
Happy Reading 😘
**__**
Keesokan harinya...
Setelah jam pulang kantor Kania berjalan ke halte bus untuk segera menuju ke salah satu Mall. Kania menolak di jemput Ivan dan memilih akan datang setelah pekerjaan nya selesai. Sebenarnya bukan karena pekerjaan tapi lebih ke rasa canggung jika berdekatan dengan Ivan.
Ivan sudah lebih dulu sampai, dia sengaja duduk di kursi pengunjung depan pintu masuk Mall supaya bisa dengan jelas melihat Kania yang berjalan.
"Kania..!!" teriak Ivan begitu melihat Kania berjalan hendak melewati nya.
"Eh kak Ivan, kirain nunggu diatas? Maaf kak aku gak liat!"
"Iya aku tau, makanya aku panggil, soalnya kamu jalannya lurus aja gak liat kanan kiri." ledek Ivan sambil berdiri.
"Kita mau kemana kak?"
"Kayanya ada film bagus deh, udah lama juga kan kita gk nonton?!"
"Oh gitu, ya udah yuk."
Mereka menaiki eskalator menuju lantai atas bioskop. Setelah membeli tiket mereka pun masuk karena sebentar lagi waktu penayangan akan di mulai. Suasana dingin ruangan semakin dingin dengan hubungan kaku yang tercipta.
Sebenarnya apa yang mau kak Ivan omongin ya? Aku juga harus mengatakan kejujuran yang aku rasakan. Mungkin sudah saat nya aku benar-benar menentukan pilihan.
***
**
__ADS_1
*
Dua Jam Kemudian...
*
**
***
Para penonton berjalan ke pintu keluar dengan tertib dan santai begitu pula dengan Kania dan Ivan yang berjalan dalam diam. Sampai menuruni eskalator hingga keluar gedung Ivan masih berjalan diam tanpa menoleh.
Kak Ivan semakin lama semakin menjauh, bahkan aku merasa kini seperti tidak mengenal lagi sosok nya.
"Kak Ivan..!!" panggil Kania karena Ivan berjalan terlalu cepat.
"Eh iya maaf Nia, aku lupa." jawabnya ketika menoleh.
"Iya, gimana kalau kita ngobrol di taman sebelah sana aja?" ajak Ivan.
Kania mengangguk dan berjalan menyusul Ivan yang langsung melangkah tanpa menunggu Kania. Masuk kearea taman mencari tempat santai.
"Kita kesana aja yuk, ada kursi kosong. Lumayan agak ramai ya sore ini!" ucap Ivan.
"Ya ramai lah kak, ini kan hari Sabtu. Pasti banyak pasangan yang kencan disini."
Tapi sayang nya kita kesini bukan untuk kencan Kania.
Ivan berjalan diikuti Kania yang dengan susah payah mensejajarkan langkahnya. Sampai di kursi taman yang di tunjuk Ivan pun segera duduk, tak lama Kania pun duduk disebelahnya.
__ADS_1
Kak Ivan berubah tak lagi hangat.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Tanpa ada satupun yang memulai obrolan. Mereka hanya bicara dalam hati masing-masing.
"Kak Ivan mau bicara apa?" tanya Kania setelah menghembuskan nafas akhirnya lelah dengan kebisuan
"Kania kita putus aja!" ucap Ivan.
Dengan cepat Kania menoleh kearah Ivan yang duduk disebelahnya yang sama sekali tak menatap nya dan malah menatap lurus kedepan.
"Kak Ivan serius?"
"Iya, aku baru menyadari sekarang bahwa aku menyukai Asti."
"Oh Asti..."
"Maafkan aku Nia, aku sudah mempermainkan perasaan mu. Aku membuatmu menerima aku tapi pada akhirnya aku pula yang memutuskan nya."
"Aku gak tau apakah aku harus sedih atau senang, tapi jika memang kak Ivan merasa bahagia dengan Asti, aku tidak ada hak untuk melarang nya. Dan aku juga minta maaf pada kak Ivan jika selama ini aku belum bisa menjadi kekasih yang kak Ivan mau."
"Semoga kamu bisa dengan segera menemukan pasangan yang benar-benar mencintai mu Nia. Aku sekalian mau berpamitan aku dan Asti Minggu depan akan ke Paris aku akan menemani Asti menekuni hobi menggambar nya. Kamu sehat sehat ya Nia, doa ku bahagia selalu."
Ivan bangun dari duduk nya dan melangkah pergi meninggalkan Kania tanpa menoleh dan tanpa mendengar ucapan Kania yang belum sempat keluar dari mulutnya.
Kak Ivan, semoga kamu bahagia kak. Kenapa hati ku seperti ini ya rasa sakit kehilangan.
"Ya ampun cincin kak Ivan sampai lupa, ini harusnya di pakai ke Asti. Besok aku akan menelepon nya dan mengembalikan nya." Kania menghembuskan nafasnya pelan lalu berdiri berjalan pelan meninggalkan taman.
**__**
__ADS_1
to be continued ðŸ¤