
"Hidup gue bakal lebih mudah kalau dari awal ketemu Juan, bukan Surya."
"Menurut lo, Juan gimana?"
Di pojokan perpustakaan dua siswi tengah membicarakan sosok pria yang menjadi topik kali ini.
Biar Dewi pikir dulu. "Hm ... Ganteng?"
"Selain itu."
"Apa lagi. Dia tipe bad boy berkelas di mata gue. Gak deng, keknya semua cewek dipelototin sama dia bakal klepek-klepek bukannya takut."
"Jangan sampe Surya denger."
"Mana mungkin Surya masuk perpus. Kecuali gila."
"Gue sependapat. Sayang emosinya sering meledak-ledak."
"Heh, itu malah daya tarik."
"Apanya?"
"Pas di rumah sakit. Dia giniin Jefri."
Mira berkedip dua kali lantaran Dewi tiba-tiba menarik kerah lehernya.
"Agak ... Nyekek ya."
Dewi merapikan lagi seragam Mira. "Sorry." Senyumannya tanpa rasa bersalah. "Hari itu pertama kalinya gue memutuskan jadi secret admirer-nya. Gila gak?"
"Gi- " Mira baru mau ngomong.
"Banget."
Suara familiar telah memotong ucapan Mira.
Dewi menoleh ke kanan tepat lorong rak buku ada Surya.
Surya masih sempat komentar, "Selera lo berdua agak ... Aneh."
Dewi menutup buku yang belum dibaca dan melempar ke pangkuan Mira lalu menghampiri Surya.
"Eh, enggak. Maksudnya tadi gue cuma ngomong doang. Gak beneran."
"Bidi imit." Surya sengaja menutup telinga sambil jalan keluar dari sana.
Dewi memukul ringan lengan Jefri. "Ngapain diajak ke sini sih!"
Jefri telat menghindar. "Ngapa jadi gue."
"Anjir. Surya! Tungguin!"
Mira menaruh buku ke tempatnya kembali. Jefri sempat menghela napas diajak balik ke kelas.
"Karena lo berdua pinter, ke perpus bukan belajar tàpi ngomongin orang."
"Dewi duluan yang bahas Juan."
"Terus sebelumnya kalian ngomongin siapa?"
"Kita nonton film." Mira menatap balik pria di sebelahnya. Memang dia sangat terlihat penggosip? Sialan.
"Putus dari Mirza oleng ke Juan ... Bisa sih."
Mereka sepupu jauh. Secara agama dan hukum sah saja.
"Chat gue gak di bales. Lo bisa hubungi dia?"
"Juan atau Mirza?" Jefri sedikit tertawa siapa yang dimaksud.
"Mirza lah."
"Dia pasti sibuk latihan renang lagi. Lo merasa dijauhi setelah putus?"
__ADS_1
"Gue kira gitu."
"Canggung lah kalau fast respon. Dia yang minta putus dikira kasih harapan ke lo lagi."
"Oh gitu ..."
Jefri sudah duga Mirza yang memutuskan hubungan dari ekspresi sedih Mira di taman. Lantas, mengapa Mirza ikut menangis? Jika dia yang minta putus, harusnya akhiri tanpa rasa bersalah.
Mira sudah bohong dan bisa jadi alasan putus saat itu.
"Awas dia ke Jakarta lagi nampakin batang hidung gue bakal- "
"Sabtu nanti ke rumah."
"Heh?"
Tentu Jefri bohong. "Bercanda."
"His!" Mira percaya lagi.
Sambil melihat-lihat kegiatan orang lain sedang istirahat. Yang paling menarik perhatian Mira adalah hantunya.
"Kata lo selama gue dirawat ngusirin setan. Mana? Masih ada, banyak gini."
"Lo sembuh ngapain lagi."
"Jadi buat ngelampiasin emosi doang?"
Jefri berhenti kemudian memberi Mira tatapan datar.
"Karena gue?" goda Mira.
Gadis itu pasti kegeeran. Harusnya dibiarkan menggosipkan Juan ketimbang Jefri mengakui bahwa benar menghabiskan waktu melawan hantu untuk melampiaskan penyesalan.
"Buat semua orang. Gue takut ada yang dirasuki lagi."
Cara Jefri menyampaikan alasan masuk akal hingga Mira tak meragukannya.
Selama ini mereka baik-baik saja diterpa masalah tidak sendirian menghadapinya. Kali ini tak seorang pun bisa membantu selain bergantung satu sama lain.
"Tapi sekarang mending. Pas pertama masuk banyak banget gila."
"Hm."
"Ke mana mereka mendadak ilang ya."
