
Happy Reading
***__***
Setelah berbulan-bulan lamanya Kania dengan kehamilannya yang semakin membesar tanpa mau mengetahui jenis kelamin bayi yang ia kandung.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya, kapan kira-kira dia akan melahirkan?"
"Gak akan lama lagi pak Kevin, tinggal menghitung hari aja. Karena kan ini sudah bulan nya."
"Bayi nya laki apa perempuan sih Dok?"
"Dokterrrrrrr.....!!!" panggil Kania cepat.
"Iya Bu iya,, maaf ya pak saya dilarang Bu Kania untuk memberitahu jenis kelaminnya, dan ibu Kania juga gak tau apa jenis kelamin anaknya. Tapi yang jelas anak ibu dan bapak sehat ko, berat nya cukup, panjangnya juga cukup."
"Okey lah kalau begitu. Berati saya tinggal nunggu aja nih,"
"Iya sayang, kita tunggu nya di rumah yuk yank." ajak Kania bersiap bangun dari ranjang pasien.
"Oke, yuk pelan-pelan turun nya. Sayang jangan-jangan anak kita ada dua lagi, perut kamu besar banget, aku yang liat berat banget itu kayanya, apa lagi kamu yang badannya seupil gini."
"Ha-ha-ha gak ko sayang, biasa aja cuma agak engap aja dikit."
"Dok, ini istri saya gak pa pa kan, hamil ko perut nya aja yang maju sih? Badannya tetep aja mungil. Jadi ngeri saya Dok."
"Gak semua ibu hamil harus semua jadi besar pak. Pokoknya pak Kevin selalu jaga ibu Kania nya, bantu dia jika ingin melakukan sesuatu jangan dibiarkan sendiri apalagi tinggal hitungan hari."
"Oke baik, makasih ya Dok."
******
Tiga hari kemudian...
Menjelang Subuh
"Sayang,,, aku ko mules ya? AC nya kamu nyalain ya?" tanya Kania sambil menggoyangkan perut suaminya.
"Gak sayang, kan kamu yang suruh matiin. Kipas angin kali nyala, biasanya kan kamu sendiri yang nyalain kipas angin." jawab Kevin masih dengan mata terpejam.
Kania berbalik badan pelan "oiya kipasnya nyala, pantes aku kedinginan mules." Bangun pelan-pelan dan matikan kipas.
Mencoba tidur lagi, tapi rasa mules itu kembali datang. "Sayang, aku mau ke kamar mandi."
Kevin tak bergeming, "Ah susah nih, kalau udah tidur pasti kaya kebo. Daripada ceririt di kasur ke kamar mandi aja lah." Kania bangun perlahan dan berjalan pelan menuju kamar mandi yang ada di kamar itu.
"Lega sudah. Tinggal lanjutkan mimpi lagi." ucap Kania begitu keluar dari kamar mandi dan melirik jam dinding.
"Ternyata masih jam lima, bisa lah tidur lagi sebentar." gumam Kania yang sudah duduk di pinggir ranjang mencoba merebahkan tubuhnya dengan posisi miring.
Tak lama "Aduh ko mules lagi sih? tadi udah gak mules. Apa jangan-jangan mau lahiran kali ya?" ucap Kania.
"Sayang,,, bangun deh ini perutku mules lagi."
__ADS_1
"Ya udah ke kamar mandi sana."
"Udah dari kamar mandi, tapi mules lagi."
"Pake minyak kayu putih aja, perut kamu kembung kali."
"Bukan sayang,, bangun ih aku kayanya mau lahiran deh."
"Hah.. lahiran serius!!" seketika Kevin terbangun.
"Iya kayanya sih,"
"Yakin kamu, ya udah yuk ke dokter."
"Aku mau mandi dulu ya bentar kamu keluarin tas yang udah aku siapin di lemari ya."
"Mandi, bisa mandi sendiri?"
"Bisa, mumpung mules nya ilang." Kania berjalan ke kamar mandi perlahan sesekali dia berhenti ketika perutnya terasa mulas lagi.
