Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bukan Cuma Yuni


__ADS_3

Empat tahun lalu...


Jefri, Mira, dan Yuni adalah teman sekelas yang awalnya biasa-biasa saja.


Mira dan Yuni teman sebangku, Jefri di belakang mereka duduk sendiri.


Mereka berkenalan di hari ospek dan sampai kelas dua tidak terpisah kelasnya.


Juan satu tahun lebih tua, dia kakak kelas mereka di sekolah yang sama di Bogor.


Mira memperkenalkan Yuni pada Juan tanpa mengetahui Jefri memiliki perasaan lebih sebagai teman.


Selama ini Jefri menyukai Yuni diam-diam. Tidak pernah sekali pun dia mengatakan secara gamblang apalagi menggunakan kalimat gombal yang sedang tren kala itu untuk menggoda Yuni.


Jefri rasa cukup menjaga Yuni dari jangkauannya.


Bahkan ketika menyadari Yuni lebih bahagia bersama Juan, dia masih bisa menahan semua perasaannya.


Jefri pikir tidak ada salahnya Yuni menyukai Juan dan mereka tetap menjadi sahabat. Tak ada yang berubah.


Pada masa itu Mira belum bisa melihat makhluk astral, hanya Juan dan Jefri yang peka.


Suatu hari mereka mendadak bersikap sangat protektif pada Mira. Dia pergi ke mana saja diikuti oleh dua pria itu.


Mira baru ke luar kelas Juan sudah di depan pintu. "Mau ke mana?"


"Ke kantin lah!"


"Bareng." Juan menarik tangan Mira yang sebetulnya menunggu Yuni.


Jefri yang tak ingin tertinggal mengejar mereka berdua sampai melupakan Yuni.


"Tungguin!"


Yuni merasa aneh dengan sikap mereka yang terpikirkan olehnya berusaha menjauh.


Kemudian Yuni berusaha mendekati mereka di kantin dengan makan di meja yang sama.


"Yuni, maaf tadi ninggalin kamu. Ditarik dia nih." Mira menunjuk Juan.


"Gapapa kok."


Jefri yang memang pemalu di depan Yuni sejak mengetahui hatinya mencari cara yang baik bagaimana cara bicara untuk hal yang tengah diwanti-wanti keluarga mereka.


Mira pun tidak tahu susunan rencana Juan, Jefri, beserta keluarganya.


"Ehm, Yuni."


Yuni mendongak perlahan. "Kenapa, Jef?"


"Kita bertiga cuti tiga hari mulai besok," ungkap Jefri.


Sekarang adalah hari selasa, terisa rabu, kamis, dan jum'at. Mereka hampir cuti satu pekan.


"Barengan?" tanya Yuni.


"Ada apa sih? Kalian berdua pasti tau, kan?" selidik Mira.


Juan menyela, "Iya, kita bertiga ada liburan keluarga."


Yuni tak bisa apa-apa, meski begitu hatinya lega mereka bilang mau cuti. Setidaknya besok Yuni tidak kehilangan mereka dan bertanya-tanya ke mana mereka sebenarnya.

__ADS_1


Jefri ikut mengangguk sepakat Juan berkata mereka ada liburan keluarga padahal bukan.


**


Di hari sabtu, Yuni amat rindu bertemu mereka dan mengirim pesan mengajak ke perpustakaan dekat sekolah di mana ada semacam tempat makan.


Cuma Mira yang membalas pesan Yuni dan setuju bertemu di sana.


"Mah, Mira mana? Gak ada di kamarnya." Juan menutup kamar Mira.


Satu rumah mereka sedang ada larangan keluar dari rumah karena situasi yang sulit dijelaskan.


Kakek alias Abah Zul mengalami stroke secara tiba-tiba di hari senin karena mendapat guna-guna dari kerabat jauh yang tidak menyukai keluarga mereka.


Hendri, ayah Jefri mewanti-wanti anaknya serta keponakan-keponakan yang tinggal di rumah agar tidak keluar dahulu sebelum diizinkan.


Pasalnya, rumah mereka djegal oleh sosok berbadan sangat besar dan tinggi, bertaring panjang, berbulu hitam lebat, mata merah menyala, serta bertanduk empat di kepala.


Sebetulnya tidak masalah jika keluar rumah sekadar di teras selagi ditemani orang dewasa supaya dijaga.


Yang menjadi masalah apabila keluar pergi jauh dari rumah seorang diri bisa terjadi hal buruk.


