
Hari ini hari terakhir mereka sekolah, besok hari sabtu.
Dewi sering tak sengaja mau menyentuh Mira setiap bertanya. Melihat kondisi Irlan sedikit kurang bagus efek kejadian di kantin Dewi lumayan cemas.
"Kenapa cuma lo yang bisa liat dia?"
Mira menyalin tulisan di papan tulis ke buku. "Mungkin karena takut diusir Jefri."
"Makluk kek gitu bener diusir, Mir." Dewi setuju kalau Jefri usir hantu tampan pemilik dendam.
Mira menengok belakang kanan dan kiri. Sosok pria yang dari kemarin terlihat sudah hilang macam ditelan bumi.
"Liat apaan lo?" Zafran bertanya galak.
Setiap Mira begitu dia pasti cari sesuatu, bukan orang.
"Lo liat Samudra, gak?" tanya si Mira.
Zafran sama Dewi liat-liatan bingung. Gak ada yang namanya Samudra di kelas mereka.
"Itu dia." Mira tersenyum ke arah jendela.
Zafran ikut nengok. "Itu lo sendiri yang manggil makanya liat atau emang gue gak ngeliat?"
"Sableng lo, Mir." Dewi merinding. "Chat Jefri, Jap."
"Hape gue di dalem tas." Zafran mana mau ada di tengah hubungan mereka. "Mira. Lo suka banget sama dia?" Dengar kegantengan yang dibilang Mira sebagai lelaki dia pun tahu bagaimana reaksinya saat bercerita.
"Hm."
Zafran ajak Mira negosiasi. "Bisa gak lo suka gue aja. Yang jelas manusia, napak, sama gantengnya kok."
"Otak lo gak bener deh, Mir." Dewi geleng-geleng kepala.
Mereka berpendapat otak Mira ini sudah dicuci sama sosok pria ber-hoody hitam itu. Makanya dia sering manggil dan tatapan matanya itu beda. Kayak orang yang jatuh cinta banget.
"Irlan masih belum balik?"
Zafran kasihan Irlan masih di klinik karena demam gara-gara syok lihat hantu. Heran, padahal kan kata si Mira dia tampan. Harusnya Irlan biasa saja dong.
Dewi masih saling kirim pesan ke Irlan. "Bentar lagi katanya."
***
__ADS_1
"Udah ... Mending naek deh, Mir."
Zafran dari dalam mobilnya bicara pada Mira yang berdiri di trotoar depan sekolah.
Di depan mobilnya ada Jefri naik motor, tapi distandar samping.
Jefri sudah ajak Mira naik pulang bersama tapi ditolak.
Zafran tahu Mira pasti ngambek kena semprot Jefri gara-gara perkara hantu. Ternyata hantu bisa memberi mereka jarak.
Jefri turun dari motornya, berusaha mengajak Mira pulang lagi.
"Udah sore, Mir. Lo nunggu apaan sih? Angkot? Ojol?"
"Mama," tukasnya.
"Kapan jemputnya? Masih lama?" Jefri lihat sekitar orang-orang makin sedikit.
Mira cuek mengangkat bahu. Dia menendang halus kerikil di bawahnya sambil menunggu Hana.
Dia sudah bilang ke Hana mau dijemput hari ini untuk pulang tanpa beri alasan menolak pulang bersama Jefri.
"Gara-gara cowok itu lagi lo begini sama gue?" sergah Jefri.
Dia mohon Jefri jangan sebut jurig itu lagi karena Mira bisa tambah merajuk.
Jefri bilang kehadiran sosok "pria ber-hoody" itu bisa menjauhkan Mira dari teman-teman pria di kehidupan nyata karena dia menyukai Mira.
"Kenapa lo singkirin dia?"
Pertanyaan Mira membuat Zafran mengusap telinga barangkali salah dengar. Lagian Mira ngomong pelan banget.
Jefri berkacak pinggang. Dia tanya kenapa, lagi. Jelas untuk menghalau hubungan mereka makin dekat.
"Dia sedih, Jep."
"Biarin."
Urusan hantu jahil begini Jefri bisa tega ke Mira. Daripada otaknya makin didominasi oleh sosok itu dan dia diajak mati, lebih susah diusir dong.
Jefri mengeluarkan unek-unek dalam hatinya. "Lo mending deket sama Zafran kek, atau Irlan yang sesama manusia. Gue fine kok ketimbang lo ladenin hantu. Lo belum aja liat sosok aslinya. Boro-boro ganteng, pingsan lo kalau gue tega kasih liat langsung."
Zafran tidak pamer bangga direstui Jefri kalau bisa dekat dengan Mira. Dia kasihan lihat Mira terisak. Semoga saja sadar kalau apa yang dilakukannya tidak begitu bagus dilanjutkan.
__ADS_1
"Itu mereka, kan?"
Dari depan gerbang Dewi menunjuk ketiga orang kenalannya.
"Manusia?" Surya tertawa.
Dewi mendekati mereka, bingung Mira nangis di pinggir jalan sementara ada Jefri dan Zafran di dalam mobil.
"Lo apain si Mira, Jef?"
Dewi memeluk Mira, mengusap punggungnya supaya dia tenang.
Surya mana tahu mereka kenapa, kelas juga terpisah.
"Mama sama Bunda lagi ada di rumah Bogor ketemu Om Pras. Pada takut semalem didatengin lewat mimpi," lanjut Jefri.
"Hah?" Mira dibohongi gitu? Parah banget.
"Tiap lo aneh gini kan mereka langsung lari ke Om Pras. Bukan cuma gue yang nyingkirin, tapi semua keluarga banyak berdoa keselamatan lo. Belum ngeh juga?"
Om Pras itu adik ayah mereka, anak ketiga dari kakek yang masih menetap di rumah Bogor. Usianya menginjak 35 tahun, punya dua anak kecil.
"Kawan, gue balik duluan. Makin gak enak hawa tambah sore," pamit Zafran.
Surya usir dia. "Balik sono lu. Ngereog di dalem mobil gak ada yang nolongin, bahaya."
"Anjir." Mobil Zafran pergi.
Pelan-pelan Dewi membujuk Mira. "Mau pulang sama gue? Gue dijemput sopir."
"Sama Jefri aja." Mira menghampiri Jefri. "Maafin gue, Jef."
Lega menyertai mereka. Dewi gemas sebab hantu mau memisahkan mereka. Ooo tidak bisa.
"Jef, tapi dia bilang mau bawa lo kalau gue usir."
Jefri mendesah, masih ada takut dalam hati Mira.
"Ya udah di sini aja sampe besok, panggil lagi biar dateng." Jefri nantangin Mira.
"Gak mau, takut ah." Mira nempel ke belakang Jefri. "Buruan pulang."
Pasangan yang sesungguhnya justru saling tatap heran dengan dua saudara di depan mereka.
__ADS_1
"Jef. Seandainya Mira bukan sepupu mungkin gak sih lo suka dia?"