
"Dandan mulu lo, Dew."
Zafran memandang Dewi memakai bedak dan lipstik tapi menghadap ke belakang bukan di mejanya sendiri.
"Siapa lagi yang mau deket-deket sama lo selain gue, Zafran?"
"Ya tapi gak tiap hari juga kali."
"Kenapa? Takut ada gosip gue selingkuh sama lo? Tenang aja.. "
"Tiap hari lo cuma ketemu orang itu-itu aja ngapain pake bedak segala sih?"
"Hey, jangan anggap sepele."
"Serah lo deh, serah!"
Dewi menoleh ke belakang tatkala Zafran berbinar-binar atas kedatangan Mira.
"Mira!" Zafran melambaikan tangan energik. "Contoh si Mira, natural apa adanya."
Dewi memasukkan bedak dan lisptiknya ke tas. "Mira!" Dia ikut menyapa.
Senyum mereka pudar ketika Mira mengarah ke bangku Irlan dan Irlan beranjak seperti menyambut Mira.
"Lo udah gapapa?" tanya Irlan pertama kali.
"Lo sendiri gimana? Gak diganggu, kan?"
"Gue lebih khawatir keadaan lo. Beneran gapapa?"
"Aman."
Mira menuju bangkunya, menaruh tas, kemudian duduk.
"Ada apa di antara kalian nih?" Dewi menunjuk Mira menggoda mereka.
"Gak ada apa-apa," ucap Mira.
"Besok orang tua gue pulang. Kalian ke rumah gue ya? Mau dikenalin."
Terdengar menyenangkan. "Serius?" Dewi mau banget.
"Gimana?" Zafran menunggu jawaban Mira.
"Oke."
Mereka tersenyum bersama.
Dewi mau lihat seberapa kaya seorang Zafran.
Zafran pasti mengajak Jefri, Surya, dan Irlan nanti.
Mira menarik napas dan menghembuskannya perlahan mengingat kejadian di rumah Irlan kemarin.
**
Mobil memasuki halaman rumah Irlan yang cukup luas.
Dari jendela mobil yang terbuka Mira kagum dengan pemandangan hijau di sekitar.
Kebun bunga dan pepohonan subur sedap dipandang mata.
Tadi sebelum masuk ada dua pria yang membukakan gerbang untuk mereka.
__ADS_1
Setidaknya beberapa pekerja di rumah Irlan menyapa ramah mereka dan menawarkan bantuan.
Irlan menolak karena dia mau mempertunjukkan sendiri isi rumahnya.
"Orang tua gue lebih sering nginep di kantor kalau lembur, hari ini jadwalnya. Jadi gue agak bebas bawa lo keliling rumah."
Atap rumah Irlan dua kali lipat atap rumah Mira.
"Gede banget, Lan. Cuma segini yang ada di rumah lo?"
"Iya."
"Rumah keluarga gue di Bogor gak sebesar ini padahal banyak yang huni."
Mira meletakkan tas di sofa kemudian mengikuti Irlan.
Mereka banyak masuk ruangan yang menurut Irlan adalah tempat bermain dia saat sendirian.
Apalagi ruang belajar Irlan seperti bayangan Mira. Ada banyak buku berbagai jenis ditata rapi sesuai warna dan klasifikasinya.
"Pantesan lo pinter banget. Ruang belajar aja kek gini.. "
Bahkan pemandangan di depan meja belajar langsung menghadap jalan raya sekaligus pemandangan kota.
"Gila banget sih."
Mira bisa melupakan kehadiran makhluk astral karena tergeser oleh pemandangan indah.
"Kita ke belakang."
Mira setuju.
Irlan menunjuk kolam renang di sana. "Kira-kira luasnya setengah dari kolam renang sekolah. Lo belum pernah ke gelanggang, kan?"
"Iya."
Mira duduk di semacam gazebo menunggu Irlan kembali.
Suasana di sini sejuk. Dia sudah lupa alasan sesungguhnya datang ke sini.
