
Zafran memasuki rumah yang sering ditinggalkan orang tua. Luas rumahnya bisa hampir seluas sekolah.
Pilar menjulang tinggi, perabotan antik bernilai mahal, lampu hias besar, segala kemewahan sudah menjanjikan kehidupannya dari dia lahir.
Zafran tak pernah merasakan kesulitan ekonomi. Secara keluarganya pebisnis hebat semua. Jajanan mereka adalah main saham, beda dari yang lain.
Zafran anak tunggal. Jelas lebih diperhatikan, anak satu-satunya penerus usaha.
Perkara Zafran kerap kerasukan di sekolah yang tahu hanya bibi-bibi yang bekerja di rumah. Orang tuanya sama sekali tak tahu. Atau tak sempat mendengarkan cerita konyol yang bahkan jauh dari kata realistis.
Seandainya mereka tahu, Zafran bukan dipertemukan dengan ustadz atau psikiater. Langsung dia masuk rumah sakit jiwa jalur VIP.
Orang waras disangka gila tanpa diagnosa. Mana mau Zafran ditempatkan bersama orang gila sungguhan.
Hidupnya sekarang saja sudah di tengah hitam dan putih. Makluk nyata dan gaib tak bisa lagi dikontrol matanya.
Kamar Zafran didominasi warna biru muda dengan lukisan awan putih di dinding supaya lebih berwarna.
Sebelumnya dia suka monokrom, tapi kamarnya langsung dirombak warna-warni untuk mengurangi takut.
Gara-gara sekolah terkutuk itu Zafran hidupnya terasa beban. Dari keturunan kakek nenek tidak ada yang bisa lihat begituan.
Beruntung Zafran bertemu Jefri dan Mira yang mempunyai bakat keturunan.
Saran dari Jefri untuk memperkuat pondasi iman mulai Zafran lakukan. Dari yang jauh dari kata ibadah, sejak disarankan lebih rajin solat dan ngaji dia merasa lebih aman meski sendirian.
Sebelum beribadah Zafran betul-betul menganggap dirinya gila sampai bibi yang bekerja di rumah hampir menghubungi orang tuanya.
Memang jarak dari Jepang ke Indonesia tidak sedekat Jakarta ke Bekasi, tapi mereka dengar Zafran diambang gila jarak sejauh itu bisa menyusut.
"Mau makan apa Nak Zafran?"
"Selagi bisa dimakan, Bi."
__ADS_1
Zafran duduk menunggu di meja makan. Komunikasinya dengan Jefri lebih sering daripada ayah ibunya.
Bibi yang biasa membuat masakan untuk Zafran di dapur bertanya, "Gimana tadi di sekolah, baik-baik aja, Nak Zafran?"
"Ya gitu-gitu aja." Zafran jawab seadanya.
Bi Sum, nama lengkapnya Suminah asal Tegal. Dari logat bicaranya memang medok khas orang sana.
Ada lagi Pak Kim atau Kimidri asal Pekalongan. Mereka berdua kalau ketemu ngobrol pakai bahasa jawa.
Kadang Zafran kepo mereka gibahin dia atau bahas yang lain. Takutnya kan tanpa sepengetahuan Zafran mereka ngegibah.
"Kamu ndak kesurupan lagi, kan?"
"Ada Jefri sama Mira, Bi. Aku berani lawan mereka."
"Bagus toh, Nak Zafran. Harus dilawan biar menang!"
"Boleh. Bibi mau kenalan sama teman-teman kamu itu."
Sambil masak Bi Sum terus mengobrol supaya menjalin hubungan baik dengan anak majikan.
Bagi Bi Sum, Zafran anak yang baik. Dia suka menolong pekerja di rumah walaupun sekadar isi waktu luang.
Pak Kim misalnya nguras air kolam renang, Zafran nyedot air sambil minum teh. Main-main di waktu luang namanya.
Mereka semua memaklumi kegiatan Zafran. Dia anak majikan, sejak pindah belum punya teman. Jadi pekerja di rumah diajak main sama dia.
"Memang menurut Nak Zafran, Mas Jefri sama Mba Mira itu orang yang bagaimana?"
Zafran membalik ponselnya lalu berdeham cukup lama untuk menggambarkan mereka berdua.
"Jefri itu kalem, gak banyak omong. Dia ngomong banyak cuma pas lagi nasehatin orang, Bi. Kalau Mira ... Dia cantik, lumayan pinter sih, tapi agak penakut."
__ADS_1
"Mereka kakak adik?"
"Sepupu. Ayah mereka yang kakak adik, Bi."
"Begitu."
"Banyak cerita dari mereka yang menurut aku tuh kayak 'hah? Masa ada begituan di zaman sekarang?' ."
"Teman yang membuat kamu nyaman harus dipertahankan, Nak. Sayang kalau dilepas."
"Pak Kim lagi ngapain ya sekarang?" Zafran bertanya yang lain.
"Udah berangkat ke musola bareng Pak Mus, Pak Tri, sama Pak Cas."
"Bentar lagi magrib ya."
Pak Mustofa, Pak Trisno, dan Pak Casnoto adalah tiga serangkai dari daerah berbeda. Jakarta, Indramayu, Jepara. Dari kota berjauhan mereka bertemu di sini.
Sebetulnya mereka bergantian sebagai satpam, sopir, dan tukang kebun yang penting urusan rumah beres.
Musola masih di dalam halaman rumah, letaknya di samping garasi kendaraan.
Biasanya mereka solat jamaah di sana sebelum melanjutkan pekerjaan. Setelah solat isya Zafran main catur dengan mereka di teras sambil ngopi.
Selagi tidak ada orang tuanya bisa bebas.
Selera makan Zafran juga tidak neko-neko. Dia lahap pula setiap hari makan berat.
Makanya kalau orang tua pulang dia merasa kelaparan cuma sarapan roti minumnya susu, pulang sekolah dikasih jus tomat susu makanannya nasi merah dikasih telur ceplok.
"Bibi lupa kasih tau kamu, Nak. Bapak Ibu bilang pulang bulan depan."
Kan, petaka buat Zafran.
__ADS_1