
Gerbang emas memancarkan cahaya menyilaukan mata. Mira mengikuti ayahnya kemari. Namun ia ragu ikut masuk atau tidak.
Dari luar tampak biasa, hanya hutan seperti sekarang yang dilihat. Hanya gerbang emas saja yang membuat Mira heran, 'kok ada ya di tengah hutan gerbang sebesar ini?' .
"Ayah?"
Angin berhembus lembut menggerakkan daun pinus lumayan membuat bulu kuduknya berdiri.
"Masuklah, Nak."
Mira lekas masuk kemudian entah badai angin dari mana mengelilinginya di tempat.
Tidak ada batas ruang, Mira betul masuk tetapi anehnya sekeliling bukanlah hutan, hanya gelombang angin.
Harus menyipitkan mata lantaran tidak bisa lihat apa-apa dari jarak jauh.
"Ayah di mana?"
Pendengaran Mira atas angin yang bertiup mengelilinya perlahan pudar beralih munculnya sosok bayangan pria di antara debu-debu.
Siapa dia Mira belum tahu. Angin berputar sangat cepat. Pria itu tidak bergerak sedikit pun diterpa badai.
Mira kaget pusaran angin menghilang sekejap. Tiada lagi yang bisa dilihat selain sosok pria yang semula diam membelakangi Mira perlahan menoleh sembilan puluh derajat.
Dibanding kaget siapa orang itu, Mira lebih heran apa yang dia lakukan di sini.
"Lo ngap- "
Tunggu. Ada keanehan di sini.
Jika dia di sini, lantas apa badai tadi dibuat olehnya?
Tidak mungkin.
Masa iya dia punya mantra bikin angin sebesar itu? Mengapa pula dia ada di sini sementara tadi Mira mengikuti ayahnya?
"Sekarang bagaimana? Kamu sudah tertipu kesekian kali dan tidak belajar dari pengalaman."
Begitu katanya.
Mira terperangah. Bagian kalimat tertipu kesekian kali dan tidak belajar dari pengalaman sangat mewakili keberadaan Mira sekarang.
Dilihat-lihat walau jauh juga seperti bukan sosok yang dia kenal.
"Lo sengaja bawa gue ke sini, kan? Segala bikin badai antartika."
Eh, apa jangan-jangan bukan dia tapi hantu yang mengerjai Mira?
Gerbang emas tadi ikut menghilang. Mereka bagaikan berdiri di atas angin tanpa batas tempat. Sangat luas sampai Mira tidak tahu ke mana dia harus pulang.
"Ba-baju lo berubah." Mira baru sadar yang aneh adalah pakaiannya.
__ADS_1
Tampangnya sehari-hari biasa saja. Tapi pria di depan sana sangat rupawan mengenakan pakaian kerajaan bak pangeran.
"Tidak perlu mengikuti sesuatu yang semu. Kamu tahu ayahmu telah tiada. Lantas siapa yang kamu ikuti?"
Pria itu mengangkat telapak tangannya dan bergerak seperti usapan yang mengeluarkan cahaya biru.
"Apakah dia?"
Mira tertegun di atas mereka ada lubang abstrak menampilkan wajah-wajah orang terdekatnya.
Pertama yang ada di atas sana ialah Awan.
"Dia?" Dia bertanya lagi.
Kedua, Dewi.
"Atau dia?"
Ketiga, Zafran.
Mira tidak bisa mendengar mereka panik dan teriak atas sebab apa. Raut sedih dan panik dari ketiganya membuat Mira kebingungan.
"Kamu harus pergi."
Sosok itu menarik lubang ke dalam genggaman tangan lalu pusaran angin kencang kembali mengguncang.
**
Mereka kaget sekaligus lega.
Dewi memukul Mira lumayan kencang. "Lo bikin gue khawatir tau gak! Hiks! Gue kira lo mati!"
Awan terduduk menekuk kakinya di tanah sambil menangis tersedu-sedu.
Mira bertanya, "Lo bertiga kenapa? Gue gak tau apa-apa juga bingung liat kalian nangis gini ..." Dia malah nangis terbawa suasana.
"Lo gak napas tadi, goblok!" Zafran teriak emosi. "Jantung lo juga gak berdetak! Kita kira lo udah lewat alam lain. Bangsat lo bikin gue panik gini. Lo mati suri?!"
"Gue gak tau ..."
"Gak tau, gak tau!" sahut Zafran kesal.
Dewi mengusap punggung Awan. "Mira udah bangun. Dia gak mati."
Mereka bergantian mengomeli Mira di saat dia bingung dengan situasi sekarang.
Kapan dia mati suri? Jelas Mira masih bernapas hari ini.
"Kita semua pikir lo mau bundir gara-gara surat ini!" Dewi melempar buntalan kertas. "Ngapain lo ke hutan belantara sendirian coba!"
Awan menjauhkan Dewi darinya kemudian berdiri lemah.
__ADS_1
Mira mengernyit. "Gue emang tadi ngikutin Ayah, Wan."
"Lo gila!" hardiknya puas.
Gadis itu menghela napas pelan. "Gila dari mananya sih."
"Tinggal sendiri lo di sini! Dimakan binatang buas sekalian!" sentak Zafran meninggalkan Mira juga.
Dewi menatap kesal sahabatnya. "Bangun! Mau balik atau di sini?"
"Balik lah."
**
Mira menatap punggung Awan dan Zafran. Mereka berada di depan tidak mau beriringan dengan Mira.
Dewi sudah lebih tenang sekarang. "Lo kenapa ada di sana? Pingsan di bawah pohon lagi."
"Gak tau, Dew. Gue masih sadar kok jalan dari vila sampe ke sini." Dia tambah bingung dari mana pingsannya.
Dewi menoleh iba. "Ya udah, lo inget-inget dulu."
"Lo cuma bertiga? Yang lain mana?"
"Sama, nyari lo juga." Dewi mau hubungi yang lain tapi tidak ada sinyal, internet lemah.
"Wan, Zafran, udah kasih tau Jefri belum?" teriak Dewi.
"Udah!" teriak Zafran. Dia lanjut mengobrol sama Awan. "Mira beneran mati suri?"
Pas banget Awan lagi mikir pertanyaan sama.
"Lo tanya dia. Nanya gue, gue tanya siapa?"
"Ya dia lah. Lo berdua kan sodara."
Awan melirik tajam orang di sebelahnya. "Kalau lo yang ada di posisi Mira gak bakal gue cari sumpah."
Jantung Zafran mencelos ke bawah. "Astagfirullahalazhim." Inilah yang disebut tidak ada gunanya bersikap baik kalau orangnya tidak tahu terima kasih.
Setibanya di vila laki-laki, Surya memberitahu Jefri yang merenung lama.
"Mereka balik."
"Mira?"
"Ada."
Mira melihat deja vu. Punggung pria berpakaian bangsawan yang sempat membelakanginya di pusaran angin persis orang yang berdiri di tengah Surya dan Irlan.
Dari keseluruhan, baik wajah juga postur tubuhnya. Pria bangsawan itu adalah Jefri.
__ADS_1
Sepupunya.