Blubuk!
Dari tengah kolam muncul gelembung-gelembung kecil yang mencuri perhatian Mira.
Ingin tahu apa yang ada di dalam sana Mira berdiri dan melangkah waspada ke tepi.
Gelembung-gelembung tadi berputar membuat arus ke arah tempat Mira berdiri.
Mira mundur sebanyak dua langkah kecil. Kaget, tapi tidak lihat apa-apa di dalam air.
Asap hitam terbentuk menyatu sebagai sosok hantu air berambut hitam panjang dengan kepala muncul ke permukaan.
"Betah di sana?" tanya Mira tidak takut, bukan seperti biasa.
Mungkin akibat suasana hatinya sedang malas. Biasanya dia lari teriak-teriak memanggil siapa pun.
Hantu air yang muncul tidak mempunyai wajah.
"Kamu gak pernah ganggu yang punya rumah, kan? Tadi yang namanya Irlan. Kenal gak?"
Mira menggeleng mengasihani diri sendiri lantaran pertanyaannya diabaikan. Jadi dia hanya menampakkan wujud untuk menakutinya? Cih.
Ketika Mira balik badan mendengar Irlan memanggil namanya, hantu air menarik kakinya.
__ADS_1
Belum sempat meminta tolong Mira masuk ke kolam.
Byurr!
Irlan lebih kaget Mira jatuh ke kolam sedalam tiga meter ketimbang melihat hantu air.
Nampan di tangannya terlepas, Irlan segera berlari dan melompat masuk ke kolam menyelamatkan Mira.
Mira berusaha melepas tubuhnya yang dipeluk dari belakang oleh hantu air.
Bukan main, hantu air mengapit leher Mira dengan lengannya yang lentur seperti karet hingga dia kesulitan bernapas dalam air.
Saat Irlan menemukan Mira berada di dasar tak sadarkan diri langsung diangkat ke atas.
Irlan meminta bantuan orang-orang di rumah membawa Mira ke kamar tamu.
Begitu bangun Mira ingat dia ditarik masuk ke kolam, tapi sekarang ada di kamar.
Irlan sempat-sempatnya tertidur lelah memikirkan apa yang dilihat nyata atau halusinasi.
"Irlan!"
Sontak Irlan membuka mata dan menghampiri Mira. "Iya, gimana? Lo gapapa?"
"Gue gapapa. Lo yang nyelametin gue? Lo liat hantunya gak?" Mira penasaran.
"Gue liat."
"Untung lo ada di sana. Kalau nggak gue bisa jadi tumbal."
"Maksudnya bakal mati gitu?"
"Gak langsung mati sih, paling sekarat dulu." Mira selipkan tawa agar Irlan santai.
"Masih bisa bercanda?"
Mira menyadari seragamnya disulap menjadi kemeja dan celana kasual.
"Ih, Irlan!" pekik Mira menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Heh, gue bukan cowok mesum!" Irlan menjauh pula dari Mira. "ART yang ganti baju lo, bukan gue."
"Kirain."
"Gila."
Mira percaya Irlan bukan pria yang berani terlalu dekat dengan perempuan apalagi mengganti pakaiannya meskipun mereka teman.
"Gue mau pulang ah." Mira jadi takut setelah diganggu.
"Ya emang lo pulang, masa mau nginep di sini."
Irlan dan sopir mengantar Mira pulang. Di perjalanan mereka tetap mengobrol biasa hingga sampai di rumah Mira sempat memberitahu Irlan untuk tidak berenang dalam waktu dekat untuk menghindari hantu air.
Biasanya energi Mira yang tertinggal masih terasa bagi mereka.
Daripada Irlan yang menggantikan Mira, lebih baik kosongkan dulu kolamnya.
Irlan mengerti dan menyuruh Mira istirahat.
**
Dewi melihat ke samping dan memegang beberapa helai rambut Mira.
__ADS_1
"Mira. Rambut lo basah gini ... Keringetan?"