
Yonzie duduk disudut ruangan VVIP sebuah rumah sakit swasta terbesar di kota ini. Ia mengalami depresi berat.
Sementara Ranya sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Wunyie. Mereka akan menikah secara agama karena Yie tak berniat sama sekali menikah Ranya, itu hanya bentuk tanggung jawabnya karena saat ini Ranya sedang mengandung Anaknya.
Selama beberapa Minggu ini Ranya berusaha merayu dan menggoda Yie untuk melakukan penyatuan, namun Yie sudah tak sudi lagi menyentuh tubuh Ranya.
Ranya yang sebenarnya tidak hamil menjadi gusar karena cepat atau lambat kebohongannya akan terungkap.
Tanpa sepengetahuan Ranya, Yie telah merencanakan sesuatu, Yie akan membawa Ranya memeriksakan kehamilannya pada Sahabatnya Mariyah sebelum acara pernikahan Mereka.
Tak terasa sudah 3 bulan berlalu, kondisi Zie belum ada perubahan. Sementara acara pernikahan Yie dan Ranya semakin dekat.
Hari ini Yie berpura-pura mengajak Ranya untuk cek kesehatan, sebagai persyaratan administrasi keduanya jika akan mengurus akta nikah di catatan sipil.
Ranya yang tidak mengetahui rencana Yie merasa aman-aman saja. Awalnya Yie yang di periksa kemudian tiba giliran Ranya, Ranya mulai tak nyaman saat perawat mengoles perut nya dengan cream " kenapa harus di USG? " ucap Ranya menolak, namun Yie bersikap manis dengan mencium puncak kepala Ranya, saat dokter Mariyah menempelkan alat USG ke bagian perut Ranya betapa terkejutnya dokter Mariyah saat melihat ada sebuah gumpalan kecil yang tumbuh di dalam perut Ranya.
" Maaf Nona, apakah selama ini siklus menstruasi Ada teratur? "
__ADS_1
" Mmm... tentu saja iya Dok! " jawab Ranya dengan penuh kepercayaan diri.
" Tapi ada sesuatu yang tumbuh di rahim Anda saat ini ".
" Aku memang sedang hamil, maafkan sayang, Aku terpaksa mengatakannya, " ucap Ranya dengan wajah sumringah.
' Deeeeg, ' jantung Yie seakan berhenti berdetak saat itu.
" Tapi maaf Nona Ranya, ini bukan janin, tapi sebuah kista yang sedang tumbuh dan berkembang di area rahim Anda, "
Tubuh Ranya bagai tersengat aliran listrik ribuan volt, " tidak mungkin Dok! " Ranya menangis sejadi-jadi nya, Yie pun berusaha menenangkannya.
Kedua Orang Tua Ranya sangat terkejut mendengar kabar tentang penyakit yang di derita Putrinya itu. Akhirnya pernikahan Ranya dan Yie untuk sementara di tunda.
Awalnya Ranya menolak pernikahannya di tunda, namun setelah Kedua Orang Tuanya memaksa Ranya untuk berobat ke Jepang, untuk menjalani serangkaian pengobatan dan operasi akhirnya Ranya setuju pernikahannya ditunda.
Sebenar Yie sudah menemukan bukti bahwa Ranya tidak hamil, karena Ranya sejak hanya menunjukkan alat test pack kehamilan saja, tanpa surat keterangn dari Dokter bahwa Ia sedang hamil.
__ADS_1
Ranya pun berangkat ke Jepang bersama Mama Bella, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan ternyata kista nya mengalami perkembangan yang cukup pesat.
Ranya tampak kalut, Ia bahkan seperti Orang depresi. Mama Bella berusaha memberi semangat pada Ranya.
.
.
.
Di tempat lain Mommy Nania dan Daddy Mayasi sedang berjuang demi kesembuhan Zie. Mereka sampai mengontrak Dokter ahlo syaraf dari Belanda demi kesembuhan Zie.
Sementara Mama Puja dan Papa Tamako yang mengetahui calon Menantunya sedang dirawat di Jepang akhirnya mengunjungi calon Menantunya itu. Bersama Yie Mereka menjenguk Ranya yang terbaring lemah di rumah sakit dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Sebelum pulang ke Indonesia, Ranya meminta waktu untuk berbicara empat mata dengan Yie. Saat itu dengan berurai air mata Ranya meminta maaf pada Yie kalau Ia sudah berbohong tentang kehamilannya. Ia tetap meminta pada Yie untuk tetapa menikahinya setelah Ia sembuh dan pulang Infonesia.
Yie tak menjawab, Ia hanya mengusap rambut Ranya, kemudian pamit untuk pulang ke Indonesia. Yie mencium kening Ranya dan berkata " Kamu yang semangat untuk sembuh ya! "
__ADS_1
" Pasti, " jawab Ranya dengan senyum menghiasi wajah nya.