Keluarga mereka tidak ingin ada korban lagi setelah Abah Zul.


Tetapi, Mira yang tak tahu menahu masalah yang menimpa mereka lepas dari pandangan.


"Coba telepon." Juan disuruh Hana, ibunya Mira.


Juan hubungi nomor Mira, sayangnya ponsel dia tertinggal di nakas dalam kamar.


"Gak dibawa hapenya," ucap Juan masuk lagi mengambil ponsel Mira membaca pesan dan panggilan terakhir.


"Jef, Mira keluar."


Hendri menyahut, "Kapan? Ayah gak liat dia keluar."


"Anak itu benar-benar... " Faisal mengepalkan satu tangan di atas pahanya. "Cari Mira, Jef. Bawa pulang."


"Kita berdua keluar, Ayah."


"Ya, hati-hati."


Mereka boncengan naik motor ke tempat Mira mau ketemuan sama Yuni.


Kalau tidak macet mereka bertemu di jalan, kalau macet pasti harus sampai sana dan seret Mira pulang.


"Ah, ada-ada aja tuh anak kabur dari rumah segala."


"Dia mungkin lewat pintu belakang, An."


"Sama aja judulnya kabur, Jef."


Ada pintu depan tapi keluar tanpa izin lewat pintu belakang sama dengan kabur.


Mereka berdua sampai di tempat parkir perpustakaan umum.


"Coba telepon si Yuni. Tanya, sama Mira gak dia." Juan melepas helm-nya.


Jefri menelepon Yuni menggunakan ponsel Mira.


"Lagi makan kali mereka, Jef." Juan bergerak ke tempat makan sebelah perpustakaan.

__ADS_1


Jefri menunggu panggilannya diangkat.


"Halo, Yun?"


Juan melompat-lompat dari depan barangkali bisa lihat ke dalam ada Mira dan Yuni.


Mira yang menjawab panggilan Jefri.


"Cepet juga kalian cari kita. Kita baru mau main, Jef. Kalian bukan mau nyuruh gue pulang sekarang, kan?"


Bukan saatnya mengoceh lama. "Lo di mana? Kita tunggu di depan perpustakaan."


"Lo sama Juan, berdua?"


"Iya. Makanya lo buruan ke sini. Atau kita yang jemput lo."


"Gak, gak perlu. Dari sini gue bisa liat cowok pakai sweater abu-abu celana putih sandal hitam. Itu lo kan, Jef?"


Jefri mencari dari mana Mira melihatnya.


"Juan ngapain loncat-loncat depan gedung?" desis Mira keheranan.


Gedung Perpustakaan Umum berada sebelum perempatan jalan besar.


Mira habis dari halte sekolah menemui Yuni. Mereka gandengan hendak menyeberang jalan menghampiri Jefri ke sana.


Yuni melambai-lambaikan tangan lihat Jefri mencari mereka.


Jefri menghela napas. "Tunggu di sana, gue yang kesitu."


"Udah lampu merah, Mir."


Yuni membawa Mira menyeberang sebelum dia mau bilang Jefri-lah yang pergi ke mereka.


Jefri menarik tudung jaket Juan untuk menyeberang ke jalan pertama.


Yuni dan Mira tersenyum sumringah bertemu Jefri dan Juan di seberang jalan.


Terlebih Yuni kira mereka tak bisa datang. Akhirnya kumpul ber-empat.


Mira sempat iri tatapan dua lelaki itu hanya tertuju ke perempuan di sebelahnya.


Jefri tak sengaja berpaling ke kiri di mana jalanan tampak lengang dari jauh sedang lampu merah.


Tiba-tiba muncul mobil berkecepatan tinggi menerobos lampu merah mengarah ke Mira dan Yuni.


Tin! Tin! Tin!


"Mira!" Yuni kaget dari arah kanan mereka melaju mobil sangat kencang.


"Yuni! Awas mobil, Yun!" teriak Juan berlari ke arah mereka bahkan hampir tertabrak pula belum rambu merah kendaraan.


"Yunii!" Jefri ikut berteriak.


Brakk! Bugh!


Mira dan Yuni sama-sama terpental mengguling ke atas mobil dan terjatuh ke aspal, setelah itu mobil banting stir menabrak pohon besar di tepi jalan.


Ngiiiiiing!


Mira mati rasa melihat dari ekor matanya sendiri darah mengalir kemudian tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2