
Happy Reading 😘
***__***
Beberapa menit sebelum mobil meluncur.
"Kania hei bangun kamu kenapa jadi lemah gini sih?" seru Kevin panik.
Aku hanya tidak bertemu dengan nya dua hari kenapa jadi malah sakit.
Tepukan di pipi membuat Kania membuka mata,,
"Kevin.. kamu kenapa bisa ada disini?" ucap nya lesu.
"Aku khawatir dengan mu, apa yang terjadi kenapa bisa sampai demam? Ayo aku harus membawamu ke rumah sakit.!" jawab Kevin mengangkat Kania dari kasur dan membopongnya.
Kania yang lemah dengan pasrah dan diam berada didalam gendongan depan Kevin.
"Sabar ya, kita akan kerumah sakit dan kamu akan segera diperiksa."
"Gak mau!!! Aku gak mau ke rumah sakit!!!" dengan cepat Kania berteriak histeris.
"Kenapa?? badan mu demam kamu harus segera mendapatkan perawatan dari dokter!"
"Gak mau,!!! pokoknya aku gak mau ke rumah sakit, sampai mati pun aku gak mau ke rumah sakit!! Ku mohon jangan bawa aku kesana!" suara Kania yang berteriak berubah lemah dan pelan.
__ADS_1
"Ku mohon jangan bawa aku ke rumah sakit, aku gak mau. Aku gak mau kenangan mama muncul lagi, aku benci rumah sakit. Mama juga ingin sembuh di bawa ke rumah sakit tapi pada akhirnya apa mama tetap pergi meninggalkan aku." suara nya bergetar antara demam dan sedih.
"Oke oke baiklah jangan nangis, aku gak akan membawa mu ke rumah sakit!" jawab Kevin akhirnya.
Kania pun bersandar di dada Kevin dengan tenang.
Tapi aku juga gak mungkin membiarkan dia disini, aku bawa ke apartemen aja deh. disana lebih nyaman.
Akhirnya Kevin membawa Kania ke apartemen nya karena Kania menolak keras dibawa ke rumah sakit.
**
Apartemen Kevin.
Dengan hati-hati Kevin merebahkan tubuh Kania diatas kasur.
"Gak, aku disini ko jagain kamu. Gak akan ninggalin kamu." jawab Kevin lembut.
Waduh baju Kania basah mesti di ganti, aduh masa gue yang gantiin? Yah biarpun dulu gue pernah liat tubuh dia, tapi kan keadaan nya beda, sekarang gue tulus sama dia dan gk mau nyakitin dia lagi. Gimana ya??
"Oiya panggil Cynthia aja lah, dia kan perempuan pasti ngerti. Bisa sekalian bantuin buatin bubur juga, he-he-he gue gak bisa bikin." gumam Kevin.
Dengan cepat mencari nomor kontak sahabat nya dan menghubungi.
"Halooo Cynthia, bisa ke apartemen gue gak sekarang jangan lupa bawa satu setel baju perempuan sama daleman nya juga, terus bawa perlengkapan P3k juga ya."
__ADS_1
"Hah,,, baju perempuan? Di apartemen kamu ada perempuan Vin? siapa lagi, ko malah dibawa pulang sih, biasanya juga kan main di hotel?" tanya suara perempuan di seberang sana heran.
"Udah gak usah banyak tanya kesini bawa yang gue minta dan liat aja sendiri. Cepet ya."
"Iya iya.."
Selesai menelepon Cynthia, Kevin kembali ke kamar masih melihat Kania menggigil dan meracau tak jelas.
Satu jam kemudian, suara bel pintu terdengar Kevin beranjak ke depan membuka pintu.
"Bagus mana buburnya, bajunya, obat nya?"
"Nih udah ku bawa semuanya, mana cewek nya?"
"Ayo, dia ada di kamar." ajak Kevin dan Cynthia mengikuti.
Cynthia melihat seorang perempuan terbaring lemah diatas kasur dengan tubuh menggigil dan meracau.
"Dia siapa Vin? dia sakit?"
"Dia perempuan yang sangat berarti buat gue, gue minta tolong kamu gantiin bajunya, kasih dia makan dan obat ya. Gue mau dia cepet sembut." jawab Kevin.
Perempuan yang berarti buat Kevin?? Sejak kapan Kevin memperhatikan perempuan? Bukannya perempuan itu ibarat baju? Atau jangan-jangan perempuan ini yang udah membuat hati Kevin tersentuh.
Cynthia menatap perempuan itu dalam diam, kebisuan yang dia malas untuk ungkapkan terlebih saat Kevin bilang bahwa perempuan itu sangat berarti buatnya, ingin rasanya menutup telinga rapat-rapat.
__ADS_1
**__**
to be continued ðŸ¤