Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Siapa yang Memulai Ini Semua?


__ADS_3

Mira tarik telinga sebelah Mirza. "Jangan sok manis lo!" .


Sh, dia bukan tipe perempuan gampang meleyot kena gombalan murahan.


"Perbaikin dulu sifat curigaan lo, baru ngomongin perasaan. Pacaran seminggu doang gaya," cebik Mira melampiaskan kesalnya.


Mira sudah menekankan dia bisa ke kelas sendiri tanpanya.


Mirza bersikukuh mengantar sekalian pulang ke mess yang disediakan sekolah.


Irlan perhatikan mereka dari dalam. Apalagi Zafran ambil langkah ke depan pura-pura buang sampah padahal mau nabrak si Mirza dengan sengaja.


"Ups. Sengaja beb."


"Najis."


"Emang ya. Udah jadi mantan sok baik. Pas jadian banyak cengcong."


Mira senyam-senyum dengar celotehan Zafran. Mulutnya mencong, lirikannya sinis.


Mirza menunjuk wajah Zafran. "Lo belum pernah pacaran, kan?"


"Heh, kok tau sih lo?"


"Aura butek lo itu keliatan jelas di mata gue."


"Apa? Butek?" sahut Zafran tak suka.


"Ck. Mending lo kasih energi positif buat orang daripada dibiarin tambah butek gitu. Lagian apa yang lo lakuin sampe warna aura campur-campur kek santen cendol."


Mira mau ketawa tapi takut dosa.


Memang apa yang dilakukan Zafran? Dia sendiri pun tak tahu.


"Santen cendol ... Ya lo cendolnya. Gue aduk-aduk juga lo," balas Zafran.


"Woi, woi, woi! Ada apaan ini ribut-ribut di tengah jalan kek konvoi motor suara lo berdua!"


Surya membelah jalan yang terhalang mereka bertiga.


"Noh!" Surya menunjuk tangga. "Dari sono suara kalian kedengeran kek toa masjid. Ngeributin apaan sih, ikutan dong."


"Gila lo," hardik Dewi dari belakang menyahut. Bukannya dibubarkan malah dia mau gabung ribut.


"Lo masih cinta gak sama dia, Mir?"


"Nggak lah," jawab Mira.


"Dikit," jawab Mirza.


"Jawab barengan tandanya jodoh," dukung Surya.


"Lo nanya siapa manggil "Mir" ada dua nih. Mira sama Mirza, "Mir" siapa yang lo tanya?" Mira tersulut emosi.

__ADS_1


"Namanya juga hampir kembar," pungkas Surya.


"Surya," panggil Dewi.


"Hah?"


"Ketimbang lo manasin mereka mending nyapu apa ngepel kelas. Berfaedah dikit," sarannya.


"Digaji lima juta per jam gue mau."


"Anjir. Jadi CEO aja lo sono!"


"CEO apa anjir? Perusahaan aja gak punya."


"Mimpin KPKP! Komunitas Pecinta Keributan Pasangan!"


"Yah! Gue kira CEO beneran tolol."


"Gini deh. Mira, lo kan gak suka lagi sama Mirza tapi dia masih suka dikit sama lo. Kira-kira ada pertanda clbk gak?" Zafran berkacak pinggang menanyakan sesuatu yang tidak seharusnya diikut campuri.


"Ya gak lah!" tandas Mirza. "Muka gue dah pernah ditonjokin sepupunya dia neh!"


"Ih ngeri. Betul, Mir?" tanya Zafran.


Mira berdecak kasihan dengan mereka. Tak ada pembahasan lain, hubungannya jadi bahan perdebatan.


Mirza seketika beringsut mundur ketika melihat dari arah depan datang Jefri dan Awan berjalan mengobrol serius.


"Jefri!" Suara milik perempuan lain terdengar dari belakang mereka.


Dewi berjinjit supaya bisa tahu siapa yang bisa memanggil Jefri sekeras itu di koridor selain dia dan Mira.


Jefri berbalik sementara Awan terus melangkah menghampiri mereka.


"Jefri move on betulan," sindir Mirza menyunggingkan senyum.


Mira mendelik tajam. "Mereka cuma temen."


"Gak pulang ke mess?" Awan basa-basi.


Mirza cuma membalas tatapan tanpa menjawab.


"Masih mau hidup gak?" tanya Awan lagi.


Jefri putar balik mengikuti Indri membahas sesuatu yang penting dan rahasia.


"Lo berdua kan jago silat. Ajak berantem gih para setan di sini biar gak nyari tumbal lagi," celetuk Surya.


Dewi menghela napas. "Mulut lo kadang ember banget, Sur. Belum lama satu sekolah berduka. Tumbal selanjutnya lo mau?"


"Dih kurang ajar. Emang lo bisa hidup tanpa gue?"


"Bisa banget."

__ADS_1


"Lo bisa gak kasih panduan nih bocah. Gak betah banget gue deket-deket dia. Setan dari sabang sampe merauke pada teleportasi ke Jakarta."


Zafran mengelus dada mencoba sabar. "Ih anjir kalau ngomong sekate-kate."


"Keluarga lo ngelakuin apaan sih?" Sumpah Mirza kepo banget kenapa hawa panas selalu dirasakan tiap berdekatan dengan Zafran.


Anehnya pas bercampur dengan Mira tidak begitu panas. Energi mereka seperti menyambung.


"Sekte sesat kali," tebak Surya.


"Astagfirullah, Sur. Lo pikir mak bapak gue gak punya tuntunan agama? Berdosa banget lo." Zafran memegang dadanya merasa tersakiti mirip istri di sinetron.


Surya istigfar juga. "Astagfirullah, kan gue nebak ******."


"Udah bener lo istigfar, ngapain ada ****** segala di belakang kalimat!" omel Dewi.


"Temen-temen lo begini semua, Mir?" Awan bertanya pada Mira.


Dia yang paling jarang ikut geng mereka.


"Ya begitulah."


"Alhamdulillah gue gak ikut stres."


Awan mengerti betapa gilanya mereka saat menjadi satu dari kali pertama dikenalkan Jefri.


Kondisi semakin tidak kondusif tidak ada Jefri. Mereka makin liar tanpa penengah.


"Lo jangan sering ribut sama Mirza. Kalian berdua gak ada bedanya. Yang satu pemecah belah, yang satu memulai tragedi."


Mereka terdiam Awan pergi usai meninggalkan kalimat yang terkesan sangat dalam.


Begitu dalam bagi Zafran hingga dia berpikir yang mana sebutan untuknya. Dia pemecah belah atau yang memulai tragedi?


Mirza menarik napas panjang. Mau dihajar habis-habisan si Awan tapi ada Mira.


"Dia ngomong apa sih?" Dewi tidak paham.


"Hanya IQ di atas rata-rata yang paham," jawab Surya.


"Oh iya otak kita pas rata-rata ya, gak lebih."


"Lo yang memulai tragedi?" tanya Zafran ke Mirza.


"Gue memecah belah dua sekutu supaya gak jadi tragedi. Tapi lo justru membuka kembali tragedi. Miris banget," sarkas Mirza.


Mirza memegang pundak Mira lalu pergi sendiri untuk pulang.


"Sumpah saraf otak gue nge-blank!" Surya tidak kuat berpikir sendiri menggunakan teori mereka.


Dewi menyandarkan kepalanya ke lengan Surya.


"Lo mewakili kita semua, Sur. Apa kita tanya Jefri langsung?"

__ADS_1


__ADS_2