Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Lumayan Aman


__ADS_3

Jefri selesai mengaji kedatangan Awan di kamar.


"Gue rada sesek napas di sini, Jef." Awan terang-terangan.


"Perbanyak istigfar."


Surya yang lagi main ponsel ikut nimbrung. "Sssut! Jangan bahas perhantuan. Tempatnya gak mendukung."


Iptu Ridwan berhenti di ambang pintu mengangkat telepon dari kantor.


Jefri bangkit melihat energi gelap di belakangnya. Dia bergeser sedikit ke samping dan ada Zafran tidak jauh tengah dirasuki.


"Irlan, Awan, baca ayat kursi."


"Hm? Baca?" beo Irlan kagok.


Awan mendesah, "Apa lagi sekarang .." Meksi begitu dia langsung mencoba fokus membaca ayat kursi.


Mata Surya menyipit agar bisa lihat dengan jelas. "Ngapain si Japran di sono?"


Mereka semua kaget Zafran mengerang sangat keras dan berlari kencang ke arah Iptu Ridwan.


Ridwan mencoba melihat ke belakang namun Jefri menariknya ke samping hingga mereka jatuh bersama.


Zafran berada di dalam kamar memindai sekitar.


Awan menggertak Surya dan Irlan. "Lo berdua jangan liat Zafran!"


Surya spontan menutup mata. "Anjing, Japran ****** sialan."


Irlan merapat ke Surya. "Kebiasaan mendadak kesurupan dah lo, Zaf! Ah elah!"


Zafran mengamuk, melempar kursi, vas bunga, bahkan mau membalikkan nakas yang berat.


Awan melompat menahan tangan Zafran dari belakang, namun dia dibanting ke depan cukup keras.


"Zafran!!" bentak Iptu Ridwan.


"Zafran kerasukan," singkat Jefri mulai mencari cara menghentikannya.


Iptu Ridwan berjalan menuju bocah itu. Alangkah kagetnya melihat warna urat-urat hitam di wajah Zafran. Matanya bahkan memerah melotot tajam.


Tak gentar melihat Zafran di luar kendali. Ridwan menyikat dengan mudah hingga dia jatuh ke lantai.


Zafran tersenyum licik kemudian menancapkan kukunya di leher Ridwan.


"Argh!" Ridwan mengerang.


Jefri menendang tangan Zafran beruntung kukunya tidak tembus kulit Ridwan.


Awan melompati dua ranjang biar bisa ke Surya. "Suruh yang lain keluar dulu!"


"Sekarang?" Irlan loading.


"Iya lah!"


"Gimana caranya, bego?! Japran lagi kesurupan gitu!" bentak Surya.


"Gue jagain! Buruan!"


Surya mau bunuh Zafran nanti saat dia sadar. Keluar penuh hati-hati padahal bukan maling sangat lah susah.

__ADS_1


"Jalannya dipercepat!"


"Sabar, bego!" Surya teriak dongkol.


Irlan membuntutinya. "Bentar! Heh, jangan ke sini, Zaf!" Mereka sahut-sahutan.


Zafran merangkak mencekal kaki Surya. Surya teriak histeris lalu terpaksa menginjak tangan Zafran.


"Huaaa! Kaki lo, Sur!" Irlan melangkahi Zafran keluar duluan.


"Goblok! Jangan gue! Pergi sono!" Surya tidak tahan lagi. Lari lah dia ke luar.


Ternyata yang lain sudah berlarian ke depan vila memisahkan diri.


Awan mengejar Surya. "Lo ikut gue." Dia langsung tarik tanpa persetujuan.


"Ah." Surya pasrah mau dibawa ke mana.


"Ikut!"


Jefri menghindar Zafran melompat tiba-tiba. Hal itu membuat Ridwan kewalahan.


Jefri menendang perut Zafran. Dia jatuh tepat di samping ranjang. "Borgol kakinya Zafran sekarang, Pak!"


Ridwan dengan cekat mengeluarkan borgol dan mengunci kaki Zafran di kaki ranjang.


Mereka berkeringat banyak menghadapi satu orang.


**


Pak Ilman dan Pak Roni rupanya di satu kamar yang digunakan menampung siswa kesurupan.


"Gila. Banyak banget." Surya mau kabur tapi lupa tangannya dicekal Awan.


