga Devano langsung saja menuju ke rumah Sintia yang mana memang ia sudah tahu di mana alamat dari sahabat istrinya itu.
Senyum merekah di bibir Devano, mana kala ia sudah menghentikan mobilnya, karena sudah sampai di depan rumah Sintia dan tentu saja Devano segera turun dari mobil dan menghampiri Pak satpam yang berjaga di sana.
Sedangkan Sintia, gadis cantik itu menggelengkan kepalanya sembari menoleh ke samping yang mana sahabatnya itu masih tertidur pulas tetapi ia sendiri bingung bagaimana caranya membangunkan Karina sementara di bawah sudah ada Devano yang datang untuk menjemput Karina.
Memang Devano tidak tahu jika istrinya tidur karena Sintia juga tidak memberitahunya, yang Devano tahu .. di mana Karina saat ini masih bersenda gurau dengan sahabat nya itu setelah tadi jalan-jalan sebentar.
"Mana tidurnya kayak kebo lagi, dibangunin juga tidak bangun-bangun."
Ujar Sintia kesal dan juga bingung bagaimana caranya membangunkan sahabatnya itu yang nampak tertidur pulas, hingga akhirnya Sintia segera keluar dari kamar dan turun ke bawah, tentunya menemui Devano yang sudah menunggu dirinya.
Yang pastinya Devano mengukir senyumannya, ia sudah tidak sabar untuk menemui istrinya dan teringat dengan ucapan dari ketiga temannya itu untuk segera mengeksekusi Karina, jangan terlambat kalau tidak Karina akan benar-benar lepas darinya.
Devano sendiri sudah memikirkan kalau mungkin malam ini ia akan memperkosa Karina, tentu saja ia akan menanggung semua resikonya, asalkan Karina akan tetap bersama dengan dirinya apapun akan di lakukan.
Membayangkan wajah cantik Karina saja membuat Devano sudah ingin melakukannya, terlebih lagi ketika ia disuguhkan dengan pemandangan yang begitu membuatnya menjadi ingin lagi, nampaknya Devano juga masih membayangkan Karina dengan kejadian beberapa hari yang lalu di mana ia sudah melihat semua tubuh Karina dan juga menikmatinya meskipun itu bukan menikmati sampai sedalam-dalamnya.
__ADS_1
"Loh Karina mana? jangan bilang kalau dia tidak mau pulang sama saya."
Tentu saja Devano bingung mengapa yang turun hanya Sintia saja lalu dimana Karina? Devano sudah berpikir jangan-jangan istrinya itu memang tidak mau pulang ke rumahnya malam ini, kalau itu memang benar.. apa yang harus diucapkan kepada Mama nya jika ia pulang tanpa membawa Karina.
"Karina tidur, Pak."
Jawab Sintia dengan terbata-bata bukan karena ia takut atau bagaimana tetapi melihat wajah tampan dari guru idolanya itu membuat Sintia jadi gagal fokus, gadis cantik itu malahan menatap ke arah Devano hingga membuat Devano menggelengkan kepalanya, bukan karena tidak kuat ditatap Sintia seperti ini, tetapi karena ia sendiri tidak menyangka mengapa istrinya bisa tidur jam segini.
"Sudah lama tidurnya?"
"Sekitar tiga puluh menit yang lalu, tadi sudah saya bangunkan tetapi tidak bangun juga, maklumlah Pak Karina kalau sudah tidur itu seperti kebo jadi susah untuk dibangunin."
Terdengar helaan nafas dari Devano yang mana ia bingung bagaimana caranya membawa istrinya pulang sementara Karina tidak bisa dibangunkan, ingin meminta ijin kepada Sintia supaya dirinya masuk ke dalam kamar Sintia dan mengangkat tubuh Karina, tetapi rasanya masih janggal, terlebih lagi di rumah Sintia sepi ... kedua orang tua Sintia belum pulang.
Tetapi meninggalkan Karina di sini nampaknya juga bukan ide yang bagus, ia bakalan akan ia dimarahin habis-habisan oleh Mama nya yang pulang tanpa membawa Karina.
"Bapak silakan masuk saja ke kamar saya lalu bawa sahabat saya yang menjengkelkan itu."
__ADS_1
Ujar Sintia, sepertinya ia tahu betul bagaimana perasaan dari Devano yang mana Devano ingin meminta izin untuk masuk ke dalam kamarnya tetapi masih takut dan ragu-ragu.