Jefri pernah berkata sampai urat-uratnya menonjol bahwa dia tidak pernah lama mengurung hantu. Paling jauh jarak satu bulan, hanya agar tidak mengganggu lagi.
Setelah dilepas mereka sempat terlihat namun hilang entah ke mana.
Mereka pikir saat itu adalah hal yang wajar. Sekarang terasa aneh.
Mereka tidak mudah mendapat tempat baru, apalagi setelah dikurung hampir diusir dari hunian yang puluhan sampai ratusan tahun ditempati.
"Lo pas ketemu kabur, giliran ilang dicari."
"Gue masuk duluan."
"Sana."
Mira sangka urusan Dewi dengan Surya telah usai, rupanya berlanjut sampai kelas.
Lagi-lagi dia terlibat dengan Zafran yang diam-diam kerasukan sosok lelaki yang tadi melintas di depan Jefri kala berjalan di tangga.
Dada Zafran sangat sesak ketika terlepas dari sosok itu justru menjadi boomerang bagi Mira yang kaget setengah mati.
Sosok pria mengerikan keluar tanpa aba-aba dan persiapan membuat Mira balik badan kemudian lari memanggil Jefri.
"Jef! Jefri!"
Baru sampai pintu kelas tak melihat orang masuk, mereka berdua bertabrakan dan jatuh bersama.
Bruk!
__ADS_1
"Maaf, maaf. Gue gak seng ..." Lah, Pak Adit?
Pak Adit lebih kaget ditabrak. "Kamu kenapa nabrak saya? Bangun!" Mana dilihat banyak orang.
"Ya ampun maaf, Pak. Saya gak sengaja!" Mira segera berdiri berniat mendekati Jefri.
Belum sampai ke sepupunya, Mira lah yang dirasuki karena rasa takutnya.
"Kebiasaan kamu sering nabrak saya, Mira. Saya curiga- "
Jefri membelalak Pak Adit dicekik Mira.
"Mira!"
Surya kalang kabut menyuruh Dewi selamatkan mereka.
"Itu temen lo nyekek guru, Dew! Pisahin! Ntar keburu koit!"
"Pisahin gimana!"
Irlan buru-buru bangun dari kursinya.
Zafran mengerjap menjernihkan pandangan yang secara mendadak buram semua.
"Dewi! Bantuin!" teriak Surya.
Dewi mengomel. "Lo dong samperin! Nyuruh doang bisanya!"
Mira menyeringai tatkala Jefri berusaha melepaskan tangannya.
Beberapa saat kemudian Mira menertawakan Pak Adit gelagapan kehabisan oksigen.
"Lepas. Jangan dia," kata Jefri.
Sorot menyesal terpampang sempat terlihat Jefri.
Mira tertawa lagi merasa perbuatan ini menyenangkan.
"Kamu terlalu menyedihkan hidup bersandiwara dengan anak kecil."
"Hah?" Tangan Jefri sempat lepas setelah mendengar sosok itu bicara.
"Ternyata kamu ingin mempermainkan mereka? Mereka bahkan bukan tandingan kamu. Hahaha!"
Selepas itu sosok yang mengutarakan omong kosong keluar dan terbang menghilang sesaat setelah saling pandang dengan Jefri.
Mira terhuyung ke belakang beruntung Irlan siaga menahannya.
Pak Adit batuk-batuk. Napasnya tersengal merasa sakaratul maut di tangan muridnya sendiri.
"Pak Adit, gapapa?" Irlan turut mengkhawatirkan gurunya.
"Gapapa."
"Pak. Yang dia bilang tadi gak bener, kan?"
"Apa?" Akal pikiran Pak Adit cukup blank dapat pertanyaan demikian.
"Sandiwara! Mempermainkan kita!" gertak Jefri tidak sabar.
Pak Adit bergelinang air mata. "Saya hampir mati barusan dan kamu menuduh saya? Kamu yang bilang jangan termakan omongan mereka."
Mira tidak bisa berkata apa pun. Dia mana tahu siapa yang benar dan salah di sini meski mendengar seluruhnya.
"Mira. Aman?" Irlan bertanya mengalihkan suasana. Mira pasti masih syok sampai membeku di depannya.
"Iya." Gadis itu menenangkan Jefri. "Kasih ruang buat Pak Adit, Jef. Ada benernya."
Ya, mungkin Jefri terdistorsi kecurigaannya selama ini.
"Maaf, Pak."
Mira mengajaknya ke kelas. "Gue anterin."
__ADS_1
Jefri menolak. "Lo juga lemes abis kerasukan. Sana masuk. Gue bisa jalan sendiri."
Lihat perkataan kasar itu kembali. Niat baik Mira ditolak mentah. Apa dia belajar penolakan dari Mirza? Dasar dua bajingan.