"Jangan sampai ada lagi. Yang lain udah di luar bareng Pak Adit. Kalian kenapa masih di sini?" ujar Pak Ilman menjaga di pintu.


Pak Roni di dalam sedang khusyuk melantunkan ayat suci untuk mengeluarkan jin dari tubuh mereka.


"Jefri sama Pak Ridwan lagi ngurus Zafran," jelas Awan.


Pak Ilman mengerti. Tidak mungkin mereka kesurupan sementara Zafran tidak.


Awan duduk di lantai menyender tembok. "Pusing pala gue, Sur."


Surya jongkok di sebelahnya. "Untung vila cewek gak deket banget." Dia langsung teringat Dewi. "Cewek gue, astaga."


Lagi mengusap muka, Awan ikut ingat Mira. "Mira, Sur!"


"Gue di sini aja!" pekik Irlan.


Baru mau berdiri, kerah baju Surya ditarik Awan pergi dari sana ke vila perempuan.


"Gue kecekek." Surya menepis tangan Awan. "Asal tarik dikira gue kambing!"


**


Pak Adit pontang-panting lari mengikuti Nuri dan Astuti ke kamar mereka.


Dewi resah menggigit kuku jempolnya menunggu mereka.


"Dewi." Nuri panggil dia.

__ADS_1


Dewi tenang Pak Adit menyertai mereka.


"Mira mana? Gimana keadaan dia?" tanya Nuri.


Penglihatan Pak Adit mengarah ke Mira terbaring di atas kasur sedang tertidur pulas.


Astuti menyatukan tangan cemas menunggu jawaban Dewi. Lama sekali dia bicara.


"Lumayan tenang."


Mereka berdua bersimpuh di lantai dingin disertai perasaan lega tak terjadi hal serius.


Pak Adit menolehkan kepala ke pintu kamar cukup lama.


"Pak." Dewi mau minta tolong. "Bisa gak malam ini gausah kegiatan dulu? Besok pagi aja nunggu situasi kondusif. Saya denger anak cowok ada yang kesurupan. Di sini juga gak bagus keadaannya."


Wali kelas 11B itu terdiam merenung.


"Saya capek, Pak. Sumpah dah." Nuri bahkan merasa sedikit oksigen yang dihirup makanya gelagapan.


"Atau gak biarin yang lain kegiatan di luar. Kelas kita di vila," tambah Astuti.


"Jujur saya gak bisa tinggalin Mira di vila sendirian atau biarin Mira ke luar." Dewi harus terus berada di sisi Mira supaya melihat dengan mata kepalanya sendiri dia baik-baik saja.


"Saya bicarakan sama panitia yang lain," tutur Pak Adit mengambil jalan tengah.


Ditambah kedatangan Awan dan Surya mereka menceritakan awal mula Mira bicara melantur dan perubahan emosi drastis.


Awan membangunkan Mira pelan-pelan.


"Mira." Dia menepuk lengan tangan sepupunya. "Bangun bentar." Tapi tidak bangun.


Awan memilih membiarkan Mira istirahat. "Dew, langsung telepon gue kalau Mira bangun."


"Mira gapapa, Wan?"


"Biarin tidur. Lo bertiga istirahat gih. Balik, Sur."


Dewi menyuruh Surya pergi juga. Surya masih mau lihat pacarnya dan menetap di sana tapi si kampret Awan menariknya lagi.


"Saya mau- "


"Lah, Pak. Di sini aja," titah Astuti.


"Ke toilet." Pak Adit lantas keluar menutup pintu.


Nuri menabok muka Astuti. "Tahan malu deh lo."


Dewi menguap pertanda mengantuk. Nuri dan Astuti ikut naik ke kasur masing-masing.


"Rada trauma gue," gumam Astuti masih tersisa khawatir.


"Tidur! Lo mau kegiatan di luar sampe tengah malem? Mending tidur aja," usul Dewi.


"Gila banget sih lo ngadepin Mira tiap hari begini." Nuri menggeleng heran.


"Udah pantes jadi pawang jurig belom?"


"Cocok aja sih asal jangan bawa-bawa gue sama Astuti," kata Nuri bergidik.


"Temen lo kenapa sih, Nur. Gak bener semua. Ditemenin manusia gak mau tapi bangga ditemenin setan ..." Astuti heran bukan kepalang.

__ADS_1


"Bakat tersembunyi tau," celetuk Dewi.


"Muka lo bakat tersembunyi!"


__ADS_2