
Berkumpul di kantin telah menjadi rutinitas mereka. Mira sebetulnya malas makan siang, mau tidur saja.
Kenyataan sesungguhnya ialah menahan ngantuk lebih gampang ketimbang menahan lapar.
Jari telunjuk Zafran mengetuk meja, mencari cara membuat ayahnya balik dalam waktu dekat.
Mereka harus bicara. Ya, sesuai saran Irlan sang kebenaran.
"Masa sih bokap bisa cegah kejadian? Emang bakal ada lagi? No, no. Jangan sampe, Ya Tuhan.. "
Zafran membuka kedua telapak tangan berdoa. Semoga tidak ada lagi yang mengganggunya, merasukinya, apalagi memprovokasi kematiannya seperti para korban selanjutnya.
"Makin lama makin aneh," desis Dewi menyangga kepala mengarah perilaku pria itu.
"Ckck."
Zafran menatap mereka gantian. "Apaan? Lagi berdoa gue."
"Apa doanya?" tanya Dewi baik-baik.
"Si Mirza gimana?" Dia keluar dari pembicaraan.
"Balik ke Bogor lah. Gimana lagi."
Jefri si tukang menyimak obrolan diam menghabiskan mi ayam pangsit.
Surya melirik lelaki berandal di seberang kursinya. "Awan sekarang gabung ke geng kita nih?"
Mira cuma menengok sebentar pas ke kiri tepat Awan duduk.
Dewi mengamati sekitar. "Tumben-tumbenan. Gak perang sapu lagi?"
"Libur," jawab Awan seadanya.
"Jurus silat lo gue perhatiin banyak kemajuan," ucap Irlan.
"Harus lebih banyak lindungi orang," sambar Mira.
Mereka sontak melihat Mira mempertanyakan alasan dia menyinggung perkara kemampuan Awan.
"Ngelindungi diri sendiri belum lolos gimana mau ngelindungi orang lain," kekeh Awan.
__ADS_1
Jefri di sebelahnya merangkul bahu Awan. "Siapa lagi yang ngelindungi kita selain Awan. Cuma dia yang bisa bela diri."
Dewi tertawa canggung terlibat perselisihan para sepupu.
"Juan balik juga?" tanya Surya.
"Masih di Jakarta," ujar Jefri.
"Astagfirullah. Kok gak disuruh langsung pulang?"
"Emang kenapa, Sur?" Irlan tergelak.
"Anjim, ngeri bet deket-deket Juan. Dia emang gitu dari orok?"
Mulai berubah arah perghibahan.
"Lo cocok jadi host acara gosip, Sur."
Bagaimanapun pacar Dewi tetap dapat tepuk tangan meriah dari sahabat-sahabat laknat.
"Tapi serius serem, njrit. Nyali gue liat dia langsung ciut. Japran sama, melipir ke tembok dia."
"Jangan bawa-bawa gue!" omel Zafran.
"Juan lah."
"Tapi kenapa lo nempel sama Jefri?"
"Ya karena Juan gampang emosian. Deket Jefri seenggaknya gue cuma diceramahin kalau buat salah," sahut Mira terpojok ada orangnya di samping.
"Mereka punya kelebihan masing-masing. Menurut gue ... Jefri orang yang legowo, sabar, gak pamrih. Awan kuat, pemilah yang baik, dan pemberani meskipun sebetulnya takut nerima resiko, tapi itu yang jadi nilai tambah. Kalau Juan ... Gue rasa dia punya banyak kekhawatiran."
Irlan mengamati siapa yang berkawan dengannya untuk membatasi pergaulan negatif.
Mengenal mereka tidak begitu buruk. Irlan suka keragaman watak mereka.
"Gue gak sekuat itu," lirih Awan.
Irlan tersenyum. "Lo bilang bisa bunuh diri waktu itu tapi gak lo lakuin. Lo kuat banget, Awan."
"Irlan gak salah," pungkas Jefri.
__ADS_1
"Ketua kelas kita mencerdaskan kehidupan bangsa." Dewi bangga punya Irlan.
"Gue gimana menurut lo?" Zafran penasaran pandangan Irlan padanya apakah sebaik mereka.
"Lo beban, Jap." Mudah sekali Surya menjawab.
"Betul!" Dewi sependapat. "Kita baik hati ngadepin lo kesurupan tiap hari. Lo cengar-cengir gak ngerasa berdosa ngerepotin kita."
"Gue juga gak mau gini terus kali," rajuk Zafran.
"Lo terlalu semangat kejar sesuatu."
Zafran menegang tatkala mata Irlan sempat melirik Mira tanpa disadari yang lain.
"Kejar mimpi? Gak mungkinn!" Dewi yakin seratus persen. "Takdirnya udah tertulis pewaris bisnis keluarga Kusuma!" serunya diangguki Mira.
Makanan Jefri sudah habis. "Sekarang apa yang lagi dikejar?" Dia mengelap bibirnya yang berminyak dengan tisu.
Gelak tawa Zafran mengejutkan mereka.
"Lo kenapa ketawa tiba-tiba sih, anying! Gak ada yang stand up!" Surya lepas sepatu, mau sambit Zafran.
Zafran menjelaskan. "Irlan salah. Gue gak perlu kejar apa-apa. Dari kecil apa yang gue mau selalu datang sendiri."
Irlan tertawa dalam hati, yang dia tunjukkan senyuman penuh arti. Kepalanya manggut-manggut dengar sendiri dari mulut pria itu.
"Gak jelas arah hidup lo ah! Masa nunggu dijemput, gantian lo yang jemput impian itu!" Dewi ngotot.
Awan merasakan getaran aneh antara Zafran dengan Irlan pasalnya sering bertatapan.
Ketika Zafran melihat Irlan senyum tipis dia kelihatan tegang.
Dahi Mira berkerut. Sikunya menyenggol Jefri. "Mereka ngobrolin apaan sih?"
Jefri pun tak tahu. "Nyimak aja."
Awan menghela napas berat. "Yang penting jangan terlalu berharap. Biasanya gampang kecewa."
Awan mengambil dompetnya kemudian pamit ke kelas lebih dulu.
Selagi lewat lapangan pria itu masih kepikiran bahkan dalam perjalanan ke kelas.
__ADS_1
"Gue yakin mereka ngode sesuatu barusan, tapi tentang apa?"