Setelah mandi dan lebih segar mereka segera ke dokter rumah sakit.
"Kamu masih bisa tahan kan sayang?"
Kania mengangguk sambil memegang pinggiran jok mobil, sambil mengirimkan pesan dari hape nya.
"Mules lagi?"
"Buruan bawa mobil nya, jangan ngomong mulu!!" seru Kania.
Sampai di halaman rumah sakit dan parkir di depan pintu lobby rumah sakit yang ternyata sudah di tunggu oleh suster dengan membawa kursi roda.
"Suster..!!! istri saya mau melahirkan. Cepat Sus."
"Baik pak, silahkan duduk disini Bu."
Kania di bawa ke kamar bersalin, Kevin memarkirkan mobilnya di area parkir, dan tak lama segera menyusul Kania.
"Maaf ya pak, silahkan bapak tunggu di luar dulu ya."
Kevin duduk di luar dan memberitahu keluarga soal Kania yang akan melahirkan. Rasa resah dan gelisah di alami Kevin saat ini, dia tak tahu apa yang sedang terjadi didalam yang dia tahu istrinya Kania sedang berjuang melahirkan keturunan Pratama.
"Vin,, gimana Kania?" tanya Jimmy kakak Kania yang sudah datang dan mengagetkan Kevin.
"Gak tau bang, masih di dalam."
"Ya udah kita berdoa aja semoga persalinan nya lancar, ibu nya selamat dan bayi nya sehat."
"Aamin."
"Oiya Vin, perlu gua jelasin lagi ya anak pertama Kania harus menggunakan nama belakang keluarga Kania ya."
"Hah,,, apaaan gak bisa!! itu anak gua, kenapa jadi pake nama belakang keluarga Kania.?"
__ADS_1
"Ini perintah dari kakek Lo,"
"Ah gak mungkin,"
"Telpon aja kalau gak percaya."
Kevin menghubungi kakeknya dan bertanya, dengan wajah lesu menatap Jimmy.
"Ya kannnn..???"
"Ya udah lah."
Tak lama suara tangis bayi terdengar dan pintu terbuka suster keluar celingukan.
"Suster,,, bagaimana sudah lahir ya?" Kevin bergegas menghampiri.
"Iya pak, selamat ya anak pertama bapak perempuan lahir dengan selamat dan cantik."
"Alhamdulillah"
"Saya masuk dulu, meneruskan pekerjaan selanjutnya." kata suster.
"Deall ya." ucap Jimmy
"Hemmm." jawabnya sambil bibirnya maju.
Tak lama pintu dibuka lagi dari dalam kali ini dokternya yang keluar.
"Dokter bagaimana keadaan adik saya?"
"Selamat pak Kevin, pak Jimmy. Ibu Kania selamat, sehat, dan bayi kembar kalian juga sehat."
"Hah kembar Dok?!" seru Kevin kaget dengan senyum mengembang.
"Iya pak, kembar perempuan dan laki-laki lucu dan sehat. Sekarang ibu Kania dan bayi sedang di bersihkan dan akan di pindahkan ke kamar perawatan."
"Yeeeeeeee akhirnya namaku bisa juga tersemat kan di anak ku yeeee." Kevin girang.
"Akan lebih baik kalau nama si kembar menggunakan dua nama keluarga besarnya. Bagaimana?" usul Jimmy
"Hemmm ide yg bagus juga. Baiklah deall."
"Permisi bapak-bapak. Apakah sudah menyiapkan kamar untuk Bu Kania?" tanya suster.
"Oiy sus, kasih kamar dan pelayanan paling bagus di rumah sakit ini, buruan sana ke bagian administrasi." ucap Jimmy.
"Iyaaa,," Kevin berjalan kedepan mendaftarkan kamar untuk Kania.
Setelah berbalik dari administrasi.
"Bang, kira-kira siapa namanya ya?"
"Sambil jalan yuk bahasnya, kita ke kamar perawatan Kania."
__ADS_1
****___****
to be continued 😂