Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Serba Debat


__ADS_3

Dewi masuk kamar mandi setelah Nuri. Astuti sudah mandi dari subuh, Mira mandi setelahnya.


"Ikut gak?" ajak Mira.


"Ke mana, ngapain?" sahut Astuti.


"Ke luar cari angin."


Astuti ikut saja. Cukup banyak yang lalu lalang di dalam dan luar vila sekadar melihat-lihat pemandangan dan berfoto.


Jam delapan pagi katanya baik berjemur kena sinar matahari. Mereka berniat duduk-duduk manis di ruang tunggu atau ke penginapan laki-laki. Alasannya bisa dimanipulasi, Mira punya dua sepupu.


Astuti jalan sambil main ponsel. Tanpa sengaja menyenggol kaki Jefri yang melewati bangku panjang.


"Apaan tuh!"


Jefri jadi bangun menekuk kakinya dan duduk lesu. Jefri garuk-garuk rambutnya yang berantakan, baru lihat Astuti dengan jelas tengah menatap bingung.


"Lo tidur di sini?" seru Astuti.


Mira mundur lagi menyadari Astuti bicara dengan Jefri. Tadi pas lewat dia terlalu fokus ke depan.


"Heh!" Mira menangkup wajah pria itu. "Ngapain lo tidur di sini?"


Jefri menepis pelan tangannya. "Bukan gue doang. Ada mereka."


Mira dan Astuti kompak menoleh ke belakang, tepat di seberang bangku Jefri terdapat Pak Ilman dan Pak Ridwan tidur hadap-hadapan beralas tikar gambar abjad berwarna.


Astuti mau mengabadikan momen langka mereka. Jadi dia foto tuh beberapa kali mencari angel yang bagus.


"Gue kira lo balik ke vila jagain Zafran," sangkanya.


Kaki Astuti dicekal Pak Ilman. "Bayar dua ratus ribu ambil foto saya. Ilegal tambah tiga ratus."


"Lah bukannya tidur?"


Pak Ilman berubah posisi duduk. "Udah dari tadi. Males bangun."


"Berarti gak gue doang yang begitu," gumam Astuti sering malas beraktivitas setelah bangun tidur.


"Saya masih ngantuk. Kalian pergi gih ngobrol di tempat lain," usir Iptu Ridwan dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Bapak-bapak di sini jaga kita, lho. Bukan rebahan everytime."


Iptu Ridwan langsung duduk mengomel. "Kamu gak tau temen sekamarmu tengah malam keliling sendirian?" Tunjuknya ke Mira.


"Ngapain lo? Ngepet?" sahut Astuti.


Mira menggeleng pelan. Dia melempar ekspresi julid gara-gara Ridwan mengadu.


Pak Ilman melerai perdebatan. "Udah, udah. Biarin polisi ganteng ini istirahat lagi."


Mira menyilangkan kaki merasa tidak bersalah. "Bapak gak bilang liat doppelganger ke saya, mana saya tau."


"Bukan doppelganger ..." Jefri mendesah.


"Jin," lanjut Mira.


Astuti mengundurkan diri pembahasan mereka ke jalur mistis. "Aduh, gak ikut-ikutan deh gue." Dia pergi seraya menutup kedua telinga.


"Mira, kayaknya kegantengan Pak Ridwan diakui makhluk alam lain. Iya gak?" canda Pak Ilman memakai sepatu.


Mira atas kepercayaan diri Iptu Ridwan yang berdeham canggung merapihkan kerah kemeja coklat.


Mira mendesis, "Semua cowok ganteng ngerasa dirinya ganteng. Fakta."


Jefri pernah membanggakan diri pernah melihat pantulan beraura merah di cermin rumah yang di Bogor.


Tidak takut melihat dirinya ditiru, Jefri justru bergaya seperti model meledek hantunya hingga hilang sendiri bagaikan asap.


Seakan Jefri ingat sekelibat, dia mengalihkan pembicaraan. "Acara hari ini apa, Pak?" Dia memakai kaos kaki dan sepatu.


"Free," singkat Pak Ilman.


"Free, bebas?"


"Kalian dibebaskan mau ngapain aja. Guru yang lain juga mau liburan, kalian udah bangkotan pasti gak mau dibatasi, kan."


Mira bersorak senang dan kebiasaan memukuli orang di dekatnya.


Jefri pasrah digebuki. "Nyesel gue tidur di sini," batinnya.


Pak Ilman terbebani atas keputusan panitia setelah kejadian kemarin sore. Andai kata dibebaskan, anak-anaknya yang berakhlak minus bisa kelayapan sampai desa sebelah dengan antusiasnya.

__ADS_1


Mengingat vila dikelilingi pohon besar mereka percaya saja anak-anak tidak akan jauh mainnya.


Di belakang vila ada outbound yang disiapkan untuk kegiatan hari ini, hari kedua. Ya sudah biar suka-suka mereka.


**


Surya dan Awan berebut masuk kamar mandi sampai tersangkut di ambang pintu saling berdesakan.


"Gue duluan!" lawan Surya pantang mundur.


"Gue dari tadi!" Awan melotot kesakitan. "Tangan gue kejepit! Kejepit goblok!"


Jefri yang baru datang melihat itu langsung membelah jalan. "Permisi, gue kebelet ee."


Surya dan Awan spontan langsung mundur.


"Ah lo sih!" seru Surya menyalahkan Awan lengah.


Awan balas, "Lo bangun dari subuh gak langsung mandi, malah video call-an giliran gue mau mandi lo maen serobot."


"Heh, sembarangan ..."


"Apa? Lo takut kan ditinggal sendirian di sini. Jaga Zafran tidur doang takut, gak gentle!"


Zafran terpantau masih molor memeluk guling tidak dengar kebisingan mereka.


"Mana ada. Gue kaga takut!" teriak Surya mendesah kasar.


"Jangan berisik woi!" Jefri berteriak dari dalam. Tidak tahukah dia lagi fokus membuang limbah tubuhnya.


"Lo duluan sono mandi!" kata Awan mengalah.


"Gue gentleman. Lo dulu gapapa," jawab Surya.


"Anjir, gue udah ngalah ini." Ngajak ribut memang si Surya.


Surya memasang tampang polos. "Gue aja yang ngalah. Gue lebih tua dari lo."


"Gak usah mandi sekalian!" Awan melempar handuk ke atas kasur lalu ke luar entah mau ke mana.


"Lah kok marah?"

__ADS_1


__ADS_2